
DARI : MAJELIS RASULULLAH
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al-Ankabut: 64)
Proses Melihat
Perbuatan ‘melihat’ disadari dalam sebuah cara yang sangat maju. Photon-photon cahaya, berjalan dari objek, melintas melalui lensa pada bagian depan mata, dimana photon-photon cahaya itu difokuskan dan jatuh, dibalik, pada retina. Di sini, cahaya yang menimpa retina diubah ke dalam sinyal-sinyal elektris yang dikirimkan oleh neuron-neuron ke sebuah titik kecil di bagian belakang otak, yang disebut pusat penglihatan. Setelah serangkaian proses, pusat otak ini merasakan sinyal-sinyal ini sebagai imajinasi/kesan. Perbuatan melihat yang sesungguhnya terjadi pada titik kecil ini di belakang otak dalam gelap-gulita, benar-benar tersekat dari cahaya. (Harun Yahya, The Evolution Deceit, cetakan ke-7, hal.217-218)
Jika ‘melihat’ adalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan otak sebagaimana prosesor pada komputer menafsirkan sinyal-sinyal listrik sebagai suatu gambar -dan suara-, maka apakah kita memerlukan ‘dunia luar’ untuk kita lihat? Pada komputer, kita tidak harus memerlukan ‘dunia luar’ untuk membuat suatu gambar. Sebab kita dapat merekayasa gambar tersebut pada prosesor dengan memasukkan data-data yang akan mengatur sinyal-sinyal listrik. Begitu pula otak kita. Untuk melihat, mendengar, merasakan, mengecap, mencium, kita tidak memerlukan ‘dunia luar’. Sewaktu kita bermimpi, sering kita tidak dapat membedakan antara dunia mimpi dengan dunia nyata. Kita melihat diri kita dan dunia yang kita anggap nyata lengkap dengan warna, suara, tekstur, bau dan rasa. Kita berfikir bahwa kita sedang berada di dunia nyata. Tetapi sewaktu kita terbangun, kita pun sadar bahwa dunia yang baru saja kita lihat hanyalah mimpi, artinya tidak benar-benar ada. Apa yang kita lihat dalam mimpi, hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan oleh otak kita. Jadi hanya dengan menafsirkan sinyal-sinyal listrik tersebut, kita sudah bisa ‘melihat’ Jadi, dunia yang kita lihat sekarang hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan oleh otak kita sebagai ‘dunia nyata’.
Jika kita melihat film The Matrix, Total Recall, kita akan dapat memahami bagaimana dunia yang terlihat nyata dapat direkayasa. Tetapi kemudian bagaimana dengan otak kita?
Siapa yang Melihat?
Otak kita adalah bagian dari ‘dunia nyata’. Artinya ia juga imajinasi. Jika demikian, lalu siapa yang benar-benar melihat? Ruh. Apa yang kita lihat sebagai ‘dunia nyata’ atau ‘dunia luar’ adalah kesan yang diciptakan Allah pada ruh kita. Jadi sewaktu kita terbangun dari mimpi, sesungguhnya kita sedang terbangun di alam mimpi yang lain yang kita sebut ‘alam dunia’. Mungkin diantara kita ada yang pernah berusaha bangun dari mimpinya, sewaktu ia berhasil bangun, ternyata ia pun sadar bahwa ia hanya terbangun di dunia mimpi pula. Lalu ia berusaha untuk bangun lagi, dan akhirnya ia berhasil bangun di alam dunia. Tetapi ternyata alam dunia yang kita huni saat ini juga hanyalah alam imajinasi. Imajinasi yang Allah Ciptakan pada ruh kita.
Tubuh dan Waktu
Kita sering berfikir bahwa yang merasakan sakit, sehat, senang, dan sebagainya adalah tubuh kita. Tetapi sesungguhnya tubuh kita ini hanyalah imajinasi. Di dalam mimpi terkadang kita merasa tubuh kita merasa sakit, tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, dan sebagainya. Tetapi sesungguhnya, tubuh kita yang dilihat oleh teman kita di alam dunia tetap bergerak dan tidak kenapa-kenapa. Semua yang kita rasakan di alam mimpi itu hanya terjadi pada fikiran kita, atau lebih tepatnya hanya dirasakan oleh ruh kita, yang padanya diciptakan segala hal yang kita lihat, kita rasakan, kita sentuh, kita dengar, dsb. Sewaktu kita bermimpi, tubuh yang kita saksikan adalah tubuh imajinasi yang ada di alam mimpi. Tetapi selain kita memiliki tubuh tersebut, kita juga memiliki tubuh lain di alam dunia. Jadi pada saat itu kita ternyata memiliki dua tubuh. Hanya saja kita sedang fokus kepada tubuh yang ada di alam mimpi. Dan kita tidak peduli dengan tubuh kita yang ada di alam dunia. Begitu juga sebaliknya sewaktu kita ada di alam dunia ini kita hanya fokus dan merasakan pada tubuh yang ada di alam dunia.
Apakah kita hanya memiliki dua tubuh? Tidak, kita memiliki banyak tubuh. Di alam dunia, alam mimpi, masa sekarang, masa lampu, masa depan, akhirat, dan masih banyak lagi. Apakah tubuh-tubuh itu sudah ada? Ya. Sewaktu kita bermimpi dan merasa hidup, apakah tubuh kita di alam dunia tidak ada? Tubuh kita di alam dunia itu ada, setidaknya dalam pandangan teman-teman kita yang fokus kepada alam dunia. Tetapi saat itu, kita sedang mengalami pengalaman lain, yaitu alam mimpi. Dan sekarang kita sedang mengalami alam dunia ’saat ini’. Tetapi bukan berarti tubuh kita di alam dunia ‘di masa depan’, alam selanjutnya, ‘di masa lampau’, dan lainnya tidak ada. Semua itu ada, tetapi kita sedang fokus kepada tubuh kita di alam dunia ’saat ini’. Hal inilah yang menyebabkan kita merasakan adanya ‘waktu’. Padahal waktu hanyalah imajinasi. Apa yang kita sebut ’saat ini’ atau ’sekarang’ adalah imajinasi yang kita sedang fokus padanya. Adapun ‘masa lampau’ adalah imajinasi yang kita telah pernah fokus lalu kita tafsirkan pada ’saat ini’ sebagai kenangan. ‘Masa depan’ adalah kesan yang belum pernah kita fokus padanya. Tetapi semua itu -masa lampau, sekarang, masa depan- sudah ada. Hanya saja kita fokus kepada apa yang kita sebut ’saat ini’.
Jika kita melihat film pada menit ke-10, lalu kita pause. Maka apa yang ada sebelum menit ke-10 adalah masa lampau, pada menit ke-10 adalah saat ini, dan setelah menit ke-10 adalah masa depan. Semua itu sudah ada pada keping VCD, tetapi kita sedang fokus kepada menit ke-10. Jadi sesungguhnya, keabadian telah berlangsung.
Dunia Fatamorgana
Dunia yang saat ini kita huni, ternyata hanyalah alam imajinasi. Apa yang ada padanya hanyalah fatamorgana yang menipu. Alam dunia hanyalah mimpi. Dan bahkan semua alam yang kita rasakan adalah mimpi atau imajinasi. Tetapi diantara mimpi-mimpi itu ada mimpi yang lebih nyata dan kekal. Alam dunia lebih nyata dari alam mimpi; dan alam akhirat lebih nyata dari alam dunia.
Apa yang kita rasakan di alam mimpi akan hilang di alam dunia. Jika kita menggenggam sekuntum bunga di alam mimpi, apakah bunga itu akan ada dalam genggaman kita di saat terbangun? Begitu juga apa yang kita ‘genggam’ di alam dunia ini. Sewaktu kita terbangun di alam akhirat, semua itu akan sirna. Dan yang Ada serta Tidak Sirna hanyalah Allah. Jadi Wujud satu-satunya yang Haqiqi hanyalah Allah. Inilah salah satu ma’na kalimat tauhid.
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (Q.S. Yunus: 24)
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Q.S. Ar-Rahman: 26-27)
Untuk Apa Beramal?
Kita perlu memahami bahwa walau dunia ini adalah imajinasi, tetapi hukum fisika, hukum syari’at dan lainnya jelas berbeda dengan hukum fisika dan syari’at pada mimpi. Di alam mimpi kita bisa melayang-layang di udara tanpa gravitasi bumi. Kita juga bisa meminum khamar tanpa berdosa. Kemudian kita juga sering mendengar orang-orang tua dulu ada berkata bahwa jika seseorang bermimpi ketiban bulan itu tandanya ia akan mendapat rizqi besar yang tida di duga-duga di alam dunia setelah ia terbangun. Demikian pula alam dunia, ia menjadi alamat tentang apa yang akan menimpa kita di saat kita ‘terbangun’ di alam selanjutnya. Jika orang tua dulu punya primbon untuk menafsir mimpi, maka Al-Qur`an adalah pedoman kita untuk menafsirkan mimpi dunia. Di dalam Al-Qur`an di jelaskan bahwa jika di dunia kita bertaqwa, maka sewaktu ‘terbangun’ kita akan mendapat keberuntungan (al-falah). Tetapi jika kita ‘bermimpi’ menjadi orang yang ingkar, maka sewaktu kita ‘terbangun’ kita akan mendapat kecelakaan yang besar.
