Kamis, 26 Februari 2009

KRISIS EKONOMI ITU BIASA



Krisis Ekonomi Itu Biasa
Minggu, 18/01/2009 23:01 WIB Cetak | Kirim | RSS
dari: mmnasution@eramuslim.com

Beberapa pekan yang lalu , di sebuah acara reuni “sekolah dasar” , beberapa teman lama berkumpul di sebuah café di bilangan Jakarta , kami sangat surprise , karena kami masih bisa berkumpul walau lebih dari dua puluh lima tahun tak pernah bertemu sebelumnya, acaranya sangat hangat dan penuh canda, meskipun wajah dan penampilan kami sudah tidak semungil dan selucu dahulu. Di tengah gurauan dan canda, terselip pembicaraan serius seorang rekan mengenai kegelisahannya terhadap dampak krisis ekonomi yang tidak menentu ini, usahanya mengalami penurunan bahkan terancam ditutup dalam waktu yang segera mungkin, dia mengalami kebingungan yang amat sangat, saya berpendapat bahwa masalah krisis itu bukan saja berdampak kepada dirinya saja, tetapi juga menyita perhatian khususnya para praktisi usaha.

Beritanya sangat mudah ditemukan di media cetak, elektronik televisi, radio maupun berbagai situs internet, setiap hari, ya, hampir setiap hari tentunya, memberitakan krisis ekonomi yang kian merosot tajam, hal tersebut bukan saja di negeri yang kita cintai ini, bahkan krisis ini mendunia. Bukan saja perusahaan yang bergerak di perbankan yang terkena dampak langsung, juga perusahaan otomotif, manufaktur, tambang, real estate, dan lainnya yang berskala raksasa bisnis, sebutlah perusahaan besar seperti Citibank, general motor, ford, Volkswagen, lehmann brothers, dan lainnya.

Tak lepas juga , berdampak kepada perusahaan lokal di negeri yang kita cintai ini, dari perusahaan berskala kecil maupun besar, hal ini membuat gusar para direksi dan pemegang saham, dan juga memunculkan kekhawatiran ancaman PHK maupun dirumahkan bagi ribuan pegawai yang bernaung di perusahaan tersebut.

Begitu banyak analisa pakar ekonomi, ditinjau dari angka demi angka, asumsi demi asumsi, bahwa waktu pemulihannya memakan waktu satu hingga tiga tahun, waktu yang relatif lama untuk proses pemulihan, dan inipun menjadi kekawatiran para pekerja yang telah dan akan terancam di PHK, karena dana kompensasi yang mereka peroleh dari hasil PHK hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sekian bulan saja, dan bagaimana selanjutnya hidup mereka, ini menjadi beban kehidupan yang berat. Bila krisis ini tak terselesaikan dalam waktu dekat maka para analis memprediksikan bukan saja krisis ekonomi yang terjadi lebih dasyat, juga akan merambat kepada krisis politik maupun sosial, mengerikan sekali…

Begitulah krisis bila melanda

Tahukah anda, bahwa kelapangan dan kesempitan akan selalu datang silih berganti dan selalu di jumpai oleh setiap generasi, ingatkah anda resesi yang terjadi di tahun 1998, krisis politik maupun ekonomi terjadi di negeri ini, betapa banyak perusahaan yang mengalami pailit ataupun resesi, berhasilkah mereka melewatinya? Apakah setelah itu dunia usaha mati dan tenggelam? Toh dunia usaha tetap berjalan paska krisis tersebut , pemulihannya ada yang mengalami hanya bilangan bulan saja, bahkan ada yang membutuhkan bilangan tahun dalam pemulihannya, tapi tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing..

Selain era 1998 dinegeri ini, terjadi juga di waktu sebelumnya, yaitu pada tahun 1960-an, tak jarang pemandangan sehari hari, rakyat negeri ini antri beras, antri bahan pokok, bahkan terjadi pemotongan nilai mata uang, pada saat itu drastis terjadi perubahan peta bisnis di Indonesia, banyak perusahaan berskala besar rontok, tetapi tak sedikit beberapa perusahaan baru muncul menggantikan generasi sebelumnya sebagai motor penggerak perekonomian. Toh tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing.

