
Mengupas sejarah reformasi ekonomi Umar bin Abdul Aziz, dan mengapa kita gagal?
Oleh : Taufik Muhammad
Umar Bin Abdul Aziz muncul di persimpangan sejarah umat Islam di bawah kepemimpinan dinasti Bani Umayyah. Pada penghujung abad pertama hijriyah, dinasti ini memasuki usianya yang keenam puluh, atau dua pertiga dari usianya, dan telah mengalami pembusukan internal yang serius. Umar sendiri adalah bagian dari dinasti ini, hampir dalam segala hal. Walaupun pada dasarnya ia seorang ulama yang telah menguasai seluruh ilmu ulama-ulama Madinah, tapi secara pribadi ia juga merupakan simbol dari gaya hidup dinasti Bani Umayyah yang korup, mewah dan boros.
Itu membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memimpin ketika keluarga kerajaan memintanya menggantikan posisi Abdul Malik Bin Marwan setelah beliau wafat. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, tapi juga karena ia sendiri merupakan bagian dari persoalan tersebut. Ia adalah bagian dari masa lalu. Tapi pilihan atas dirinya, bagi keluarga kerajaan, adalah sebuah keharusan. Karena Umar adalah tokoh yang paling layak untuk posisi ini.
Ketika akhirnya Umar menerima jabatan ini, ia mengatakan kepada seorang ulama yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri, "Aku benar-benar takut pada neraka." Dan sebuah rangkaian cerita kepahlawanan telah dimulai dari sini, dari ketakutan pada neraka, saat beliau berumur 37 tahun, dan berakhir dua tahun lima bulan kemudian, atau ketika beliau berumur 39 tahun, dengan sebuah fakta: reformasi total telah dilaksanakan, keadilan telah ditegakkan dan kemakmuran telah diraih. Ulama-ulama kita bahkan menyebut Umar Bin Abdul Aziz sebagai pembaharu abad pertama hijriyah, bahkan juga disebut sebagai khulafa rasyidin kelima.
Mungkin indikator kemakmuran yang ada ketika itu tidak akan pernah terulang kembali, yaitu ketika para amil zakat berkeliling di perkampungan-perkampungan Afrika, tapi mereka tidak menemukan seseorang pun yang mau menerima zakat. Negara benar-benar mengalami surplus, bahkan sampai ke tingkat dimana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan warga pun ditanggung oleh negara.
Memulai dari Diri Sendiri, Keluarga dan Istana Umar Bin Abdul Aziz menyadari dengan baik bahwa ia adalah bagian dari masa lalu. Ia tidak mungkin sanggup melakukan perbaikan dalam kehidupan negara yang luas kecuali kalau ia berani memulainya dari dirinya sendiri, kemudian melanjutkannya pada keluarga intinya dan selanjutnya pada keluarga istana yang lebih besar. Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Dengan tekad itulah ia memulai sebuah reformasi besar yang abadi dalam sejarah.
Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.
Setelah selesai dengan diri sendiri, ia melangkah kepada keluarga intinya. Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, "Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai." Tapi istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan memberika dua pilihan kepada anak-anak, "Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama."
Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan. Keluarga istana melakukan protes keras, tapi Umar tetap tegar menghadapi mereka. Hingga suatu saat, setelah gagalnya berbagai upaya keluarga istana menekan Umar, mereka mengutus seorang bibi Umar menghadapnya.
Boleh jadi Umar tegar menghadapi tekanan, tapi ia mungkin bisa terenyuh menghadapi rengekan seorang perempuan. Umar sudah mengetahui rencana itu begitu sang bibi memasuki rumahnya. Umar pun segera memerintahkan mengambil sebuah uang logam dan sekerat daging. Beliau lalu membakar uang logam tersebut dan meletakkan daging diatasnya. Daging itu jelas jadi "sate." Umar lalu berkata kepada sang bibi: "Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memuaskan keserakahan kalian? Berhentilah menekan atau merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan reformasi ini."
Langkah pembersihan diri, keluarga dan istana ini telah meyakinkan publik akan kuat political will untuk melakukan reformasi dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam pemberihan KKN. Sang pemimpin telah telah menunjukkan tekadnya, dan memberikan keteladanan yang begitu menakjubkan.
Gerakan Penghematan
Langkah kedua yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz adalah penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Langkah ini jauh lebih mudah dibanding langkah pertama, karena pada dasarnya pemerintah telah menunjukkan kredibilitasnya di depan publik melalui langkah pertama. Tapi dampaknya sangat luas dalam menyelesaikan krisis ekonomi yang terjadi ketika itu.
Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.
Simaklah sebuah contoh bagaimana penyederhanaan sistem administrasi akan menciptakan penghematan. Suatu saat gubernur Madina mengirim surat kepada Umar Bin Abdul Aziz meminta tambahan blangko surat untuk beberapa keperluan adminstrasi kependudukan. Tapi beliau membalik surat itu dan menulis jawabannya, "Kaum muslimin tidak perlu mengeluarkan harta mereka untuk hal-hal yang tidak mereka perlukan, seperti blangko surat yang sekarang kamu minta."
Redistribusi Kekayaan Negara
Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.
Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya demand atau permintaan dari masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya suplai. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tapi juga dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat makro.
Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa "negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda."
Mengapa sejarah tak berulang?