Kemudian, di dalam suatu riwayat dikatakan bahwa penduduk surga dan neraka telah ditentukan. Lalu shahabat bertanya, “Kalau begitu kenapa kita tidak diam saja menunggu taqdir?” Lalu Rasulullah SAAW bersabda, “Beramallah kalian, sesungguhnya kalian dipermudah.” Jadi orang yang telah Allah tetapkan sebagai ahli surga akan Allah gerakkan untuk berbuat tha’at, adapun orang yang telah ditetapkan sebagai ahli neraka akan Allah biarkan dalam berbuat ma’siat. Allah Mahaberkuasa lagi Mahabijaksana.
Maka segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan kita sebagai mu`min dan muslim. Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan kita dari kekafiran dan kefasiqan. Segala puji bagi Allah yang telah menggerakkan kita untuk berbuat tha’at. Tidak ada daya untuk menghindari ma’siat dan tidak ada kekuatan untuk berbuat tha’at kecuali dengan Idzin, Kehendak, Kekuasaan, dan Kasih-Sayang Allah.
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Q.S. Az-Zumar: 10)
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Q.S. Muhammad: 36)
Anggapan Orang Kafir
Orang-orang kafir menganggap bahwa dunia materi ini adalah dunia yang sesungguhnya, dan satu-satunya dunia yang ada. Pandangan seperti ini biasa kita sebut dengan materialisme. Paham ini telah berkembang sejak ribuan tahun silam, sejak manusia mulai ingkar kepada Allah. Kemudian Charles Darwin berusaha membuktikan bahwa paham materialisme itu adalah paham yang haq dan paham Wujudnya Allah adalah paham yang bathil, tidak terbukti dan takhyul belaka.
(Orang-orang kafir berkata:) kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. (Q.S. Al-Mu`minun: 37)
Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Q.S. Al-Jatsiyah: 24)
Pembuktian Ilmiah
Pada abad ke-20 semua pemikiran dari materialisme menjadi gugur. Para materialis beranggapan bahwa dunia tidak diciptakan. Tetapi kemudian teori Big Bang yang didasari oleh bukti ilmiah menyimpulkan: alam semesta tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol.
Dalam bahasa ilmiah, ‘ketiadaan’ diungkapkan dengan kata ‘volume nol’. Dan kaum materialis mengatakan bahwa alam dunia ini adalah nyata. Tetapi ilmu pengetahuan membuktikan bahwa alam dunia hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan fikiran kita. Jadi ajaran Allah itulah yang Haq dan paham materialisme itulah yang bathil, tidak ilmiah, takhyul, primitif, tidak modern.
Kesimpulan
Berdasarkan ajaran Islam dan pembuktian ilmiah, ternyata dunia -yang di dalamnya terdapat materi- bukanlah alam nyata. Dunia hanyalah imajinasi, fatamorgana yang Allah Input pada ruh kita. Lalu bagaimana dengan ruh? Allah Yang Lebih Tahu. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak berpandangan kuno seperti halnya kaum materialis yang tidak percaya akan Adanya Allah.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Q.S. Al-Hadid: 20)
Disarikan dari tulisan-tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)
Eternity Has Already Begun
The Evolution Deceit
Matter: The Other Name for Illusion
Timelessness and the Reality of Fate
dsb
Rujukan dalam Al-Qur`an:
Ali ‘Imron: 117, 185 Al An’am: 32, 70
Al Ankabut: 64 Al Hadid: 20
Muhammad: 36 Yunus: 24
Al Kahfi: 45-46 Luqman: 33
Fathir: 5 Az-Zumar: 10
Ar-Ra’d: 26 Al-Mu`minun: 37
Al-Jatsiyah: 24, 35
Rabu, 17 Desember 2008
KENYATAAN DUNIA NYATA
MENGHARAP RAHMAT ALLAH SWT
OLEH : MAJELIS RASULLULLAH
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, [QS. Ali Imran (3): 133]
Syaikh Ibnu Atho`illah berkata, “Termasuk tanda-tanda bergantung/bersandar kepada amal ialah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika wujudnya dosa/kesalahan”
Sering manusia lebih bersandar kepada amalnya daripada bersandar kepada rahmat Allah. Hal ini dapat dibuktikan, antara lain, ketika ia berbuat satu kema’siatan, ia akan mengingat-ingat amal shalihnya yang dianggap dapat menghapus dosanya. Dan dia tidak begitu ingat akan rahmat Allah. Dia tidak memohon rahmat dan ampunan Allah karena yaqin bahwa amal shalih yang telah dikerjakannya lebih banyak dari dosa-dosanya. Atau mungkin sebaliknya, dia tidak memandang kepada rahmat Allah dengan berkata, “Allah tidak mungkin mengampuni saya, karena dosa saya terlalu banyak sedangkan amal saya terlalu sedikit.” Padahal, Allah mengampuni seseorang tanpa melihat amalnya, tetapi Allah mengampuni seseorang karena rahmat-Nya.
Memang benar bahwa kebaikan Allah selalu turun kepada kita, sedangkan keburukan kita selalu naik kepada Allah. Namun bukan berarti kita harus berputus harapan dari rahmat Allah. Justeru ketika kita menyadari bahwa tidak ada amal yang bisa kita andalkan, dan memang amal kita tidak bisa diandalkan, seharusnya muncul satu kesadaran pula bahwa hanya rahmat Allah saja yang bisa kita andalkan. Ya, hanya rahmat Allah saja satu-satunya harapan kita. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita.
Terkadang manusia juga berfikir bahwa dia akan masuk surga karena amal shalihnya dan bukan karena rahmat Allah. Padahal Nabi menyatakan bahwa kita dapat masuk surga adalah karena rahmat Allah. Amal ibadah kita selama ratusan tahun tidak akan cukup untuk membayar ni’mat penglihatan kita. Bahkan sebagai tanda kesyukuran kita akan setetes ni’mat Allah pun belum cukup. Apalagi jika digunakan untuk membayar tiket ke surga. Jelaslah bahwa kita dapat beribadah karena rahmat Allah berupa iman, Islam, ilmu, kesehatan, dll. Kita dapat mensyukuri suatu ni’mat Allah dengan adanya ni’mat Allah yang lainnya. Bukankah kemampuan kita untuk beribadah dan bersyukur itu juga merupakan pemberian Allah?
Dalam mencari nafkah pun, terkadang kita merasa bahwa rizqi itu datang dari hasil usaha kita. Bagaikan Qarun kita berkata bahwa rizqi itu tergantung pada ilmu dan usaha kita. Padahal ilmu dan usaha hanyalah cara untuk menjadikan rizqi itu halal atau haram, bukan untuk menentukan datangnya rizqi. Rizqi itu datang dari Allah. Maka mintalah kepada-Nya. Ikhtiar adalah sesuatu yang menjadikan rizqi itu halal atau haram. Ikhtiar adalah kita memilih rizqi yang halal atau yang haram. Berusaha dengan cara yang dilarang Allah berarti kita memilih yang haram. Berusaha dengan cara yang tidak dilarang Allah berarti kita memilih yang halal. Rizqi itu telah disediakan bagi kita begitu luasnya. Tinggal kita pilih, yang halal atau yang haram.
Amal bukanlah sandaran yang kuat. Amal itu terbit dari makhluq. Sedangkan makhluq adalah fana. Amal itu sendiri adalah makhluq. Bagaimana mungkin kita akan bersandar kepada makhluq? Bersandarlah kepada Allah yang Kekal. Tidak akan kecewa mereka yang bersandar dan bergantung kepada Allah.
Silahkan Anda bergantung kepada orangtua Anda. Tetapi ingat, orangtua Anda akan mati. Silahkan Anda bergantung kepada perusahaan Anda. Tetapi ingat, perusahaan Anda juga dapat bangkrut. Silahkan bergantung kepada obat. Tetapi ingat, terkadang obat dapat menjadi racun. Dan memang bukan obat yang menyembuhkan penyakit. Banyak obat yang setelah diminum, ternyata tidak ada perubahan pada diri si penderita. Rizqi, kesembuhan, kesehatan, semua itu dari Allah. Begitu pula masuknya seseorang ke surga, itu merupakan rahmat dari Allah. Bukan disebabkan amal shalihnya. Tak ada manusia yang dapat menghindari ma’siat atau pun mampu berbuat tho’at, kecuali dengan rahmat Allah.