Di amerika pun selain di tahun 2008 ini, pernah mengalami permasalahan krisis ekonomi sekitar tahun 1930-an, begitupun di jepang, eslandia, jerman, dan berbagai negeri lainnya dengan tingkat pengaruh yang berbeda beda, bahkan krisis ini juga menimpa pula zaman para Rasul, lihatlah kisah Nabi Yusuf as dalam menghadapi tujuh tahun masa paceklik, zaman Nabi Musa , begitupun zaman Nabi Muhammad SAW, mereka para Rasul Allah pun tak terlepas menghadapi masa masa sulit di perjalanan hidupnya. Toh tetap saja setelah masa itu semua orang mendapati kadar rezekinya masing masing.

Begitulah dunia, silih berganti, lapang dan serba keterbatasan datang dan pergi…karena konsep hidup tidak pernah menjelaskan bahwa indikator sukses itu adalah kaya, dan hidup ini bukan untuk meraih dan menikmati kekayaan atau hidup pasrah dengan kemiskinan, hidup ini bukan hanya mencari makan dan minum, hidup ini punya arti yang lebih, berbahagialah anda sebagai muslim, karena konsep hidup dalam Islam sangat jelas, hidup itu adalah perjuangan , hidup itu merupakan sarana aktualisasi aqidahnya, hidup itu adalah berjuang untuk kepentingan aqidahnya dan bukan sebaliknya, hidup itu hanyalah wasilah atas implementasi konsep Ibadah kepadaNYA dalam arti yang total, senang dan susah semuanya ujian, dan sukses dari ujian tersebut adalah penghuni SurgaNYA.

Jadi bagi seorang muslim, yakinlah krisis ekonomi itu adalah hal yang BIASA. Dia akan hadir di tengah tengah kita. Dia akan menjadi bahagian episode kehidupan kita, dia akan menjadi ujian agar kita bisa meloncat dan berlari lebih cepat dari sebelumnya, ujian itu bisa membuat kita terjatuh, gagal, lalu bangkit kembali. Dan kita yakin bahwa sifatnya ujian itu hanyalah sesaat waktu, tidak akan selamanya badai itu berlangsung, dia akan normal kembali, ingatlah malam pun PASTI selalu berganti dengan siang hari.

Individu muslim harus menyadari dalam menghadapi ujian ini bahwa permasalahan bukanlah terletak pada posisi lapang maupun sempit , tetapi dia harus mempersiapkan kesabaran di kala susah, dan banyak bersyukur di kala lapang, dan di setiap waktunya dalam kondisi apapun selalu ada usaha untuk peningkatan keimanan dan amal sebagai aktualisasi keyakinan aqidahnya. Dan dia merasa bahagia karena dia yakin ujian ini terjadi juga karena kehendak Allah SWT, dan dia yakin pula bahwa hanya Allah lah tempat dia berharap agar membebaskan dirinya dari permasalahan ujian ini.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNYA kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS 57:22-23).

Begitulah Al Quran menjelaskan bagaimana seharusnya muslim bersikap, dan benarlah juga apa yang di sampaikan Umar bin Khattab, ‘’Demi allah, selama Aku masih menjadi muslim, aku tidak akan pernah peduli dengan keadaanku.’’


Dan juga teringatlah sebuah kisah sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin Auf, dia adalah saudagar kaya raya di kota Mekah, beliau termasuk golongan awal yang tersentuh dengan dakwah yang di bawa oleh Rasul SAW. Pada saat di perintahkan untuk berhijrah menuju Madinah, beliau dengan bersegera meninggalkan seluruh hartanya di kota Mekah, beliau begitu militan dalam mengikuti intruksi keimanannya, tak ada rasa sayang dan khawatir terhadap perniagaannya yang telah di kelolanya sekian tahun. Akibat dari keyakinannya saat itu , dia pun mengalami jatuh pailit seketika , buat dia, harta yang melimpah tak ada artinya di banding nilai keimanan yang harus dia pertahankan, walau setelah hijrah tersebut dia tidak memiliki apapun walau seorang isteri pun (penulis tidak menemukan literatur kisahnya apakah beliau sudah beristeri atau tidak sewaktu di Mekah).

Setelah beberapa waktu di madinah, suatu hari, seorang sahabat Anshar bernama Said bin Rabi berkata kepadanya, “ Saudaraku, bagianmu setengah dari harta kekayaanku, aku memiliki dua rumah, engkau bebas memilihnya, aku juga memiliki dua isteri, engkau pun bebas memilih salah satu yang engkau suka.