Sejarah selalu hadir di depan kesadaran kita dengan potongan-potongan zaman yang cenderung mirip dan terduplikasi. Pengulangan-pengulangan itu memungkinkan kita menemukan persamaan-persamaan sejarah, sesuatu yang kemudian memungkinkan kita menyatakan dengan yakin, bahwa sejarah manusia sesungguhnya diatur oleh sejumlah kaidah yang bersifat permanen. Manusia, pada dasarnya, memiliki kebebasan yang luas untuk memilih tindakan-tindakannya. Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan akibat dari tindakan-rindakannya. Tetapi karena kapasitas manusia sepanjang sejarah relatif sama saja, maka ruang kemampuan aksinya juga, pada akhirnya, relatif sama.
Itulah sebab yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan tersebut. Tentu saja tetap ada perbedaan-perbedaan waktu dan ruang yang relatif sederhana, yang menjadikan sebuah zaman tampak unik ketika ia disandingkan dengan deretan zaman yang lain.
Itu sebabnya Allah Subhaanahu wa ta'ala memerintahkan kita menyusuri jalan waktu dan ruang, agar kita dapat merumuskan peta sejarah manusia, untuk kemudian menemukan kaidah-kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya. Kaidah-kaidah permanen itu memiliki landasan kebenaran yang kuat, karena ia ditemukan melalui suatu proses pembuktian empiris yang panjang. Bukan hanya itu, kaidah-kaidah permanen itu sesungguhnya juga mengatur dan mengendalikan kehidupan kita. Dengan begitu sejarah menjadi salah satu referensi terpenting bagi kita, guna menata kehidupan kita saat ini dan esok.
Sejarah adalah cermin yang baik, yang selalu mampu memberi kita inspirasi untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Seperti juga saat ini, ketika bangsa kita sedang terpuruk dalam krisis multidimensi yang rumit dan kompleks, berlarut-larut dan terasa begitu melelahkan. Ini mungkin saat yang tepat untuk mencari sepotong masa dalam sejarah, dengan latar persoalan-persoalan yang tampak mirip dengan apa yang kita hadapi, atau setidak-tidaknya pada sebagian aspeknya, untuk kemudian menemukan kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya.
Masalah di Ujung Abad
Ketika Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallam menyatakan sebuah ketetapan sejarah, bahwa di ujung setiap putaran seratus tahun Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang akan akan mempebaharui kehidupan keagamaan umat ini. Ketetapan itu menjadikan masa satu abad sebagai sebuah besaran waktu yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan masalah, rotasi pola persoalan-persoalan hidup. Ketetapan itu juga menyatakan adanya fluktuasi dalam sejarah manusia, masa pasang dan masa surut, masa naik dan masa turun. Dan titik terendah dari masa penurunan itulah Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang menjadi lokomotif reformasi dalam kehidupan masyarakat.
Itulah yang terjadi di ujung abad pertama hijriyah dalam sejarah Islam. Sekitar enam puluh tahun sebelumnya, masa khulafa rasyidin telah berakhir dengan syahidnya Ali bin Abi Thalib. Muawiyah bin Abi Sofyan yang kemudian mendirikan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, mengakhiri sistem khilafah dan menggantinya dengan sistem kerajaan. Pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam tidak lagi dipilih, tapi ditetapkan.
Perubahan pada sistem politik ini berdampak pada perubahan perilaku politik para penguasa. Secara perlahan mereka menjadi kelompok elit politik yang eksklusif, terbatas pada jumlah tapi tidak terbatas pada kekuasaan, sedikit tapi sangat berkuasa. Sistem kerajaan dengan berbagai perilaku politik yang menyertainya, biasanya secara langsung menutup katup politik dalam masyarakat dimana kebebasan berekspresi secara perlahan-lahan dibatasi, atau bahkan dicabut sama sekali. Itu memungkinkan para penguasa menjadi tidak tersentuh oleh kritik dan tidak terjangkau oleh sorot mata masyarakat. Tidak ada keterbukaan, tidak ada transparansi.
Dalam keadaan begitu para penguasa memiliki keleluasaan untuk melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan. Maka penyimpangan politik segera berlanjut dengan penyimpangan ekonomi. Kezaliman dalam distribusi kekuasaan dengan segera diikuti oleh kezaliman dalam distribusi kekayaan. Yang terjadi pada mulanya adalah sentralisasi kekuasaan, tapi kemudian berlanjut ke sentralisasi ekonomi. Keluarga kerajaan menikmati sebagian besar kekayaan negara. Apa yang seharusnya menjadi hak-hak rakyat hanya mungkin mereka peroleh berkat "kemurahan hati" pada penguasa, bukan karena adanya sebuah sistem ekonomi yang memungkinkan rakyat mengakses sumber-sumber kekayaan yang menjadi hak mereka. Bukan hanya KKN yang terjadi dalam keluarga kerajaan, tapi juga performen lain yang menyertainya berupa gaya hidup mewah dan boros. Negara menjadi tidak efisien akibat pemborosan tersebut. Dan pemborosan, kata ulama-ulama kita, adalah indikator utama terjadinya kezaliman dalam distribusi kekayaan. Jadi ada pemerintahan yang korup sekaligus zhalim, penuh KKN sekaligus mewah dan boros, tidak bersih, tidak efisien dan tidak adil.