Amal shalih yang kita kerjakan setelah berbuat ma’siat bukanlah untuk menghapus dosa. Tetapi untuk mengemis rahmat Allah. Ketika kita berbuat salah kepada seseorang. Lalu kita ingin meminta maaf darinya. Lalu dia berkata, “Berbuatlah ini dan ini..” Maka kita mengerjakannya agar dia berkenan memaafkan kita.
Allah telah membuka lebar-lebar pintu-pintu rahmah dan maghfirah-Nya. Kita dapat memasukinya dari pintu-pintu itu. Sungguh Allah Mahapengampun, namun manusia terkadang suka menzholimi diri sendiri. Apa yang Allah katakan kepada bani Israil ketika mereka melakukan suatu kesalahan? Allah menyuruh mereka agar memasuki suatu gerbang seraya bersujud dan berkata, “Hiththoh.” Jika mereka melakukannya, niscaya Allah mengampuni mereka. Tetapi mereka menggantinya dengan ajaran yang tidak-tidak.
Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”. Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik. [QS. Al-Baqarah (2): 58-59]
Jika kita mau mendapatkan ampunan dari Allah, sebenarnya mudah saja. Banyak ayat-ayat Alqur’an dan Hadits yang mengajarkan bagaimana cara mengharapkan ampunan dan kasih-sayang Allah. Dengan membaca Al-Qur’an, dengan shalat, dengan istighfar, dengan tasbih. Semua amal shalih sebenarnya merupakan cara untuk mengemis rahmat Allah.
Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS. An-Nuur (24): 31]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah (2) : 218]
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, [QS. Fathir (35): 29]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Beliau mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Apa pendapat kamu sekiranya terdapat sebatang sungai di hadapan pintu rumah salah seorang dari kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari sebanyak lima kali. Apakah masih lagi terdapat kotoran pada badannya?” Para Sahabat menjawab: “Sudah pastinya tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya.” Lalu baginda bersabda: “Begitulah perumpamaannya dengan sembahyang lima waktu. Allah menghapuskan segala kesalahan mereka.” [HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi]
Mengemis Kasih (oleh Raihan)
Tuhan, dulu pernah aku menagih simpati
Kepada manusia yang alpa jua buta
Kini terhiritlah aku di lorong gelisah
Luka hati yang berdarah
kini jadi kian parah
Semalam sudah sampai ke penghujungnya
Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu
Tak ingin lagi ‘ku ulangi kembali
gerak dosa yang menghiris hati
Tuhan, dosaku menggunung tinggi
Namun rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
hanyalah setitis ni’mat-Mu di bumi
Tuhan, walau taubat sering ku pungkir
Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Bila selangkah ku rapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaku
BEKAM PENGOBATAN NABI SAW
DARI:Artikel Majelis Rasullallah
Bekam ( cupping / al-hijam ) perkataan “alhijam” berasal dari bahasa arab yang berarti “pelepasan darah kotor” atau dalam bahasa inggris disebut “cupping” dan dalam bahasa melayu dikenal dengan “bekam”. Bekam merupakan tehnik pengobatan sunah Rosululloh, kini dimodernkan dan mengikuti kaidah ilmiah. Untuk mengeluarkan jutaan toksid yang berada di badan kita melalui permukaan kulit. Bekam merupakan cara detoksifikasi ( pengeluaran racun ) yang cepat, aman dan tidak ada efek samping. Apabila badan anda terasa kaku, mudah letih, lesu, pegal-pegal, pusing, sakit kepala, sakit pada persendian, mata berkunang-kunang, serta berbagai keluhan penyakit lain!!! Tahukah anda? Semua itu disebabkan kerena adanya penumpukan toksid (racun tubuh) dan darah kotor serta darah beku (statis darah) dalam tubuh. Maka bekam merupakan pengobatan alternatif yang mujarab untuk mengatasi semua kondisi tersebut.
“Sesungguhnya sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah berbekam” (al-hadits).
PENTINGNYA BEKAM
“Darah merupakan sumber energi manusia untuk hidup, bilamana darah rusak, maka berkuranglah energi serta daya tahan tubuhnya”.
Di era modern ini kita terbiasa mengkonsumsi makanan siap saji, makanan yang mengandung bahan pengawet, zat pewarna, zat pengembang, penyedap rasa, pemanis, minyak, pestisida sayuran, dll, serta pencemaran udara telah mengakibatkan terjadinya penumpukan toksid (racun) dalam tubuh sehingga darah menjadi kotor dan statis (peredaran darah jadi tidak lancar). Kondisi tersebut sedikit demi sedikit akan mengganggu kesehatan fisik sehingga muncul keluhan-keluhan seperti : merasa malas,mudah letih, pegal-pegal, sakit kepala, sakit pada persendian, mata berkunang-kunang, nampak murung, merasa tertekan dan badan terasa kurang sehat. Karena itulah darah kotor harus dikeluarkan. BEKAM merupakan cara terbaik yang dianjurkan oleh Rosululloh S.A.W untuk mengeluarkan darah kotor dalam tubuh.
“Sesungguhnya di dalam berbekam itu terdapat pengobatan“. (Shohih Muslim)
MANFAAT BEKAM
Ada banyak manfaat bekam, antara lain:
- Melancarkan peredaran darah, meringankan badan.
- Mengobati masuk angin, darah tinggi, kolesterol, stroke, jantung, asam urat, sakit pinggang, liver, gatal-gatal, migrain, sakit kepala, sakit mata, impotensi, sinusitis, jerawat, ambeiyen, maag.
- Insomnia, stress, sering mimpi buruk, sering kesurupan, Trauma, rasa takut yang berlebihan, narkoba, kurang gairah.
- Mengeluarkan toksid, angin dan kolesterol berbahaya dalam tubuh.
- Memulihkan fungsi tubuh.
- Menajamkan penglihatan.
- Meningkatkan daya ingat dan kecerdasan.
- Memperbaiki sistem imunitas.
ad-dawaa.info
Jumat, 28 November 2008
Matematika Sedekah
Matematika Sedekah
Oleh:
USTADZ YUSUF MANSUR
PENGANTAR
Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dansedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Wuh, inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para
pelakunya.
Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan-kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. Kepada yang mau peduli dan berbagi.
Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.
Insya Allah, hari demi hari, saya akan menulis tentang sedekah, dan segala apa yang terkait dengan sedekah. Di website ini. Saudara yang melihat, Saudara yang membaca, Saudara yang bisa memetik hikmahnya,
Saya mempersilahkan membagi kepada sebanyak-banyaknya keluarga,kawan dan sahabat Saudara. Barangkali ada kebaikan bersama yang bias diambil. Di website ini pula, Saudara akan bisa Mengambil petikan hadits hari per hari dan ayat hari per hari, yang berkaitan dengan sedekah dan amaliyah terkait, dengan pembahasan singkatnya.
Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakanfadilah-fadilah/keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampaikepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis,adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi, kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat “mukhlishiina lahuddien”, derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.
Matematika Dasar Sedekah
Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?
Ø 10 – 1 = 19
Ø Pertambahan ya? Bukan pengurangan?
Ø Kenapa matematikanya begitu?
Ø Matematika pengurangan darimana?
Ø Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar?
Ø Kenapa bukan 10-1 = 9?
Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas, matematika sederhana yang diambil dari QS. 6: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.
Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya, bukan 9. Melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat. Hasil akhir, atau jumlah akhir, bagi mereka yang mau bersedekah, tentu akan lebih banyak lagi, tergantung Kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar sepuluh kali lipat. Dalam QS. 2: 261, Allah menjanjikan 700x lipat.
Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu bentuknya apa? Bukalah mata hati, dan kembangkan ke-husnudzdzanan, atau positif thinking ke Allah. Bahwa Allah pasti
membalas dengan balasan yang pas buat kita.
Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak
Kita sudah belajar matematika dasar sedekah, dimana setiap kita bersedekah Allah menjanjikan minimal pengembalian sepuluh kali lipat (walaupun ada di ayat lain yg Allah menyatakan akan membayar 2x lipat). Atas dasar ini pula, kita coba bermain-main dengan matematika sedekah yang mengagumkan. Bahwa semakin banyak kita bersedekah, ternyata betul Allah akan semakin banyak juga memberikangantinya, memberikan pengambalian dari-Nya.
Coba lihat ilustrasi matematika berikut ini:
Pada pembahasan yang lalu, kita belajar: 10 - 1 = 19
Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:
1. 10 - 2= 28
2. 10 - 3= 37
3. 10 - 4= 46
4. 10 - 5= 55
5. 10 - 6= 64
6. 10 - 7= 73
7. 10 - 8= 82
8. 10 - 9= 91
9. 10 - 10= 100
Menarik bukan? Lihat hasil akhirnya? Semakin banyak dan semakin banyak. Sekali lagi, semakin banyak bersedekah, semakin banyak penggantian dari Allah.
Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita untuk bersedekah, meringankan langkah untuk bersedekah, dan membuat balasan Allah tidak terhalang sebab dosa dan kesalahan kita.
Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan- kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya,menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. Kepada yang mau peduli dan berbagi.
Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan Insya Allah, hari demi hari, saya akan menulis tentang sedekah, dan segala apa yang terkait dengan sedekah. Di website ini. Saudara yang melihat, Saudara yang membaca, Saudara yang bisa memetik hikmahnya,
saya mempersilahkan membagi kepada sebanyak-banyaknya keluarga, kawan dan sahabat Saudara. Barangkali ada kebaikan bersama yang bias diambil. Di website ini pula, Saudara akan bisa mengambil petikan hadits hari per hari dan ayat hari per hari, yang berkaitan dengan sedekah dan amaliyah terkait, dengan pembahasan singkatnya. Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan fadilah-fadilah/keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis, adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi, kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan sebuah amal. Kepada Allah juga semuanya berpulang Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat “mukhlishiina lahuddien”, derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.
2.5 % Tidaklah Cukup
Saudaraku, barangkali sekarang ini zamannya minimalis. Sehingga ke sedekah juga hitung-hitungannya jadi minimalis. Angka yang biasa diangkat, 2,5%. Kita akan coba ilustrasikan, dengan perkalian sepuluh kali lipat, bahwa sedekah minimalis itu tidak punya pengaruh yang signifikan.
Contoh berikut ini, adalah contoh seorang karyawan yang punya gaji 1jt. Dia punya pengeluaran rutin sebesar 2jt. Kemudian dia bersedekah 2,5% dari penghasilan yang 1jt itu. Maka kita dapat perhitungannya sebagai berikut:
Sedekah: Sebesar 2,5%
2,5% dari 1.000.000 = 25.000
Maka, tercatat di atas kertas:
1.000.000 – 25.000 = 975.000
Tapi kita belajar, bahwa 975.000 bukan hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau sebesar 250.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar:
975.000 + 250.000 = 1.225.000
Lihat, “hasil akhir” dari perhitungan sedekah 2,5% dari 1jt, “hanya” jadi Rp. 1.225.000,-. Masih jauh dari pengeluaran dia yang sebesar Rp. 2jt. Boleh dibilang secara bercanda, bahwa jika dia sedekahnya “hanya” 2,5%, dia masih akan keringetan untuk mencari sisa 775.000 untuk menutupi kebutuhannya.
Coba Sedekah 10 %
Saudara sudah belajar, bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Ketika diterapkan dalam kasus seorang karyawan yang memiliki gaji 1jt dan pengeluarannya 2jt, maka dia hanya mendapatkan pertambahan 250rb, yang merupakan perkalian sedekah 2,5% dari 1jt, dikalikan sepuluh. Sehingga “skor” akhir, pendapatan dia hanya berubah menjadi Rp. 1.225.000. Masih cukup jauh dari kebutuhan dia yang 2jt.
Sekarang kita coba terapkan ilustrasi berbeda. Ilustrasi sedekah 10%.
Sedekah: Sebesar 10% 10% dari 1.000.000 = 100.000 Maka, tercatat di atas kertas: 1.000.000 – 100.000 = 900.000
Kita lihat, memang kurangnya semakin banyak, dibandingkan dengan kita bersedekah 2,5%. Tapi kita belajar, bahwa 900.000 itu bukanlah hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau dikembalikan sebesar 1.000.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 900.000 + 1.000.000 = 1.900.000
Dengan perhitungan ini, dia “berhasil” mengubah penghasilannya, menjadi mendekati angka pengeluaran yang 2jt nya. Dia cukup butuh 100rb tambahan lagi, yang barangkali Allah yang akan menggenapkan.
2.5 ITU CUKUP, KALAU …
Setiap perbuatan, pasti ada balasannya. Dan satu hal yang saya kagumi dari matematika Allah, bahwa Spiritual Values, ternyatab selalu punya keterkaitan dengan Economic Values. Kita akan bahas pelan-pelan sisi ini, sampe kepada pemahaman yang mengagumkan tentang kebenaran janji Allah tentang perbuatan baik dan perbuatan buruk.
Kita sedang membicarakan bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Mestinya, begitu saya ajukan dalam tulisan terdahulu, sedekah kita, haruslah minimal 10%. Dengan bersedekah 10%, insya Allah kebutuhan-kebutuhan kita, yang memang kita hidup di dunia pasti punya kebutuhan, akan tercukupi.
Dari ilustrasi di dua tulisan terdahulu, saya memaparkan bahwa ketika seorang karyawan bersedekah 2,5% dari gajinya yang 1jt, maka “pertambahannya” menjadi Rp. 1.225.000. Yakni didapat dari Rp.975.000, sebagai uang tercatat setelah dipotong sedekah, ditambah dengan pengembalian sepuluh kali lipat dari Allah dari 2,5% nya. Bila sedekah 2,5% ini yang dia tempuh, sedangkan dia punya pengeluaran 2jt, maka kekurangannya teramat jauh. Dia masih butuh Rp. 775.000,-. Maka kemudian saya mengajukan agar kita bersedekah jangan 2,5%, tapi lebihkan. Misalnya 10%.
Saudaraku, ada pernyataan menarik dari guru-guru sedekah, bahwa katanya, sedekah kita yang 2,5% itu sebenarnya tetap akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita, di dunia ini, maupun kebutuhan yang lebih hebat lagi di akhirat, kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain sedekah. Misalnya, bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan selalu berjamaah. Shalat dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya; qabliyah ba’diyah, hajat, dhuha, tahajjud. Bagus juga dalam hubungan dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan sekerja, kawan usaha. Terus, kita punya maksiat sedikit, keburukan sedikit. Bila ini yang terjadi, maka insya Allah, cukuplah kita akan segala hajat kita. Allah akan menambah poin demi poin dari apa yang kita lakukan.
Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal, dan banyak maksiatnya. Jadilah kita orang-orang yang merugi. Skor akhir yang sebenernya sudah bertambah, dengan sedekah 2,5% itu, malah harus melorot, harus tekor, sebab kita tidak menjaga diri. Perbuatan buruk kita, memakan perbuatan baik kita. Tambahi terus amaliyah kita, dan kurangi terus maksiat kita Kalikan Dari Target Supaya Beroleh Lebih.
Saudaraku, ini menyambung tiga tulisan terdahulu. Kasusnya, tetap sama: Seorang karyawan dengan gaji 1jt, yang punya pengeluaran 2jt. Bila karyawan tersebut mau hidup tidak pas-pasan, dan mau dicukupkan Allah, dia harus menjaga dirinya dari keburukan, dan terus memacu dirinya dengan berbuat kebaikan dan kebaikan. Kemudian, lakukan sedekah 10% bukan dari gajinya, melainkan dari pengeluarannya.
Kita lihat ya…
Sedekah 10% dari 2jt (bukan dari gajinya yang 1jt), maka akan didapat angka sedekah sebesar Rp. 200rb. Gaji pokok sebesar 1jt, dikurang 200rb, menjadi tinggal 800rb. Lihat, angka tercatatnya tambah mengecil, menjadi tinggal 800.000.
Tapi di sinilah misteri sedekah yang ajaib. Yang 200rb yang disedekahkan, akan dikembalikan sepuluh kali lipat oleh Allah, atau menjadi 2jt. sehingga skor akhirnya bukan 800rb, melainkan 2,8jt.
Dengan perhitungan di atas, kebutuhannya yang 2jt, malah terlampaui. Dia lebih 800rb. Subhanallah. Apalagi kalau kemudian dia betul-betul mau memelihara diri dari maksiat dan dosa, dan mempertahankan perbuatan baik, maka lompatan besar akan terjadi dalam hidupnya. Sebuah perubahan besar, sungguh-sungguh akan terjadi. Baik kemuliaan hidup, kejayaan, kekayaan, hingga keberkahan dan ketenangan hidup. Sekali lagi, subhanallah.
Sumber = www.wisatahati.com
SETIAP PENYAKIT ADA OBATNYA

SUMBER :http://www.masjidkotabogor.com
Uraian : Sampai saat ini, banyak jenis penyakit yang menurut kajian medis modern tidak ada obatnya atau tidak bisa disembuhkan. Penyakit seperti HIV/AIDS, Diabetes, Demam Berdarah, Hepatitis, Gagal Ginjal, Jantung, Alergi, Influensa, Kista, Kanker, Tumor dan lainnya. Bahkan tidak sedikit dokter yang memberikan obat kepada pasiennya dengan pesan bahwa obat yang diberikan tidak menjamin kesembuhan melainkan hanya mengurangi (menghilangkan) rasa sakit.