Abdurrahman bin Auf tidak tertarik dengan tawaran itu, dia tidak ingin menjadi beban saudara seimannya, sambil berkata, “ Terima kasih, semoga Allah memberkati keluarga dan harta kekayaanmu. Aku hanya ingin engkau menunjukkan di mana letak pasar. Aku seorang pedagang.”

Benar saja, selang beberapa tahun kemudian, Abdurrahman bin Auf sudah menjadi orang terkaya di kota Madinah. Bahkan nilai kekayaannya lebih banyak dari harta yang ditinggalkan di Mekah, inilah hasil sebuah keyakinan, beginilah Allah mengganti apapun pengorbanan hambaNYA yang yakin. Dalam sejarah , terukir indah bahwa harta kekayaannya itu menjadi pendukung utama dalam perjuangan Islam masa itu, dan tak pernah habis hingga beliau wafat.

Begitulah rekanku , sejarah indah telah terabadikan, masa lapang dan sempit itu akan selalu berulang dengan berbagai sebab dan kadar pengaruhnya, dan kisah kisah tersebut selalu menjadi penguat keimanan dan pelajaran bagi yang berupaya memahaminya.

Saat ini, bila anda mengalami kebangkrutan, kefakiran, tertimpa paceklik, jatuh miskin, jangan terlalu lama bersedih. Segeralah bangkit, teruslah berikhtiar dan perkuat keyakinan, sekali lagi kehidupan ini bukan hanya untuk makan dan minum, ada tugas yang lebih mulia yang harus kita implementasikan. Hilang dan berkurangnya harta itu biasa, tapi janganlah hilang keyakinan dan kurangnya beramal soleh, justru keyakinan dan amal soleh tersebut harus di perkuat walau kondisi serba terbatas. Niscaya dan yakinlah siapa tahu Allah akan memberikan jalan keluar dan mengganti yang jauh lebih baik dari apa yang anda miliki sebelumnya.

mmnasution@eramuslim.com

Senin, 09 Februari 2009

PENGELOLAAN HARTA


Islam dan Pengelolaan Harta
dari: http://www.qalbu.net

Dalam Bahasa Arab, (mâl) sebagai kata benda (noun) bermakna harta, tapi sebagai kata kerja (verb) bermakna condong atau cenderung. Jadi harta adalah sesuatu yang memang orang selalu condong / cenderung kepadanya. Orang selalu berkeinginan dan tak akan terpuaskan akan harta. Jangankan orang miskin, orang kaya pun selalu berkecenderungan terhadap harta. Ada orang yang mengejar harta dengan cara-cara yang rasional, bekerja keras dan jujur; ada juga yang dengan cara-cara irrasional (misal, penggalian harta karun di Batu Tulis Bogor, yang berdasarkan wangsit), spekulasi (judi) atau penyalahgunaan kekuasaan (korupsi). Karena itu harta, selain sebagai sesuatu yang dicenderungi, juga merupakan batu sandungan besar bagi manusia dalam kehidupannya. Harta adalah cobaan (fitnah).

Wa’ lamuu innamaa amwaalukum wa awlaadukum fitnatun
“Dan ketahuilah bahwasanya harta kalian dan keturunan kalian adalah fitnah (ujian)…”
(QS Al-Anfal 8:28)


Karena itu juga dalam hal harta, selain penting menaruh perhatian pada cara-cara perolehannya, juga pada cara-cara penggunaannya. Orang dituntut bertanggungjawab atas cara dia memperoleh harta, juga cara dia menggunakan hartanya.

Taqwa dan Adil

Islam bukan agama yang semata mengatur hubungan manusia secara vertikal dengan Tuhannya saja (ibadah ritual), tapi juga mengatur hubungan manusia secara horisontal dengan manusia lain dan lingkungannya (ibadah sosio-kultural). Nilai tertinggi dalam ibadah ritual (hubungan manusia dengan Tuhan) adalah taqwa, tapi nilai tertinggi dalam ibadah sosial adalah adil. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Untuk menjadi taqwa orang harus adil.

I’diluu huwa aqrobu littaqwaa
“Adillah kalian, karena adil sangat dekat dengan taqwa…”
(QS Al-Maidah 5: 8)


Artinya, tidak mungkin seseorang akan menjadi taqwa di hadapan Allah kalau orang itu tidak memiliki apresiasi, pemihakan dan upaya penegakkan keadilan. Salah satu aspek keadilan itu adalah keadilan dalam perolehan, pemilikan dan pengelolaan harta. Sikap yang tidak adil dalam perolehan, pemilikan dan pengelolaan harta akan mengurangi derajat taqwanya di hadapan Allah SWT dan mempersulit kehidupan orang itu di akhirat kelak. Kesalahan bertindak dalam mengelola harta bukan saja menimbulkan kerugian di dunia, tapi juga di akhirat kelak.