Itulah persisnya apa yang terjadi pada dinasti Bani Umayyah. Berdiri pada tahun 41 hijriyah, dinasti Bani Umayyah berakhir sekitar 92 tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 132 hijriyah. Tapi sejarah dinasti ini tidaklah gelap seluruhnya. Dinasti ini juga mempunyai banyak catatan cemerlang yang ia sumbangkan bagi kemajuan peradaban Islam. Salah satunya adalah cerita sukses yang tidak terdapat atau tidak pernah terulang pada dinasti lain ketika seorang laki-laki dari klan Bani Umayyah, dan merupakan cicit dari Umar Bin Khattab, yaitu Umar Bin Abdul Aziz, muncul sebagai khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah.
Yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah mempertemukan keadilan dengan kemakmuran. Ketika pemimpin yang saleh dan kuat dihadirkan di persimpangan sejarah, untuk menyelesaikan krisis sebuah umat dan bangsa. Dan itu bisa saja terulang, kalau syarat dan kondisi yang sama juga terulang. Dan inilah masalah kita, pengulangan sejarah itu tidak terjadi, karena syaratnya tidak terpenuhi..
Rabu, 24 Desember 2008
REFORMER EKONOMI SEJATI
Jumat, 19 Desember 2008
Cobaan Hidup
By Didin Hafidhuddin
Senin, 15 Desember 2008 pukul 20:24:00
Font Size A A A
Email EMAIL
Print PRINT
Cobaan HidupREPUBLIKA/PANCA
Ujian atau cobaan hidup sudah merupakan Sunnatullah, hukum Allah yang bersifat pasti dan tetap, berlaku kapan dan di mana pun (QS 29: 1-3). Cobaan hidup ini bisa dalam bentuk sesuatu yang dirasakan berat dan menyakitkan, namun bisa pula dalam bentuk kebaikan dan kenikmatan yang menyenangkan. Allah menjelaskan: Tiap-tiap yang bernyawa itu akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan, sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kami-lah kamu semua akan dikembalikan.'' (QS 21: 23)
Sayid Hawwa dalam kitab Al-Asaasu fi at-Tafsier (VII: 3457) menjelaskan, berbagai cobaan hidup yang ditimpakan kepada manusia itu tujuannya tidak lain adalah untuk mengetahui secara lahiriyah mana di antara mereka yang pandai bersyukur dan mana pula yang kufur, mana yang bisa bersabar dan mana pula yang cepat putus asa. Menurut Sayyid Qutub, sebagaimana dikutip Sayid Hawwa, cobaan hidup yang berupa keburukan dan kesulitan akan mudah dipahami. Biasanya, orang yang mengalami cobaan hidup, misalnya mengalami sakit, hilang harta benda, dan seterusnya, yang bersangkutan akan segera berdoa dan mengharapkan pertolongan dan rahmat Allah swt.
Itu, berbeda dengan cobaan hidup yang berupa kebaikan dan kenikmatan. Ujian jenis ini memerlukan penjelasan dan perhatian yang mendalam. Sebab banyak orang yang beranggapan bahwa jabatan, kekuasaan, harta kekayaan dan ilmu pengetahuan itu bukanlah suatu ujian. Banyak orang yang bisa bersabar ketika menghadapi kesulitan, akan tetapi tidak tahan mendapatkan kenikmatan, kesehatan, kekayaan, dan kekuasaan.
Ketika ditimpa kesulitan, banyak orang yang langsung ingat kepada Allah dan selalu menyebut Asma-Nya, bahkan berjanji akan menjadi orang yang baik. Namun, begitu mereka berhasil mengatasi kesulitan dan mampu tegak berdiri tanpa bantuan orang lain, berubahlah sikap mereka. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi congkak, sombong, berlaku zalim kepada sesamanya, dan bahkan berani menentang perintah-Nya. Allah swt mengingatkan: Dan orang-orang yang mendustakan ayat Kami, akan Kami lalaikan mereka dengan kesenangan-kesenangan dari arah yang mereka tidak ketahuinya (QS 7: 182).
Imam Baedlawi di dalam tafsir Al-Baedlawi (hal. 205) menyatakan bahwa proses ini terjadi karena mereka terhanyut oleh berbagai kemudahan, tertipu oleh berbagai perasaan, seolah-olah situasi dan kondisi seluruhnya telah menguntungkan dirinya. Mereka tertipu oleh hawa nafsunya dan hawa nafsu orang-orang yang mengelilinginya.
Menurut Alquran, orang mukmin yang benar-benar bertakwa adalah orang yang bisa bersabar ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan. Mereka mampu bersyukur ketika mendapatkan berbagai macam kenikmatan, sehingga mampu mempergunakan untuk sesuatu yang diridhai-Nya dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia. Sabar dan syukur inilah yang harus senantiasa kita jaga dalam kehidupan ini. Wallahu A'lam bi ash-Shawab. - ah
Rabu, 17 Desember 2008
AL QURAN - RULES OF THE GAME
DARI : Majelis Rasulullah - Habib Munzir
Semua manusia menginginkan kesuksesan. Kesuksesan yang diinginkan manusia bukan kesuksesan sesaat di satu sisi. Melainkan kesuksesan abadi, selama-lamanya di berbagai sisi; kesuksesan yang sempurna. Maka diperlukan cara yang sempurna untuk dapat meraih kesuksesan seperti ini. Sebuah metode sempurna yang tidak bercacat. Maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti metode dari Yang Menciptakan kehidupan itu sendiri. Dia Yang Tahu dengan pasti bagaimana sifat-sifat kehidupan dan cara menjalani kehidupan ini. Pembuat game pasti tahu bagaimana cara mudah dan jitu untuk menyelesaikan game dengan sempurna. Begitu juga Sang Pembuat game kehidupan. Tentu Dia tahu bagaimana cara menyelesaikan game ini dengan mudah dan selamat. Orang-orang yang tidak mengikuti metode ini, tentu akan mengalami kegagalan.