Sesungguhnya kenyataan ataupun teori adanya penyakit yang tidak ada obatnya atau tidak bisa disembuhkan bertentangan dengan aqidah Islam. Karena sejak 15 Abad silam, Rasulullah SAW menegaskan, bahwa setiap penyakit ada obatnya dan bisa disembuhkan atas izin Allah SWT, kecuali mati atau tua. Sedangkan ragam obatnya sendiri sudah disediakan (diciptakan) oleh
Maha Penyembuh yakni Allah SWT, begitu pula teori dan praktek pengobatannya secara garis besar maupun detail telah diajarkan Rasulullah SAW selaku teladan utama dalam dunia kedokteran.
Imam Muslim meriwayatkan sabda Rasulullah SAW yang mengatakan: “Masing-masing penyakit pasti ada obatnya. Kalau obat sudah mengenai penyakit, penyakit itu, pasti akan sembuh dengan izin Allah Azza Wajalla”.
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap kali Allah menurunkan penyakit, pasti Allah menurunkan obatnya”. Sementara Allah SWT sendiri yang Maha Berkuasa atas kesembuhan seseorang dari penyakit sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syu’ara, ayat 80: “Dan manakala aku sakit Dia (Allah) yang menyembuhkanku”.
Pakar kedokteran Islam Ibnu Qoyyim Al
AL-Jauziyah dalam kitabnya Ath Thibun An Nabawi mengatakan, ungkapan Nabi: “Setiap penyakit pasti ada obatnya”, memberikan semangat kepada orang yang sakit dan juga dokter (thabib) yang mengobatinya, selain juga mengandung anjuran untuk mencari obat dan menyelidikinya. Karena, jelas Ibnu Qoyyim, kalau orang sakit sudah merasakan pada dirinya satu keyakinan bahwa ada obat yang akan dapat menghilangkan rasa sakitnya, ia akan bergantung pada ruh harapan. Rasa panas dari keputusasaan akan berhasil ia dinginkan sehingga pintu harapan terbuka lebar.
Kalau jiwanya sudah kuat, paparnya, suhu panas insting seseorang akan meningkat. Kalau semangat seperti itu sudah meningkat, maka stamina yang mendukung tubuhnya juga meningkat sehingga mampu mengatasi bahkan mengusir penyakit. Demikian juga bagi dokter itu sendiri, kalau ia sudah meyakini bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, ia juga bisa terus mencari obat dari suatu penyakit dan terus melakukan penelitian.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim Khalilullah pernah bertanya: Ya Rabbi, dari manakah penyakit itu berasal?” Allah menjawab: “Dari-Ku”. Ibrahim kembali bertanya: “Lalu dari mana asal obatnya?” Allah menjawab: “Dari-Ku juga”. Kembali Ibrahim bertanya: “Kalau begitu apa gunanya dokter?” Allah menjawab: “Ia adalah makhluk yang diutus oleh Allah untuk membawa obat dari-Nya”.
Dokter yang dimaksud dalam tulisan ini adalah ahli medis yang mendasarkan ilmu dan metode pengobatannya pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukannya mereka (ahli medis) yang mendasarkan ilmu dan pengobatannya pada teori barat semata tanpa mau menengok metode pengobatan Islami.
Bagi ahli medis atau ahli pengobatan yang berani mengatakan adanya penyakit yang tidak ada obatnya atau tidak bisa disembuhkan –meski dia muslim– hal itu telah melanggar kode etik pengobatan Islami yang meyakini bahwa setiap penyakit ada obatnya dan bisa disembuhkan atas izin Allah SWT. Ahli medis yang meyakini adanya penyakit yang tidak bisa disembuhkan atau tiada obatnya membuktikan bahwa yang bersangkutan dalam kinerjanya sama sekali tidak menggunakan media pengobatan yang dianjurkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Ahli pengobatan yang meyakini adanya penyakit yang tidak ada obatnya atau tidak bisa disembuhkan pada umumnya kerap membuat pasiennya pesimis, stress dan berperan aktif dalam merusak aqidah pasiennya atas ke-Mahakuasaan Allah SWT sebagai Maha Penyembuh.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sebuah sabdanya: “Salah satu diantara sunnahku adalah pengobatan”. Dengan demikian jelaskah bahwa perhatian Islam terhadap dunia medis tiada yang mengungguli. Dan bila saat ini banyak diantara kaum muslim bergantung pada metode pengobatan barat, hal itu akibat kelalaian kaum muslimin sendiri yang enggan menggali, mengamalkan serta mengembangkan pengobatan yang Islami.
Ahli medis yang merujuk pada pengobatan Islami, tentunya selalu memberikan solusi terapi yang efektif dan absolut serta senantiasa membangkitkan optimisme pada pasiennya untuk mencapai kesembuhan. Sebab hal utama yang akan ditanamkan pada pasiennya bahwa setiap penyakit ada obatnya dan bisa disembuhkan atas izin Allah SWT. Lantas dalam praktik pengobatannya selalu membangun komunikasi yang dialogis dan penuh kasih saying, sekaligus berupaya membangkitkan keyakinan akan kesembuhan.
Pada dasarnya metode pengobatan Islami terhindar dari unsur-unsur kedzaliman dan pemikiran komersialisasi belaka, sebab Islam menganjurkan umatnya untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan melarang umatnya tolong-menolong dalam kemungkaran. Pada gilirannya panduan tentang kiat-kiat menjaga kesehatan, pemeliharaan kesehatan serta pencegahan (pengobatan) terhadap berbagai penyakit merupakan bagian penting dari ajaran Islam yang seharusnya diamalkan oleh umat dalam rangka menjadi muslim yang kaffah.
Untuk itu metode pengobatan dan obat-obatan yang telah diresepkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya tidak boleh sedikitpun diragukan, apakah itu Hijamah (bekam), Ruqyah, Madu, Habbah Sauda dan lainnya selama diamalkan sesuai tuntunan syariat.
Melalui pendekatan tersebut, “dokter” dan pasien selalu melakukan praktik pengobatan yang akan semakin meningkatkan kecintaan kedua belah pihak pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Bukan sebaliknya, pengobatan yang dijalankan merujuk pada konsep yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab, pengobatan yang tidak Islami biasanya hanya membuat hubungan yang semu antara ‘dokter’ dan pasien serta tidak memberikan kesembuhan yang sesungguhnya.
Perlu disadari bahwa hakekat kesembuhan bukanlah milik dokter/tabib, lembaga pengobatan ataupun obat, melainkan hak mutlak Allah SWT. Untuk itu berbahagialah mereka yang tengah dirundung sakit tetapi tidak sedikitpun mengeluh dan senantiasa berupaya mendasarkan pengobatan atau penyembuhan melalui metode pengobatan yang diridhai Allah SWT. Wallahu a’lam ...
Dan semuanya karena ALLAH SWT yakinlah.
Senin, 24 November 2008
INFORMASI DI BALIK MATERI DAN LAUHUL MAHFUZH
Tulisan : Harun Yahya - Turki
Informasi… Konsep ini di masa sekarang memiliki makna yang jauh lebih berarti dibandingkan setengah abad yang lalu sekalipun. Para ilmuwan merumuskan sejumlah teori untuk mengartikan istilah informasi. Para ilmuwan sosial berbicara tentang “abad informasi”. Informasi kini tengah menjadi konsep yang amat penting bagi umat manusia.
Penemuan informasi tentang asal-usul alam semesta dan kehidupan itu sendiri lah yang menjadikan konsep informasi ini menjadi begitu penting di dunia modern ini. Kalangan ilmuwan kini menyadari bahwa jagat raya terbentuk dari “materi, energi dan informasi,” dan penemuan ini telah menggantikan filsafat materialistik abad ke-19 yang menyatakan bahwa alam semesta keseluruhannya terdiri dari “materi dan energi” saja.
Lalu, apa arti dari semua ini?
Kami akan jelaskan melalui sebuah contoh, yakni DNA. Semua sel hidup berfungsi berdasarkan informasi genetis yang terkodekan pada struktur rantai heliks ganda DNA. Tubuh kita juga tersusun atas trilyunan sel yang masing-masingnya memiliki DNA tersendiri, dan semua fungsi tubuh kita terekam dalam molekul raksasa ini. Sel-sel kita menggunakan kode-kode protein yang tertuliskan pada DNA untuk memproduksi protein-protein baru. Informasi yang dimiliki DNA kita sungguh berkapasitas sangat besar sehingga jika anda ingin menuliskannya, maka ini akan memakan tempat 900 jilid ensiklopedia, dari halaman awal hingga akhir!