Shalih

Allah SWT tidak menilai seseorang semata-mata berdasarkan hasil yang diperoleh orang itu, tapi lebih berdasarkan pada niat dan amal orang itu. Niat adalah motif, keyakinan, itikad, dasar sekaligus tujuan. Sedangkan amal adalah kerja, usaha, perbuatan, ikhtiar, perjuangan atau proses mencapai tujuan. Allah SWT menaruh perhatian besar pada kerja karena Dia sendiri pun Tuhan yang selalu sibuk bekerja.

Yas aluhu man fissamaawaati wal ardhi kulla yawmin huwa fii sya’ nin
“Semua yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan”
(QS 55:29)

Kalau nilai tertinggi untuk niat adalah ikhlâsh, maka nilai tertinggi untuk amal (kerja) adalah shâlih. Dalam Bahasa Inggris, shalih bermakna appropriate (tepat, seimbang), artinya seimbang dalam hal kebenarannya, kebaikannya dan kemanfaatannya. Suatu perbuatan harus dilakukan dengan dasar/tujuan yang benar, cara yang baik dan menghasilkan manfaat. Tidak bisa hanya mementingkan satu aspek dan mengesampingkan yang lain. Misal, tujuan benar untuk memuliakan tamu, tapi caranya dengan memberi teh manis pada tamu yang menderita diabetes mellitus.


Pengelolaan Harta yang Shalih akan membuahkan Adil dan Taqwa

Ketika Anda memiliki harta, apa yang bisa/harus Anda perbuat dengan harta itu? Ada tiga kemungkinan rasional yang bisa kita perbuat dengan harta itu, yaitu:

- menyimpannya
- membelanjakannya
- menginvestasikannya

Islam memberikan pertimbangan dan arahan bagaimana melakukan ketiga hal itu dengan benar, baik dan bermanfaat agar perbuatan kita menjadi (shalih).

1. Menyimpan Harta

Menyimpan harta hendaknya dilakukan sekadarnya saja untuk berjaga-jaga menghadapi keperluan kritis yang mendadak. Menimbun harta dalam jumlah besar dan berlama-lama bukanlah perbuatan yang shalih, baik ditinjau sudut teknis, finansial maupun moral. Orang yang menimbun-nimbun harta secara teknis dan finansial akan menghadapi problem-problem sebagai berikut:

* Problem keamanan, penyimpanan dan pemeliharaan fisik
Harta benda akan menyita ruang penyimpanan, berupa tanah memerlukan pemagaran dan pengawasan agar tidak diserobot orang, berupa hewan dan tumbuhan memerlukan makan/pupuk dan pemeliharaan, berupa uang/emas memerlukan tempat yang aman.
* Problem psikis/kejiwaan.
Uang yang ada di tangan mendorong orang untuk boros (gatal belanja); mobil dan perhiasan yang dipakai membuat orang tampil sombong sekaligus merasa tidak aman (takut dirampok).
* Problem ekonomis
o Inflasi
Meningkatnya harga barang dan jasa sehingga untuk membeli barang/jasa tersebut diperlukan uang yang lebih banyak.
o Depresiasi
Berkurangnya nilai suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Berkurangnya harga barang seiring dengan berjalannya masa.
o Pajak
Pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor.
o Zakat
Bahkan harta anak yatim pun terkena zakat, apalagi harta orang biasa. Emas yang disimpan terkena zakat. Tanah / bangunan yang tidak ditinggali dan tidak digunakan sebagai alat produksi terkena zakat setiap tahun.


Maka mendepositokan uang bukanlah cara yang tepat (shâlih) untuk menambah kekayaan. Deposito hanya cocok untuk hedging dan memarkir sementara dana yang idle.