Mahasuci Allah Yang mencipta game kehidupan dan memberikan buku panduan (player guide) untuk memainkan game ini dengan ni’mat dan selamat. Buku panduan itu adalah Al-Qur`an. Dan Allah juga mengutus seorang pemandu game yang handal untuk memandu kita dalam membaca buku panduan dan dalam menjalankan game sesuai buku panduan ini. Beliau adalah Muhammad Rasulullah SAAW. Manusia yang paling pandai membaca, memahami dan menerapkan game guide ini. Beliau telah menguasai buku panduan itu dalam dadanya. Beliau adalah game master. Beliau (SAAW) adalah Al-Qur`an Berjalan. Dengan begitu, setiap player (pemain) yang menemukan masalah dalam memainkan game ini dapat bertanya kepada beliau. Beliau akan menjawab sesuai dengan buku panduan yang telah diajarkan kepada beliau dari Sang Pembuat game. Tidak semua orang dapat memahami atau menerapkan panduan tersebut. Tetapi dengan adanya The Game Master, kita dapat lebih mudah memahami bagaimana menerapkan instruksi-instruksi dalam buku panduan. Siapa yang mengikuti beliau, pasti akan dapat menyelesaikan game dengan lebih cepat.
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31)
Tetapi tidak semua manusia percaya dengan The Rules of Game (Peraturan Permainan) yang telah Allah turunkan. Orang yang percaya belum tentu mau memainkan game sesuai aturan tersebut. Semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang berusaha untuk memainkan game ini sesuai The Rules of Game secara total dengan penuh keimanan. Aamiin.
Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al-Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (QS. Ali Imran: 3-4)
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS. Ali Imran: 83)
Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. (QS. An-Naml: 1-3)
OBAT -BIJI HITAM
DARI : MAJELIS RASUL
Dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Gunakanlah olehmu Habbatus Sauda, karena di dalamnya terdapat obat dari segala macam penyakit, kecuali As-Sam (maut).” [HR. Bukhari dan Muslim]
Berdasarkan penelitian para pakar kesehatan, Habbatus Sauda (Jintan Hitam / Biji Hitam / Black Cumin / Nigella Sativa / Black Seed / Baraka Seed) berkhasiat untuk:
Meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kewaspadaan. Mencegah penyumbatan pembuluh darah, menurunkan kolesterol. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan bioaktivitas hormon. Meremajakan sel-sel kulit dan menetralkan racun dalam tubuh. Mengatasi gangguan tidur dan stress, malaria, migrane. Anti tumor, anti histamin, anti alergi, anti inflamasi. Memperbaiki saluran pencernaan, melancarkan ASI. Menjaga kesehatan dan stamina. Sebagai multivitamin dan penambah nutrisi / food suplemen.
Tetapi bagi ummat Islam yang lebih percaya kepada Rasulullah saaw daripada para pakar kesehatan, mengkonsumsi Habbatus Sauda adalah merupakan salah satu cara menghidupkan sunnah Rasulullah saaw. Dan sebagaimana disabdakan Rasul, bahwa khasiat Habbatus Sauda lebih luas dari apa yang telah diketahui para pakar kesehatan. Di dalam Habbatus Sauda telah Allah letakkan keberkahan yang mengandung obat bagi segala macam penyakit, kecuali maut.
(Obat Alami Online)
KENYATAAN DUNIA NYATA

DARI : MAJELIS RASULULLAH
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al-Ankabut: 64)
Proses Melihat
Perbuatan ‘melihat’ disadari dalam sebuah cara yang sangat maju. Photon-photon cahaya, berjalan dari objek, melintas melalui lensa pada bagian depan mata, dimana photon-photon cahaya itu difokuskan dan jatuh, dibalik, pada retina. Di sini, cahaya yang menimpa retina diubah ke dalam sinyal-sinyal elektris yang dikirimkan oleh neuron-neuron ke sebuah titik kecil di bagian belakang otak, yang disebut pusat penglihatan. Setelah serangkaian proses, pusat otak ini merasakan sinyal-sinyal ini sebagai imajinasi/kesan. Perbuatan melihat yang sesungguhnya terjadi pada titik kecil ini di belakang otak dalam gelap-gulita, benar-benar tersekat dari cahaya. (Harun Yahya, The Evolution Deceit, cetakan ke-7, hal.217-218)
Jika ‘melihat’ adalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan otak sebagaimana prosesor pada komputer menafsirkan sinyal-sinyal listrik sebagai suatu gambar -dan suara-, maka apakah kita memerlukan ‘dunia luar’ untuk kita lihat? Pada komputer, kita tidak harus memerlukan ‘dunia luar’ untuk membuat suatu gambar. Sebab kita dapat merekayasa gambar tersebut pada prosesor dengan memasukkan data-data yang akan mengatur sinyal-sinyal listrik. Begitu pula otak kita. Untuk melihat, mendengar, merasakan, mengecap, mencium, kita tidak memerlukan ‘dunia luar’. Sewaktu kita bermimpi, sering kita tidak dapat membedakan antara dunia mimpi dengan dunia nyata. Kita melihat diri kita dan dunia yang kita anggap nyata lengkap dengan warna, suara, tekstur, bau dan rasa. Kita berfikir bahwa kita sedang berada di dunia nyata. Tetapi sewaktu kita terbangun, kita pun sadar bahwa dunia yang baru saja kita lihat hanyalah mimpi, artinya tidak benar-benar ada. Apa yang kita lihat dalam mimpi, hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan oleh otak kita. Jadi hanya dengan menafsirkan sinyal-sinyal listrik tersebut, kita sudah bisa ‘melihat’ Jadi, dunia yang kita lihat sekarang hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan oleh otak kita sebagai ‘dunia nyata’.