Jadi tersusun dari apakah DNA? Lima puluh tahun yang lalu, para ilmuwan akan menjawab bahwa DNA terdiri atas asam-asam inti yang dinamakan nukleotida dan beragam ikatan kimia yang mengikat erat nukleotida-nukleotida ini. Dengan kata lain, mereka terbiasa menjawabnya dengan menyebutkan hanya unsur-unsur materi dari DNA. Namun kini, para ilmuwan memiliki sebuah jawaban yang berbeda. DNA tersusun atas atom, molekul, ikatan kimia dan, yang paling penting, informasi.
Persis sebagaimana sebuah buku. Kita akan sangat keliru jika mengatakan bahwa sebuah buku hanya tersusun atas kertas, tinta dan jilidan buku; sebab selain ketiga unsur materi ini, adalah informasi yang benar-benar menjadikannya sebuah buku. Informasi lah yang membedakan satu jilid Encyclopedia Britannica dari sekedar sebuah “buku” yang terbentuk dari penyusunan acak huruf-huruf seperti ABICLDIXXGGSDLL. Keduanya memiliki kertas, tinta dan jilidan, tapi yang satu memiliki informasi sedangkan yang kedua tidak memilikinya.
Sumber informasi ini adalah penulis buku tersebut, suatu kecerdasan yang memiliki kesadaran. Karenanya, kita tidak dapat mengingkari
bahwa informasi dalam DNA telah ditempatkan oleh sesuatu yang memiliki kecerdasan.
Informasi, tembok penghalang bagi teori evolusi dan materialisme
Penemuan fakta ini telah menempatkan filsafat materialis dan Darwinisme, yakni penerapan paham materialisme ini pada ilmu alam, di hadapan tembok penghalang besar. Sebab, filsafat materialis menyatakan bahwa semua makhluk hidup hanya tersusun atas materi dan bahwa informasi genetis muncul menjadi ada melalui mekanisme tertentu secara “kebetulan”. Hal ini sebagaimana pernyataan bahwa sebuah buku dapat terbentuk melalui penyusunan kertas dan tinta secara serampangan, acak atau tanpa disengaja.
Materialisme berpijak pada teori “reduksionisme,” yang menyatakan bahwa informasi pada akhirnya dapat direduksi atau disederhanakan menjadi materi. Karena alasan ini, kalangan materialis berkata bahwa tidak ada perlunya mencari sumber informasi di luar materi. Akan tetapi pernyataan ini telah terbukti keliru, dan bahkan kalangan materialis telah mulai mengakui kebenaran ini.
Salah satu pendukung terkemuka teori evolusi, George C. Williams, mengemukakan dalam sebuah tulisannya di tahun 1995 tentang kesalahan materialisme (reduksionisme) yang beranggapan bahwa segala sesuatu terdiri atas materi:
Kalangan ahli biologi evolusionis hingga kini tidak menyadari bahwa mereka bekerja dengan dua bidang yang sedikit banyak berbeda: yakni bidang informasi dan bidang materi… Dua bidang ini tidak akan pernah bertemu pada satu pengertian yang biasanya disebut dengan istilah “reduksionisme” …Gen adalah satu paket informasi, dan bukan sebuah benda.. . Dalam biologi, ketika anda berbicara tentang masalah-masalah seperti gen, genotip dan perbendaharaan gen (gene pools), anda berbicara tentang informasi, bukan realitas fisik kebendaannya… Kurangnya kata-kata yang sama dan semakna yang dapat digunakan untuk menjelaskan keduanya ini menjadikan materi dan informasi berada pada dunia yang berbeda, yang harus dibahas secara terpisah, dan dengan menggunakan istilah mereka masing-masing. 1
Stephen C. Meyer, seorang filsuf ilmu pengetahuan dari Cambridge University dan termasuk yang mengkritisi teori evolusi serta materialisme, mengatakan dalam sebuah wawancara:
Satu hal yang saya lakukan di perkuliahan untuk memahamkan gagasan ini kepada para mahasiswa adalah: saya pegang dua disket komputer. Satu disket ini berisikan software (=informasi), sedangkan yang satunya lagi kosong. Lalu saya bertanya, “Apakah perbedaan berat di antara dua disket komputer ini akibat perbedaan isi informasi yang mereka punyai?” Dan tentu saja jawabannya adalah nol, tidak berbeda, tidak ada perbedaan akibat keberadaan informasi di salah satu disket. Hal ini dikarenakan informasi adalah kuantitas yang tidak memiliki berat. Informasi bukanlah suatu keberadaan materi. 2
Jika demikian, bagaimanakan penjelasan materialis menjelaskan asal-usulnya? Bagaimanakah penyebab yang bersifat materi dapat menjelaskan asal-muasalnya?… Hal ini memunculkan hambatan yang cukup mendasar bagi skenario materialistik evolusionis.
Di abad ke-19, kita berkeyakinan bahwa terdapat dua keberadaan dasar dalam ilmu pengetahuan: Materi dan Energi. Di awal abad ke-21, kita kini mengakui bahwa terdapat keberadaan dasar yang ketiga, dan ini adalah informasi. Informasi tidak dapat direduksi atau disederhanakan menjadi materi, tidak pula menjadi energi.
Semua teori yang dikemukakan di abad kedua puluh untuk menyederhanakan informasi menjadi materi – sebagaimana teori asal-usul kehidupan secara acak, pengaturan materi secara mandiri, teori evolusi dalam biologi yang berusaha menjelaskan informasi genetis spesies melalui mekanisme mutasi dan seleksi alam – telah gagal. Profesor Phillip Johnson, pengritik terkemuka Darwinisme, menulis:
Dualitas yang sesungguhnya ada pada setiap tingkatan dalam biologi adalah dualitas materi dan informasi. Kalangan filsuf akal-ilmu pengetahuan tidak mampu memahami sifat asli informasi dikarenakan mereka beranggapan bahwa informasi ini dihasilkan oleh sebuah proses materi (yakni. sebagaimana konsep Darwin) dan, karenanya, secara mendasar tidak berbeda dengan materi. Tapi ini hanyalah prasangka yang akan terhapuskan dengan pemikiran yang jujur. 3
Sebagaimana pernyataan Johnson, “informasi bukanlah materi, meskipun informasi ini tercetak pada materi. Informasi ini berasal dari suatu tempat lain, dari suatu kecerdasan…” Dr. Werner Gitt, direktur dan profesor pada German Federal Institute of Physics and Technology, mengungkapkan pemikiran yang hampir sama:
oleh : DR. Harun Yahya
Sistem pengkodean senantiasa memerlukan proses kecerdasan non-materi. Materi yang bersifat fisik tidak dapat menghasilkan kode informasi. Semua pengalaman menunjukkan bahwa tiap-tiap informasi kreatif menunjukkan keberadaan usaha mental dan dapat dirunut hingga ke sang pemberi gagasan yang menggunakan kehendak bebasnya sendiri, dan yang memiliki akal yang cerdas… Tidak ada hukum alam yang pernah diketahui, tidak pula proses, tidak pula urutan peristiwa yang pernah diketahui yang dapat menyebabkan informasi muncul dengan sendirinya pada materi… 4
Sebagaimana telah kita perbincangkan di atas, sebuah buku terbentuk dari kertas, tinta dan informasi yang dikandungnya. Sumber informasi ini adalah kecerdasan sang penulis.
Dan ada satu lagi hal penting. Kecerdasan ini ada sebelum keberadaan unsur-unsur materi dan kecerdasan inilah yang menentukan bagaimana menggunakan unsur-unsur materi tersebut. Sebuah buku pertama kali muncul dalam benak seseorang yang akan menulis buku tersebut. Sang penulis menggunakan perangkaian logis dan dengannya menghasilkan kalimat-kalimat. Kemudian, di tahap kedua, ia mewujudkan gagasan ini menjadi bentuk materi. Dengan menggunakan mesin ketik ata komputer, ia mengubah informasi yang ada dalam otaknya menjadi huruf-huruf. Setelah itu, huruf-huruf ini sampai kepada tempat percetakan dan membentuk sebuah buku.
Sampai di sini, kita telah sampai pada kesimpulan berikut: “Jika materi mengandung informasi, maka materi ini telah dirangkai sebelumnya oleh sebuah kecerdasan yang memiliki informasi tersebut. Pertama, terdapat sebuah kecerdasan. Kemudian pemilik kecerdasan ini mengubah informasi tersebut menjadi materi, dan, dengan demikian, menciptakan sebuah desain.”
Kecerdasan yang ada sebelum keberadaan materi
Demikianlah, sumber informasi di alam tidak mungkin materi itu sendiri, sebagaimana pernyataan kaum materialis. Sumber informasi bukanlah materi, akan tetapi sebuah Kecerdasan di luar materi. Kecerdasan ini telah ada sebelum keberadaan materi. Kecerdasan ini menciptakan, membentuk dan menyusun keseluruhan alam semesta yang bersifat materi ini.