1. Problem penilaian moral

Secara moral Islam mencela orang yang suka menyimpan/mengendapkan harta dan tidak melibatkannya dalam aktifitas perekonomian.
”Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak, serta tidak membelanjakannya di jalan Allah, sampaikanlah kabar gembira pada mereka tentang adanya azab yang sangat pedih…”
(QS 9:34)

”Celakalah setiap pengumpat dan pencela; yang sibuk menimbun harta dan menghitung-hitungnya; menyangka hartanya akan membuatnya kekal; tidak, dia akan dicampakkan kedalam Huthamah; tahukah engkau apa itu Huthamah?; api Allah yang menyala-nyala; yang menjilat hingga ke ulu hati.”
(QS 104:1-7)

“…agar harta tidak beredar di kalangan orang kaya di antaramu saja…”
(QS 59:7)

Karena itu menyimpan harta bukanlah pilihan yang terbaik. Bahkan dengan mendepositokannya kita hanya menambah nilai nominal harta pokok dengan bunga, tapi setelah dikurangi pajak, inflasi, depresiasi dan zakat sebenarnya nilai ekonomis uang kita berkurang. Kalaulah tidak karena untuk berjaga-jaga terhadap kebutuhan kritis yang mendadak sebaiknya kita tidak menyimpan harta. Simpanlah harta sekadar kebutuhan berjaga-jaga, selebihnya investasikan (libatkan dalam proses ekonomi).

2. Membelanjakan Harta (Infaq, Nafqah, dan Shadaqah)

Dalam bahasa Arab anfaqa bermakna membelanjakan harta (to spend) dan infâq bermakna pembelanjaan (spending).

Dalam aktifitas perekonomian infaq menempati posisi yang sangat penting, sebab dengan adanya infak (pembelanjaan) akan meningkatkan peredaran uang di pasar, menumbuhkan permintaan (demand) terhadap barang dan jasa; mengundang adanya penyediaan barang/jasa (supply); merangsang kegiatan produksi; dan akhirnya mendorong orang untuk berinvestasi.

Rumus pendapatan nasional dalam ekonomi makro adalah Y = C + I + G + X – M dimana:
C = konsumsi, belanja masyarakat;
I = investasi;
G = belanja pemerintah;
X = ekspor;
M = impor.

Artinya, kalau belanja masyarakat (C) meningkat maka keseluruhan pendapatan nasional juga akan meningkat. Karena itu membangun perekonomian suatu bangsa dapat di-push dengan investasi atau di-pull dengan konsumsi (belanja masyarakat). Ketika Indonesia mengalami krisis moneter dimana para investor banyak yang lari meninggalkan Indonesia, salah satu kebijakan pemerintah adalah mendekatkan hari-hari libur nasional dengan hari Ahad sehingga liburan akhir pekan menjadi lebih panjang. Orang akan lebih leluasa berlibur ke daerah dan membelanjakan hartanya sepanjang perjalanan. Aktifitas belanja inilah yang menarik roda perekonomian rakyat untuk terus menggelinding sehingga dampak negatif dari lemahnya investasi dapat dikurangi.

Dalam Islam, infaq (aktifitas belanja) terkait langsung dengan ketaqwaan seseorang. Allah SWT membenci orang yang menimbun-nimbun harta, mengendapkannya begitu saja, sehingga tidak terlibat dalam proses ekonomi dan tidak membawa manfaat bagi orang banyak.

“…orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang membelanjakan harta, baik dalam keadaan lapang maupun sempit…”
(QS 3:133-134)

Bahkan dalam keadaan sempit (misal, krisis ekonomi) orang harus tetap membelanjakan hartanya baik untuk nafkah keluarganya maupun untuk shadaqah bagi orang lain. Infaq (belanja) untuk kepentingan sendiri dan keluarga disebut nafaqah (nafkah), sedangkan untuk kepentingan orang lain disebut shadaqah.

Shadaqah berasal dari kata shaddaqa yang artinya membenarkan. Di dalam al-Qur’an Allah SWT banyak berjanji untuk memberikan balasan berlipat ganda pada orang-orang yang membelanjakan harta di jalan-Nya (untuk fakir miskin dan kepentinga umum lainnya). Lalu banyak orang yang membenarkan (shaddaqa) janji-janji tersebut, karena mereka mengimani Allah SWT. Maka harta yang dibelanjakan di jalan Allah, dalam rangka membenarkan (shaddaqa) janji-janji Allah, disebut shadaqah.