Jika kita melihat film The Matrix, Total Recall, kita akan dapat memahami bagaimana dunia yang terlihat nyata dapat direkayasa. Tetapi kemudian bagaimana dengan otak kita?
Siapa yang Melihat?
Otak kita adalah bagian dari ‘dunia nyata’. Artinya ia juga imajinasi. Jika demikian, lalu siapa yang benar-benar melihat? Ruh. Apa yang kita lihat sebagai ‘dunia nyata’ atau ‘dunia luar’ adalah kesan yang diciptakan Allah pada ruh kita. Jadi sewaktu kita terbangun dari mimpi, sesungguhnya kita sedang terbangun di alam mimpi yang lain yang kita sebut ‘alam dunia’. Mungkin diantara kita ada yang pernah berusaha bangun dari mimpinya, sewaktu ia berhasil bangun, ternyata ia pun sadar bahwa ia hanya terbangun di dunia mimpi pula. Lalu ia berusaha untuk bangun lagi, dan akhirnya ia berhasil bangun di alam dunia. Tetapi ternyata alam dunia yang kita huni saat ini juga hanyalah alam imajinasi. Imajinasi yang Allah Ciptakan pada ruh kita.
Tubuh dan Waktu
Kita sering berfikir bahwa yang merasakan sakit, sehat, senang, dan sebagainya adalah tubuh kita. Tetapi sesungguhnya tubuh kita ini hanyalah imajinasi. Di dalam mimpi terkadang kita merasa tubuh kita merasa sakit, tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, dan sebagainya. Tetapi sesungguhnya, tubuh kita yang dilihat oleh teman kita di alam dunia tetap bergerak dan tidak kenapa-kenapa. Semua yang kita rasakan di alam mimpi itu hanya terjadi pada fikiran kita, atau lebih tepatnya hanya dirasakan oleh ruh kita, yang padanya diciptakan segala hal yang kita lihat, kita rasakan, kita sentuh, kita dengar, dsb. Sewaktu kita bermimpi, tubuh yang kita saksikan adalah tubuh imajinasi yang ada di alam mimpi. Tetapi selain kita memiliki tubuh tersebut, kita juga memiliki tubuh lain di alam dunia. Jadi pada saat itu kita ternyata memiliki dua tubuh. Hanya saja kita sedang fokus kepada tubuh yang ada di alam mimpi. Dan kita tidak peduli dengan tubuh kita yang ada di alam dunia. Begitu juga sebaliknya sewaktu kita ada di alam dunia ini kita hanya fokus dan merasakan pada tubuh yang ada di alam dunia.
Apakah kita hanya memiliki dua tubuh? Tidak, kita memiliki banyak tubuh. Di alam dunia, alam mimpi, masa sekarang, masa lampu, masa depan, akhirat, dan masih banyak lagi. Apakah tubuh-tubuh itu sudah ada? Ya. Sewaktu kita bermimpi dan merasa hidup, apakah tubuh kita di alam dunia tidak ada? Tubuh kita di alam dunia itu ada, setidaknya dalam pandangan teman-teman kita yang fokus kepada alam dunia. Tetapi saat itu, kita sedang mengalami pengalaman lain, yaitu alam mimpi. Dan sekarang kita sedang mengalami alam dunia ’saat ini’. Tetapi bukan berarti tubuh kita di alam dunia ‘di masa depan’, alam selanjutnya, ‘di masa lampau’, dan lainnya tidak ada. Semua itu ada, tetapi kita sedang fokus kepada tubuh kita di alam dunia ’saat ini’. Hal inilah yang menyebabkan kita merasakan adanya ‘waktu’. Padahal waktu hanyalah imajinasi. Apa yang kita sebut ’saat ini’ atau ’sekarang’ adalah imajinasi yang kita sedang fokus padanya. Adapun ‘masa lampau’ adalah imajinasi yang kita telah pernah fokus lalu kita tafsirkan pada ’saat ini’ sebagai kenangan. ‘Masa depan’ adalah kesan yang belum pernah kita fokus padanya. Tetapi semua itu -masa lampau, sekarang, masa depan- sudah ada. Hanya saja kita fokus kepada apa yang kita sebut ’saat ini’.
Jika kita melihat film pada menit ke-10, lalu kita pause. Maka apa yang ada sebelum menit ke-10 adalah masa lampau, pada menit ke-10 adalah saat ini, dan setelah menit ke-10 adalah masa depan. Semua itu sudah ada pada keping VCD, tetapi kita sedang fokus kepada menit ke-10. Jadi sesungguhnya, keabadian telah berlangsung.
Dunia Fatamorgana
Dunia yang saat ini kita huni, ternyata hanyalah alam imajinasi. Apa yang ada padanya hanyalah fatamorgana yang menipu. Alam dunia hanyalah mimpi. Dan bahkan semua alam yang kita rasakan adalah mimpi atau imajinasi. Tetapi diantara mimpi-mimpi itu ada mimpi yang lebih nyata dan kekal. Alam dunia lebih nyata dari alam mimpi; dan alam akhirat lebih nyata dari alam dunia.