Biologi bukanlah satu-satunya cabang ilmu pengetahuan yang menghantarkan kita pada kesimpulan ini. Astronomi dan fisika abad kedua puluh juga membuktikan adanya keselarasan, keseimbangan dan rancangan menakjubkan di alam. Dan ini mengarahkan pada kesimpulan adanya suatu Kecerdasan yang telah ada sebelum keberadaan jagat raya, dan Dialah yang telah menciptakannya.
Ilmuwan Israel, Gerald Schroeder, yang telah mempelajari fisika dan biologi di sejumlah universitas seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT), sekaligus pengarang buku The Science of God (Ilmu Pengetahuan Tuhan), membuat sejumlah pernyataan penting tentang hal ini. Dalam buku barunya yang berjudul The Hidden Face of God: Science Reveals the Ultimate Truth (Wajah Tersembunyi Tuhan: Ilmu Pengetahuan Mengungkap Kebenaran Hakiki), ia menjelaskan kesimpulan yang dicapai oleh biologi molekuler dan fisika quantum sebagaimana berikut:
Suatu kecerdasan tunggal, kearifan universal, melingkupi alam semesta. Sejumlah penemuan oleh ilmu pengetahuan, yang mengkaji tentang sifat quantum dari materi-materi pembentuk atom (sub-atomik), telah membawa kita sangat dekat kepada pemahaman yang mengejutkan: seluruh keberadaan merupakan perwujudan dari kearifan ini. Di laboratorium kita merasakannya dalam bentuk informasi yang pertama-tama terwujudkan secara fisik dalam bentuk energi, dan kemudian terpadatkan menjadi bentuk materi. Setiap partikel, setiap wujud, dari atom hingga manusia, tampak mewakili satu tingkatan informasi, satu tingkatan kearifan. 5
Menurut Schroeder, temuan-temuan ilmiah di zaman kita mengarah pada pertemuan antara ilmu pengetahuan dan agama pada satu kebenaran yang sama, yakni kebenaran Penciptaan. Ilmu pengetahuan kini tengah menemukan kembali kebenaran ini, yang sebenarnya telah diajarkan agama-agama wahyu kepada manusia selama berabad-abad.
LAUHUL MAHFUZH (KITAB YANG TERPELIHARA)
Sejauh ini, kita telah menyaksikan kesimpulan ilmu pengetahuan tentang alam semesta dan asal-usul makhluk hidup. Kesimpulan ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta dan kehidupan itu sendiri diciptakan dengan menggunakan cetak biru informasi yang telah ada sebelumnya.
Kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan modern ini sungguh sangat bersesuaian dengan fakta tersembunyi yang tercantum dalam Alquran sekitar 14 abad yang lalu. Dalam Alquran, Kitab yang diturunkan kepada manusia sebagai Petunjuk, Allah menyatakan bahwa Lauhul Mahfuzh (Kitab yang terpelihara) telah ada sebelum penciptaan jagat raya. Selain itu, Lauhul Mahfuzh juga berisi informasi yang menjelaskan seluruh penciptaan dan peristiwa di alam semesta.
Lauhul Mahfuzh berarti “terpelihara” (mahfuzh), jadi segala sesuatu yang tertulis di dalamnya tidak berubah atau rusak. Dalam Alquran, ini disebut sebagai “Ummul Kitaab” (Induk Kitab), “Kitaabun Hafiidz” (Kitab Yang Memelihara atau Mencatat), “Kitaabun Maknuun” (Kitab Yang Terpelihara) atau sebagai Kitab saja. Lauhul Mahfuzh juga disebut sebagai Kitaabun Min Qabli (Kitab Ketetapan) karena mengisahkan tentang berbagai peristiwa yang akan dialami umat manusia.
Dalam banyak ayat, Allah menyatakan tentang sifat-sifat Lauhul Mahfuzh. Sifat yang pertama adalah bahwa tidak ada yang tertinggal atau terlupakan dari kitab ini:
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kcuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daupun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh). (QS. Al An'aam, 6:59)
Sebuah ayat menyatakan bahwa seluruh kehidupan di dunia ini tercatat dalam Lauhul Mahfuzh:
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS. Al An'aam, 6:38)
Di ayat yang lain, dinyatakan bahwa “di bumi ataupun di langit”, di keseluruhan alam semesta, semua makhluk dan benda, termasuk benda sebesar zarrah (atom) sekalipun, diketahui oleh Allah dan tercatat dalam Lauhul Mahfuzh:
Kami tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun seeasr zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebi besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh). (QS. Yunus, 10:61)
Segala informasi tentang umat manusia ada dalam Lauhul Mahfuzh, dan ini meliputi kode genetis dari semua manusia dan nasib mereka:
(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: “Ini adalah suatu yang amat ajaib”. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat). (QS. Qaaf, 50:2-4)
Ayat berikut ini menyatakan bahwa kalimat Allah di dalam Lauhul Mahfuzh tidak akan ada habisnya, dan hal ini dijelaskan melalui perumpamaan:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqman, 31:27)
KESIMPULAN
Fakta-fakta yang telah kami paparkan dalam tulisan ini membuktikan sekali lagi bahwa berbagai penemuan ilmiah modern menegaskan apa yang diajarkan agama kepada umat manusia. Keyakinan buta kaum materialis yang telah dipaksakan ke dalam ilmu pengetahuan ternyata malah ditolak oleh ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sejumlah kesimpulan ilmu pengetahuan modern tentang “informasi” berperan untuk membuktikan secara obyektif siapakah yang benar dalam perseteruan yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Perselisihan ini telah terjadi antara paham materialis dan agama.
Pemikiran materialis menyatakan bahwa materi tidak memiliki permulaan dan tidak ada sesuatu pun yang ada sebelum materi. Sebaliknya, agama menyatakan bahwa Tuhan ada sebelum keberadaan materi, dan bahwa materi diciptakan dan diatur berdasarkan ilmu Allah yang tak terbatas.
Fakta bahwa kebenaran ini, yang telah diajarkan oleh agama-agama wahyu – seperti Yahudi, Nasrani dan Islam – sejak permulaan sejarah, telah dibuktikan oleh berbagai penemuan ilmiah, merupakan petunjuk bagi masa berakhirnya atheis yang sebentar lagi tiba. Umat manusia semakin mendekat pada pemahaman bahwa Allah benar-benar ada dan Dialah yang “Maha Mengetahui.” Hal ini sebagaimana pernyataan Alquran kepada umat manusia dalam ayat berikut:
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauhul Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al Hajj, 22:70)
Sumber rujukan
1. George C. Williams. The Third Culture: Beyond the Scientific Revolution. (ed. John Brockman). New York, Simon & Schuster, 1995, hal.42-43
2. Stephen Meyer, "Why Can't Biological Information Originate Through a Materialistic Process", Unlocking the Mystery of Life, DVD, Produced by Illustra Media, 2002
3. Phillip Johnson, The Wedge of Truth: Splitting the Foundations of Naturalism, Intervarsity Press, Illinois, 2000, hal. 123
4. Werner Gitt. In the Beginning Was Information. CLV, Bielefeld, Germany, hal. 107, 141
5. Gerald Schroeder, The Hidden Face of God, Touchstone, New York, 2001, hal. xi
Selasa, 11 November 2008
Tak Ada Ciptaan Allah yang Sia Sia
Habib Sholeh Ibn Achmad Ibn Salim Alaydrus:
Dalam surat Al-Baqarah, Allah SWT menyebutkan bahwa dalam semua ciptaan-Nya tidaklah sia-sia, bahkan seekor nyamuk sekalipun atau bahkan yang lebih rendah daripada itu. Orang mukmin akan beriman terhadap hal itu dan memandangnya sebagai sesuatu yang haq (benar), tetapi si kafir akan mengingkari dan bahkan menganggap tidak perlu Allah mengumpamakan dengan nyamuk atau sebagainya. Ayat-ayat berikut berbicara tentang perumpamaan dan jawaban Allah atas komentar orang-orang kafir tentang hal tersebut. Marilah kita perhatikan kandungan ayat-ayat itu dan penafsiran para ulama.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 26-27 (yang artinya):
"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah. Adapun orang-orang yang beriman meyakini bahwa perumpamaan itu benar-benar dari Tuhan mereka, sementara mereka yang kafir mengatakan, 'Apa maksud Allah menjadikan perumpamaan ini?' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. Yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah meneguhkannya, memutuskan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka unntuk menghubungkannya, dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Baqarah: 26-27).
Ketika Allah memberikan dua perumpamaan tentang orang-orang munafik dalam firman-Nya, "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api" dan "Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit", orang-orang munafik berkata, "Allah terlalu suci dari membuat perumpamaan-perumpamaan seperti ini." Maka Allah menurunkan ayat ini sampai firman-Nya, "Mereka itulah orang-orang yang rugi."