Nafkah (belanja untuk diri-sendiri dan keluarga) otomatis akan terjadi dengan sendirinya karena orang memerlukannya, sehingga tidak memerlukan dorongan moral. Tapi shadaqah (belanja untuk kepentingan pihak lain) sangat memerlukan rangsangan moral karena manusia berkecenderungan untuk pelit. Maka jangan heran kalau al-Qur’an banyak berbicara tentang shadaqah atau infaq dalam konteks shadaqah, tapi tidak terlalu banyak bicara tentang nafkah.

Bagi orang yang sering bingung membedakan infaq dan shadaqah, sekarang jelaslah sudah bahwa shadaqah adalah bagian dari infaq, atau, salah satu bentuk infaq adalah shadaqah. Shadaqah adalah infaq yang ditujukan bagi kepentingan orang lain (umum), bukan untuk diri sendiri/keluarga. Hukum dasar shadaqah adalah wajib, tidak boleh ada orang yang tidak membelanjakan hartanya untuk kepentingan orang lain.

“Ambillah dari harta mereka shadaqahnya, dengan itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka; dan doakanlah mereka sesungguhnya doamu akan menenteramkan mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
(QS 9:103)

Karena wajibnya, maka shadaqah bukan saja bisa ditunaikan berdasarkan inisiatif dan kerelaan pribadi tapi juga bisa dipaksakan pada pribadi-pribadi yang enggan melakukannya. Tentu saja yang memiliki daya paksa itu adalah lembaga publik (negara), bukan sembarang orang.

Namun, meskipun hukum dasar shadaqah adalah wajib tapi Allah SWT tidak menentukan jumlah maksimalnya. Yang ditentukan adalah jumlah minimalnya. Jumlah minimal shadaqah itulah yang disebut zakat. Jadi zakat adalah seminim-minimnya shadaqah! Zakat adalah bagian dari shadaqah yang tidak bisa tidak ditunaikan.

Maka, yang seharusnya banyak dipromosikan adalah shadaqah. Orang harus didorong untuk banyak bershadaqah, harus dibangkitkan kesadarannya untuk bershadaqah sebanyak-banyaknya. Kalau yang dipromosikan cuma zakat, itu sih cuma minimalnya shadaqah.
Bahwa buku-buku fiqih (hukum Islam) banyak menekankan soal zakat karena zakat adalah jumlah minimal shadaqah yang wajib dikeluarkan, yang kalau tidak dikeluarkan orang akan berdosa. Namun kalau kita cermati keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an tentang itu, semangatnya adalah mendorong orang untuk bershadaqah yang maksimal, bukan yang minimal.

“Maka adapun orang yang suka memberi dan bertaqwa, lalu membenarkan (shaddaqa) kebaikan, maka (Allah SWT) akan memudahkannya pada kemudahan;

dan adapun orang yang kikir dan menimbun-nimbun harta, lalu mendustakan kebaikan, maka (Allah SWT) akan memudahkannya pada kesulitan.”
(QS 92:5-10)


Ayat di atas menampakkan lawan-lawan sikap sebagai berikut:

memberi vs kikir

taqwa vs menimbun harta

membenarkan vs mendustakan

kemudahan hidup vs kesulitan hidup


Bila ingin mendapatkan kemudahan hidup banyaklah memberi, karena banyak memberi adalah cermin ketaqwaan sekaligus bukti bahwa Anda membenarkan janji-janji Allah. Sebaliknya kikir dan menimbun-nimbun harta adalah cerminan sikap mendustakan agama (seakan Tuhan dan akhirat tidak ada) dan hanya akan mengarahkan pada kesulitan hidup.

“Shadaqah yang tercampur dalam suatu harta akan merusak harta itu secara keseluruhan.”
(HR al-Bazzar dan al-Bayhaqi)

“Shadaqah yang utama adalah yang diberikan dengan kesungguhan oleh orang yang dalam kesempitan.”
(HR Abu Hurayrah)

Karena zakat adalah minimalnya shadaqah, maka pada zakat ada batas-batas minimal seperti:

* minimal nilai harta yang dikenakan zakat (nishab),
* minimal tarif zakat 2 ½ %, 5 %, 10 %, 20 % (pembayaran melebiha tarif disebut shadaqah),
* minimal waktu penyimpanan harta yang terkena zakat (hawl), dan
* minimal target orang yang menerima zakat (8 ashnâf)
.

Boros belanja

Betapapun Islam mendorong orang untuk berinfaq namun Islam tidak mengizinkan orang untuk boros dalam berinfaq. Orang tidak boleh boros dalam memberi nafkah, juga tidak boleh boros dalam memberi shadaqah.