Apa yang kita rasakan di alam mimpi akan hilang di alam dunia. Jika kita menggenggam sekuntum bunga di alam mimpi, apakah bunga itu akan ada dalam genggaman kita di saat terbangun? Begitu juga apa yang kita ‘genggam’ di alam dunia ini. Sewaktu kita terbangun di alam akhirat, semua itu akan sirna. Dan yang Ada serta Tidak Sirna hanyalah Allah. Jadi Wujud satu-satunya yang Haqiqi hanyalah Allah. Inilah salah satu ma’na kalimat tauhid.
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (Q.S. Yunus: 24)
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Q.S. Ar-Rahman: 26-27)
Untuk Apa Beramal?
Kita perlu memahami bahwa walau dunia ini adalah imajinasi, tetapi hukum fisika, hukum syari’at dan lainnya jelas berbeda dengan hukum fisika dan syari’at pada mimpi. Di alam mimpi kita bisa melayang-layang di udara tanpa gravitasi bumi. Kita juga bisa meminum khamar tanpa berdosa. Kemudian kita juga sering mendengar orang-orang tua dulu ada berkata bahwa jika seseorang bermimpi ketiban bulan itu tandanya ia akan mendapat rizqi besar yang tida di duga-duga di alam dunia setelah ia terbangun. Demikian pula alam dunia, ia menjadi alamat tentang apa yang akan menimpa kita di saat kita ‘terbangun’ di alam selanjutnya. Jika orang tua dulu punya primbon untuk menafsir mimpi, maka Al-Qur`an adalah pedoman kita untuk menafsirkan mimpi dunia. Di dalam Al-Qur`an di jelaskan bahwa jika di dunia kita bertaqwa, maka sewaktu ‘terbangun’ kita akan mendapat keberuntungan (al-falah). Tetapi jika kita ‘bermimpi’ menjadi orang yang ingkar, maka sewaktu kita ‘terbangun’ kita akan mendapat kecelakaan yang besar.
Kemudian, di dalam suatu riwayat dikatakan bahwa penduduk surga dan neraka telah ditentukan. Lalu shahabat bertanya, “Kalau begitu kenapa kita tidak diam saja menunggu taqdir?” Lalu Rasulullah SAAW bersabda, “Beramallah kalian, sesungguhnya kalian dipermudah.” Jadi orang yang telah Allah tetapkan sebagai ahli surga akan Allah gerakkan untuk berbuat tha’at, adapun orang yang telah ditetapkan sebagai ahli neraka akan Allah biarkan dalam berbuat ma’siat. Allah Mahaberkuasa lagi Mahabijaksana.
Maka segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan kita sebagai mu`min dan muslim. Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan kita dari kekafiran dan kefasiqan. Segala puji bagi Allah yang telah menggerakkan kita untuk berbuat tha’at. Tidak ada daya untuk menghindari ma’siat dan tidak ada kekuatan untuk berbuat tha’at kecuali dengan Idzin, Kehendak, Kekuasaan, dan Kasih-Sayang Allah.
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Q.S. Az-Zumar: 10)
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Q.S. Muhammad: 36)
Anggapan Orang Kafir
Orang-orang kafir menganggap bahwa dunia materi ini adalah dunia yang sesungguhnya, dan satu-satunya dunia yang ada. Pandangan seperti ini biasa kita sebut dengan materialisme. Paham ini telah berkembang sejak ribuan tahun silam, sejak manusia mulai ingkar kepada Allah. Kemudian Charles Darwin berusaha membuktikan bahwa paham materialisme itu adalah paham yang haq dan paham Wujudnya Allah adalah paham yang bathil, tidak terbukti dan takhyul belaka.
(Orang-orang kafir berkata:) kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. (Q.S. Al-Mu`minun: 37)
Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Q.S. Al-Jatsiyah: 24)
Pembuktian Ilmiah
Pada abad ke-20 semua pemikiran dari materialisme menjadi gugur. Para materialis beranggapan bahwa dunia tidak diciptakan. Tetapi kemudian teori Big Bang yang didasari oleh bukti ilmiah menyimpulkan: alam semesta tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol.
Dalam bahasa ilmiah, ‘ketiadaan’ diungkapkan dengan kata ‘volume nol’. Dan kaum materialis mengatakan bahwa alam dunia ini adalah nyata. Tetapi ilmu pengetahuan membuktikan bahwa alam dunia hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan fikiran kita. Jadi ajaran Allah itulah yang Haq dan paham materialisme itulah yang bathil, tidak ilmiah, takhyul, primitif, tidak modern.