Qatadah mengatakan: Ketika Allah menyebut perihal berupa laba-laba atau lalat, orang-orang musyrik berkomentar, "Ada apa denga laba-laba dan lalat sehingga harus disebut-sebut?" Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah." Artinya, Allah tidak malu menyatakan kebenaran dengan menggunakan sesuatu yang sedikit atau banyak, atau yang dipandang kecil atau besar.
Mengenai makna firman Allah, "Atau yang lebih rendah dari itu", terdapat dua pendapat. Pertama, yang lebih kecil atau lebih remeh lagi. Ini pendapat sebagian besar muhaqqiq, kritikus. Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud adalah yang lebih besar daripada itu.
Qatadah bin Di'amah dan Ibnu Jarir adalah sebagian di antara yang berpendapat demikian. Pendapat tersebut dikuatkan oleh haidits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Ketika seorang muslim terkena dud atau yang lebih besar dari itu, ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu kesalahannya."
Jadi, Allah memberitakan bahwa Dia tidak memandang remeh sesuatu yang diciptakan-Nya sebagai perumpamaan meskipun dipandang hina dan kecil, seperti lalat. Sebagaimana tidak enggan menciptakannya, Allah pun tidak enggan membuatnya menjadi perumpamaan, sebagaimana perumpamaan lalat dan laba-laba dalam firman-Nya, "Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat mencipkakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemahlah yang disembah." (QS Al-Hajj: 73).
Begitu juga perumpamaan yang disebutkan dalam ayat-ayat lainnya berikut ini:
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui." (QS Al Ankabut: 41).
"Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun." (QS An-Nahl: 75).
"Dan Allah membuat pula perumpamaan: dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya itu, dan tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan?" (QS An-Nahl: 76)
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS Al Ankabut: 43).
Seorang ulama salaf mengatakan, "Jika aku mendengar suatu perumpamaan dalam Al-Quran dan tidak dapat memahaminya, aku menangisi diriku, karena Allah telah berfirman, 'Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu."
Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud 'Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka' adalah, mereka mengetahui bahwa itu merupakan kalam Allah dan dating dari sisi-Nya.
Firman Allah, "Tetapi mereka yang kafir mengatakan: Apa maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" adalah seperti firman-Nya, "Dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang ada di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir mengatakan, 'Apa yang dikkehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk pada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan dia sendiri." (QS Al Muddatstsir: 31)
Allah pun berfirman di sini, "Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk, dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik."
Ibnu Abbas mengatakan yang dimaksud firman Allah, "Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan", adalah orang-orang munafik, sedangkan "Dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk" adalah orang-orang mukmin.
Allah menambahkan kesesatan kepada orang-orang munafik di samping kesesatan yang telah ada pada mereka karena kedustaan mereka atas apa yang telah mereka ketahui dengan sebenarnya mengenai perumpamaanyang Allah buat itu. Sebaliknya, Allah menambahkan petunjuk dan keimanan kepada orang-orang mukmin di samping petunjuk dan keimanan yang telah ada pada mereka disebabkan mereka membenarkan perumpamaan itu.
Mengenai firman Allah selanjutnya, "Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik." Abu Al'Aliyah mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang munafik. Pengertian fasik secara bahasa adalah orang yang keluar dari ketaatan. Orang fasik meliputi orang kafir, dan orang yang bermaksiat – sekalipun mukmin. Tetapi kefasikan seorang kafir lebih berat dan lebih buruk lagi. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang fasik yang kafir.
Dalilnya, mereka digambarkan dalam ayat Al-Quran sebagai berikut, "Yaitu orang-orang yan melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan kepada mereka untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi."
Ini adalah sifat-sifat orang kafir yang sangat berbeda dengan sifat-sifat orang mukmin, sebagainama Allah berfirman, "Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran. Yaitu orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian." (QS Ar-Rad 19-20), sampai firman-Nya, "Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutuan, dan bagi mereka tempat kediaman yang bunik (Jahanam)." (QS Ar-Ra'd: 25).
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna 'ahd (janji) yang terdapat dalam ayat tersebut yang dikatakan, diputuskan oleh orang-orang fasik. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah pesan Allah kepada para makhluk dan perintah-Nya kepada mereka agar menaati Allah, dan larangan-Nya agar tidak mendurhakai Allah sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab suci dan melalui lisan para rasul. Mereka memutuskannya berarti mereka meninggalkan hal-hal tersebut.
Para ulama berpendapat, itu adalah pada orang-orang kafir dan munafik dari kalangan ahlul kitab. Janji Allah yang mereka rusak adalah yang Dia tetapkan dalam kitab Taurat agar mereka mengamalkan apa yang ada di dalamnya, mengikuti Muhammad SAW apabila mereka telah diutus, membenarkan apa yang dibawa olehnya dari Tuhan mereka. Mereka memutuskan janji itu dengan berlaku ingkar terhadap beliau padahal mereka telah mengetahui hakikatnya dan mereka menyembunyikan pengetahuan tentang itu dari manusia. Inilah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir dan juga merupakan pendapat Muqatil bin Hayyan.
Mengenai firman Allah (yang artinya) "Dan mereka memutuskan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka untuk menghubungkannya." Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah hubungan kekeluargaan sebagaimana yang disebutkan oleh Qatadah, seperti juga firman Allah, "Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa, kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (QS Muhammad: 22). Ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir. Menurut pendapat lain, yang dimaksud adalah lebih umum daripada itu, yakni segala yang Allah perintahkan untuk menghubungkan dan melakukannya.
Muqatil mengatakan bahwa firman Allah, "Mereka itulah orang-orang yang rugi.", maksudnya merugi di akhirat, sebagaimana yang Allah firmankan, "Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam)."
Pada ayat 28 dari surat Al-Baqarah itu, Allah berfirman (yang artinya):
"Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan."
Sebagai hujjah atas keberadaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan bahwa dia merupakan Pencipta hamba-hamba-Nya, Allah berfirman, "Mengapa kalian kafir kepada Allah?" Artinya: Mengapa kalian mengingkari keberadaan-Nya atau menyembah yang lain, padahal, "Kalian kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian." Maksudnya: Kalian sebelumnya tidak ada lalu Allah mengadakan kalian sebagaimana yang Allah firmankan, "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini apa yang mereka katakana." (QS Ath-Thur: 35-36).
Ibn Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud 'Kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian' adalah kalian tadinya mati dalam sulbi orang tua masing-masing, tidak berupa apa-apa sampai Allah menciptakan kalian, kemudian Dia mematikan kalian dengan kematian yang sebenarnya, lalu Allah hidupkan kalian kembali ketika Dia membangkitkan kalian. Ibnu Abbas juga mengatakan bahwa ini seperti firman Allah dalam ayat lain, "Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan Engkau telah menghidupkan kami dua kali pula." (QS Al-Mu'min: 11).
Adh-Dhahhak menyebutkan keterangan dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah itu: Sebelum diciptakan menjadi manusia, kalian berupa tanah. Keberadaan yang pertama itu merupakan kematian. Kemudian Allah menciptakan kalian. Ini merupakan kehidupan. Selanjutnya Dia mematikan dan mengembalikan kalian ke dalam kubur. Ini kematian yang kedua. Setelah itu, Allah membangkitkan kalian di hari kiamat. Itulah kehudupan yang kedua. Jadi, ada dua kematian dan dua kehidupan.
Pada ayat ke 29 surat Al-Baqarah, Allah berfirman (yang artinya):
"Dia-lah Allah, yamg menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian, dan Dia berkehendak bersemayam di langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuat.,"
Setelah menyebutkan keterangan yang menunjukkan bahwa Allah-lah yang menciptakan mereka dan segala yang mereka saksikan pada diri mereka, Dia menyebutkan bukti lain yang mereka saksikan berupa penciptaan langit dan bumi. Maka Allah berfirman sebagaimana tersebut di atas. Did lam ayat ini terdapat petunjuk bahwa Allah lebih dulu menciptakan bumi, kemudian baru menciptakan langit ke tujuh.
Mengenai firman Allah," Dia-lah Allah, yamg menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian." Mujahid mengatakan, Allah menciptakan bumi sebelum menciptakan langit. Setelah Dia menciptakan bumi, muncul asap darinya. Di dalam ayat lain disebutkan, "Kemudian Dia bersemayam di langit dan langit itu masih merupakan asap." (QS Fushshilat: 11). Mujahid juga mengatakan, sebagiannya berada di atas sebagian yang lain. Sedangkan pada tujuh lapis bumi, sebagiannya bertada di bawah sebagian yang lain.
Dinukilkan dari Tafsir Ibnu Katsir. Wallahu A'lam.
Kembali ke atas
Indeks > Artikel > Nasihat Kyai > Habib Soleh Renungan Nuzulul Quran 26sep07