“Dan orang-orang yang ketika membelanjakan hartanya tidak berlebihan (israf), juga tidak pelit, mereka bersikap pertengahan.”
(QS 25:62)

Isrâf (boros) dalam nafkah (membelanjai diri sendiri/keluarga) jelas tidak baik karena akan menimbulkan obesitas (kegemukan), gangguan kesehatan, kesombongan dan kemubadziran. Boros dalam shadaqah juga tidak baik, karena tidak efektif dalam memberantas kemiskinan (membuat fakir miskin semakin menggantungkan nasib pada shadaqah), tidak menjamin pemerataan distribusi shadaqah, juga membuat shadaqah tidak berkelanjutan (misal, bertumpuk pada bulan ramadhan saja).

Kesimpulan sementara:

* Menyimpan harta hendaknya dilakukan sekadarnya saja, hanya untuk berjaga-jaga memenuhi kebutuhan kritis. Harta selebihnya hendaknya dibelanjakan dalam bentuk infaq nafkah maupun infaq shadaqah.
* Tapi membelanjakan harta (infaq) pun tidak boleh boros dan berlebihan. Cukup yang pertengahannya saja. Sedangkan harta masih bersisa. Lalu apa lagi yang harus diperbuat dengan sisa harta itu?
* Lakukanlah investasi!

3. Menginvestasikan Harta

Investasi adalah penyertaan harta dalam aktifitas ekonomi yang produktif untuk menghasilkan nilai tambah. Ada banyak keutamaan (afdhaliyât) dari investasi antara lain:

* Harta tumbuh berkembang.
Investasi (selain beresiko rugi) juga memberikan nilai tambah sehingga harta akan terus tumbuh dan berkembang nilainya. Dengan itu akan ada lebih banyak kemanfaatan yang bisa dihasilkan.
* Warisan yang banyak bagi anak cucu.
Islam mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah dan meminta-minta. Maka harus ada investasi untuk menyiapkan warisan yang banyak bagi generasi berikutnya.
* Efek Pengganda (muliplying effect).
Dengan investasi akan ada lebih banyak pabrik dan kantor yang dibangun, lapangan kerja akan terbuka lebih luas, pengangguran terkurangi, lebih banyak supplier dibutuhkan.
* Shadaqah berkelanjutan.
Dari keuntungan dari investasi dikeluarkan shadaqahnya (minimal zakatnya). Karena investasi adalah proses yang berkelanjutan maka shadaqah pun tersedia secara berkelanjutan. Orang boleh saja menshadaqahkan 100% hartanya, tapi dengan itu dia hanya bershadaqah sekali saja. Tapi dengan invesatasi shadqah bisa dilakukan berulang-ulang.
* Insentif.
Dengan empat keutamaan di atas maka Allah SWT pun memberikan insentif terhadap investasi. Harta yang diinvestasikan sebagai modal tetap tidak dikenakan zakat terhadapnya. Zakat (shadaqah) adalah manfaat sosial dari harta. Harta yang diinvestasikan sudah memberikan manfaat sosialnya (dalam bentuk point 3 dan 4 di atas) maka ia tidak dikenakan zakat lagi. Contoh harta sebagai modal tetap adalah ruko, pabrik dan perkebunan. Sedangkan barang dagangannya (inventory), masuk kategori harta simpanan, karenanya tetap dikenakan zakat. Begitu juga hasil panen atau hasil sewanya.

Kalau Anda membeli rumah baru (selain yang Anda tinggali sekarang) lalu Anda membiarkan saja rumah itu (tidak disewakan, misalnya) maka status rumah itu adalah harta simpanan. Rumah itu harus dibayarkan zakatnya setiap tahun (2 ½ % dari nilai pasarnya yang mengendap selama setahun). Karena setiap tahun nilai rumah itu terus meningkat, maka zakat yang harus Anda keluarkan juga meningkat setiap tahunnya. Anda pun harus mengeluarkan biaya pemeliharaannya.

Tapi kalau Anda beli rumah itu untuk disewakan, maka statusnya adalah sebagai barang modal tetap. Rumah itu tidak dikenakan zakat. Yang dikenakan zakat adalah hasil sewanya saja (itu pun setelah dikurangi biaya pemeliharaan). Sebab dengan menyewakannya Anda tidak menyebabkan rumah itu menjadi sumber daya ekonomi yang idle, rumah itu memberi multiplying effect bagi penyewanya dan masyarakat luas (misal kantor tempat si penyewa bekerja).