Kesimpulan
Berdasarkan ajaran Islam dan pembuktian ilmiah, ternyata dunia -yang di dalamnya terdapat materi- bukanlah alam nyata. Dunia hanyalah imajinasi, fatamorgana yang Allah Input pada ruh kita. Lalu bagaimana dengan ruh? Allah Yang Lebih Tahu. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak berpandangan kuno seperti halnya kaum materialis yang tidak percaya akan Adanya Allah.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Q.S. Al-Hadid: 20)
Disarikan dari tulisan-tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)
Eternity Has Already Begun
The Evolution Deceit
Matter: The Other Name for Illusion
Timelessness and the Reality of Fate
dsb
Rujukan dalam Al-Qur`an:
Ali ‘Imron: 117, 185 Al An’am: 32, 70
Al Ankabut: 64 Al Hadid: 20
Muhammad: 36 Yunus: 24
Al Kahfi: 45-46 Luqman: 33
Fathir: 5 Az-Zumar: 10
Ar-Ra’d: 26 Al-Mu`minun: 37
Al-Jatsiyah: 24, 35
MENGHARAP RAHMAT ALLAH SWT
OLEH : MAJELIS RASULLULLAH
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, [QS. Ali Imran (3): 133]
Syaikh Ibnu Atho`illah berkata, “Termasuk tanda-tanda bergantung/bersandar kepada amal ialah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika wujudnya dosa/kesalahan”
Sering manusia lebih bersandar kepada amalnya daripada bersandar kepada rahmat Allah. Hal ini dapat dibuktikan, antara lain, ketika ia berbuat satu kema’siatan, ia akan mengingat-ingat amal shalihnya yang dianggap dapat menghapus dosanya. Dan dia tidak begitu ingat akan rahmat Allah. Dia tidak memohon rahmat dan ampunan Allah karena yaqin bahwa amal shalih yang telah dikerjakannya lebih banyak dari dosa-dosanya. Atau mungkin sebaliknya, dia tidak memandang kepada rahmat Allah dengan berkata, “Allah tidak mungkin mengampuni saya, karena dosa saya terlalu banyak sedangkan amal saya terlalu sedikit.” Padahal, Allah mengampuni seseorang tanpa melihat amalnya, tetapi Allah mengampuni seseorang karena rahmat-Nya.
Memang benar bahwa kebaikan Allah selalu turun kepada kita, sedangkan keburukan kita selalu naik kepada Allah. Namun bukan berarti kita harus berputus harapan dari rahmat Allah. Justeru ketika kita menyadari bahwa tidak ada amal yang bisa kita andalkan, dan memang amal kita tidak bisa diandalkan, seharusnya muncul satu kesadaran pula bahwa hanya rahmat Allah saja yang bisa kita andalkan. Ya, hanya rahmat Allah saja satu-satunya harapan kita. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita.
Terkadang manusia juga berfikir bahwa dia akan masuk surga karena amal shalihnya dan bukan karena rahmat Allah. Padahal Nabi menyatakan bahwa kita dapat masuk surga adalah karena rahmat Allah. Amal ibadah kita selama ratusan tahun tidak akan cukup untuk membayar ni’mat penglihatan kita. Bahkan sebagai tanda kesyukuran kita akan setetes ni’mat Allah pun belum cukup. Apalagi jika digunakan untuk membayar tiket ke surga. Jelaslah bahwa kita dapat beribadah karena rahmat Allah berupa iman, Islam, ilmu, kesehatan, dll. Kita dapat mensyukuri suatu ni’mat Allah dengan adanya ni’mat Allah yang lainnya. Bukankah kemampuan kita untuk beribadah dan bersyukur itu juga merupakan pemberian Allah?
Dalam mencari nafkah pun, terkadang kita merasa bahwa rizqi itu datang dari hasil usaha kita. Bagaikan Qarun kita berkata bahwa rizqi itu tergantung pada ilmu dan usaha kita. Padahal ilmu dan usaha hanyalah cara untuk menjadikan rizqi itu halal atau haram, bukan untuk menentukan datangnya rizqi. Rizqi itu datang dari Allah. Maka mintalah kepada-Nya. Ikhtiar adalah sesuatu yang menjadikan rizqi itu halal atau haram. Ikhtiar adalah kita memilih rizqi yang halal atau yang haram. Berusaha dengan cara yang dilarang Allah berarti kita memilih yang haram. Berusaha dengan cara yang tidak dilarang Allah berarti kita memilih yang halal. Rizqi itu telah disediakan bagi kita begitu luasnya. Tinggal kita pilih, yang halal atau yang haram.
Amal bukanlah sandaran yang kuat. Amal itu terbit dari makhluq. Sedangkan makhluq adalah fana. Amal itu sendiri adalah makhluq. Bagaimana mungkin kita akan bersandar kepada makhluq? Bersandarlah kepada Allah yang Kekal. Tidak akan kecewa mereka yang bersandar dan bergantung kepada Allah.
Silahkan Anda bergantung kepada orangtua Anda. Tetapi ingat, orangtua Anda akan mati. Silahkan Anda bergantung kepada perusahaan Anda. Tetapi ingat, perusahaan Anda juga dapat bangkrut. Silahkan bergantung kepada obat. Tetapi ingat, terkadang obat dapat menjadi racun. Dan memang bukan obat yang menyembuhkan penyakit. Banyak obat yang setelah diminum, ternyata tidak ada perubahan pada diri si penderita. Rizqi, kesembuhan, kesehatan, semua itu dari Allah. Begitu pula masuknya seseorang ke surga, itu merupakan rahmat dari Allah. Bukan disebabkan amal shalihnya. Tak ada manusia yang dapat menghindari ma’siat atau pun mampu berbuat tho’at, kecuali dengan rahmat Allah.
Amal shalih yang kita kerjakan setelah berbuat ma’siat bukanlah untuk menghapus dosa. Tetapi untuk mengemis rahmat Allah. Ketika kita berbuat salah kepada seseorang. Lalu kita ingin meminta maaf darinya. Lalu dia berkata, “Berbuatlah ini dan ini..” Maka kita mengerjakannya agar dia berkenan memaafkan kita.
Allah telah membuka lebar-lebar pintu-pintu rahmah dan maghfirah-Nya. Kita dapat memasukinya dari pintu-pintu itu. Sungguh Allah Mahapengampun, namun manusia terkadang suka menzholimi diri sendiri. Apa yang Allah katakan kepada bani Israil ketika mereka melakukan suatu kesalahan? Allah menyuruh mereka agar memasuki suatu gerbang seraya bersujud dan berkata, “Hiththoh.” Jika mereka melakukannya, niscaya Allah mengampuni mereka. Tetapi mereka menggantinya dengan ajaran yang tidak-tidak.
Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”. Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik. [QS. Al-Baqarah (2): 58-59]
Jika kita mau mendapatkan ampunan dari Allah, sebenarnya mudah saja. Banyak ayat-ayat Alqur’an dan Hadits yang mengajarkan bagaimana cara mengharapkan ampunan dan kasih-sayang Allah. Dengan membaca Al-Qur’an, dengan shalat, dengan istighfar, dengan tasbih. Semua amal shalih sebenarnya merupakan cara untuk mengemis rahmat Allah.
Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS. An-Nuur (24): 31]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah (2) : 218]
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, [QS. Fathir (35): 29]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Beliau mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Apa pendapat kamu sekiranya terdapat sebatang sungai di hadapan pintu rumah salah seorang dari kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari sebanyak lima kali. Apakah masih lagi terdapat kotoran pada badannya?” Para Sahabat menjawab: “Sudah pastinya tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya.” Lalu baginda bersabda: “Begitulah perumpamaannya dengan sembahyang lima waktu. Allah menghapuskan segala kesalahan mereka.” [HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi]
Mengemis Kasih (oleh Raihan)
Tuhan, dulu pernah aku menagih simpati
Kepada manusia yang alpa jua buta
Kini terhiritlah aku di lorong gelisah
Luka hati yang berdarah
kini jadi kian parah
Semalam sudah sampai ke penghujungnya
Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu
Tak ingin lagi ‘ku ulangi kembali
gerak dosa yang menghiris hati
Tuhan, dosaku menggunung tinggi
Namun rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
hanyalah setitis ni’mat-Mu di bumi
Tuhan, walau taubat sering ku pungkir
Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Bila selangkah ku rapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaku
BEKAM PENGOBATAN NABI SAW
DARI:Artikel Majelis Rasullallah
Bekam ( cupping / al-hijam ) perkataan “alhijam” berasal dari bahasa arab yang berarti “pelepasan darah kotor” atau dalam bahasa inggris disebut “cupping” dan dalam bahasa melayu dikenal dengan “bekam”. Bekam merupakan tehnik pengobatan sunah Rosululloh, kini dimodernkan dan mengikuti kaidah ilmiah. Untuk mengeluarkan jutaan toksid yang berada di badan kita melalui permukaan kulit. Bekam merupakan cara detoksifikasi ( pengeluaran racun ) yang cepat, aman dan tidak ada efek samping. Apabila badan anda terasa kaku, mudah letih, lesu, pegal-pegal, pusing, sakit kepala, sakit pada persendian, mata berkunang-kunang, serta berbagai keluhan penyakit lain!!! Tahukah anda? Semua itu disebabkan kerena adanya penumpukan toksid (racun tubuh) dan darah kotor serta darah beku (statis darah) dalam tubuh. Maka bekam merupakan pengobatan alternatif yang mujarab untuk mengatasi semua kondisi tersebut.
“Sesungguhnya sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah berbekam” (al-hadits).
PENTINGNYA BEKAM
“Darah merupakan sumber energi manusia untuk hidup, bilamana darah rusak, maka berkuranglah energi serta daya tahan tubuhnya”.
Di era modern ini kita terbiasa mengkonsumsi makanan siap saji, makanan yang mengandung bahan pengawet, zat pewarna, zat pengembang, penyedap rasa, pemanis, minyak, pestisida sayuran, dll, serta pencemaran udara telah mengakibatkan terjadinya penumpukan toksid (racun) dalam tubuh sehingga darah menjadi kotor dan statis (peredaran darah jadi tidak lancar). Kondisi tersebut sedikit demi sedikit akan mengganggu kesehatan fisik sehingga muncul keluhan-keluhan seperti : merasa malas,mudah letih, pegal-pegal, sakit kepala, sakit pada persendian, mata berkunang-kunang, nampak murung, merasa tertekan dan badan terasa kurang sehat. Karena itulah darah kotor harus dikeluarkan. BEKAM merupakan cara terbaik yang dianjurkan oleh Rosululloh S.A.W untuk mengeluarkan darah kotor dalam tubuh.
“Sesungguhnya di dalam berbekam itu terdapat pengobatan“. (Shohih Muslim)
MANFAAT BEKAM
Ada banyak manfaat bekam, antara lain:
- Melancarkan peredaran darah, meringankan badan.
- Mengobati masuk angin, darah tinggi, kolesterol, stroke, jantung, asam urat, sakit pinggang, liver, gatal-gatal, migrain, sakit kepala, sakit mata, impotensi, sinusitis, jerawat, ambeiyen, maag.
- Insomnia, stress, sering mimpi buruk, sering kesurupan, Trauma, rasa takut yang berlebihan, narkoba, kurang gairah.
- Mengeluarkan toksid, angin dan kolesterol berbahaya dalam tubuh.
- Memulihkan fungsi tubuh.
- Menajamkan penglihatan.
- Meningkatkan daya ingat dan kecerdasan.
- Memperbaiki sistem imunitas.
ad-dawaa.info