Dari semua uraian di atas nampak Islam mendorong orang untuk berinvestasi. Tinggal lagi masalahnya adalah bagaimana investasi itu dilakukan, apa perangkat dan tekniknya, organisasi dan metodenya, persyaratan dan evaluasinya, perencanaan dan pengendaliannya, tempat dan waktunya, sasaran dan targetnya, serta pertimbangan-pertimbangan lainnya. Maka untuk lebih lengkap memahami itu semua Anda harus menuntaskan mengkaji artikel ini. Apa yang penulis sampaikan di atas baru dimensi normatif dari pengelolaan harta. Sedangkan dimensi praktis dan aplikatifnya akan diuraikan pada kesempatan berikutnya.

Selamat berinvestasi !!!

Selasa, 03 Februari 2009

BANGSA YANG KEHILANGAN RUJUKAN


Bangsa yang Kehilangan Rujukan Budaya'
Prof. DR. Ahmad Syafii Maarif
http://www.muhammadiyah.or.id
Rabu, 02 Juli 2008


ImageUngkapan dalam judul ini tidak berasal dari saya, tetapi dari Bung Saini KM, sastrawan dan dramawan, asal Sumedang, lahir 18 Juni 1938. Sejak beberapa tahun terakhir kami sama-sama menjadi anggota Akademi Jakarta (AJ). Bung Saini yang santun dan tidak banyak bicara, tetapi sudah terlatih berpikir dalam, karena itu ia gelisah mengamati kultur bangsa yang sedang jatuh.

Dalam sebuah wawancara panjang, Saini sampai kepada kesimpulan bahwa bangsa ini secara kultural sedang kalah. Berbagai indikator telah dibentangkannya dalam wawancara itu. Pada saat berbicara tentang tindak kekerasan yang sedang marak di mana-mana dengan berbagai alasan, Saini meneropong akar pokoknya karena bangsa ini telah kehilangan rujukan budaya. Kulturalisasi (pembudayaan) telah ditelan komersialisasi yang ganas dan dangkal.

Lebih rinci Saini bertutur: "Perilaku keras, beringas, korupsi, keterpurukan ekonomi yang berkelanjutan adalah pertanda kekalahan budaya itu. Karakter bangsa dibentuk oleh kreativitas bangsa itu sendiri. Kreativitas itu akan berkaitan erat dengan kesejahteraan dan kekenyalan bangsa ketika menghadapi persoalan. Bangsa yang kreatiflah yang akan bertahan dan kukuh berdiri di tengah bangsa-bangsa lain."

Saini berkali-kali mengatakan: "Kita kalah," sebuah rintihan sastrawan yang mestinya mendapat tanggapan, dari mereka di panggung kekuasaan. Dengan menyadari secara sungguh-sungguh bahwa kita memang lagi berada di bawah, siapa tahu kita bisa bangkit kembali dari segala macam ketidakberesan yang menyesakkan napas. Sebab itu, kata Saini, kita perlu rujukan budaya tradisi yang bernilai dinamis dan positif yang memang terdapat pada semua subkultur bangsa ini.

Saini juga mengkritik perilaku elite yang seenaknya saja menjual aset-aset bangsa tanpa perhitungan jangka panjang. Memang, telah lama terlihat elite bangsa ini gemar 'menggadaikan' kedaulatan, demi menutup defisit anggaran. Orang yang kehilangan rujukan budaya akan dengan enteng saja menjual segala yang mungkin dijual, tidak mau berpikir panjang; dengan menempuh cara yang serbapragmatis itu, mereka tidak sadar pada akhirnya kedaulatan bangsa yang akan terjual. Bukankah dengan demikian kita telah mengundang sosok penjajah dalam format lain?

Bung Hatta, dalam usia 26 tahun, dalam pidato pembelaannya di depan mahkamah Belanda di Den Haag, pada 9 Maret 1928, berkata: Selamat tinggal politik memohon dan mengemis! Selamat tinggal politik mohon restu! Selamat tinggal politik menadahkan tangan!

Politik mengemis dan menadahkan tangan kepada asing adalah bagian dari kultur budak. Bukankah kutipan Bung Hatta itu terlahir dari pemimpin yang punya harga diri, sekalipun pada waktu itu Indonesia masih terjajah? Dengan kebiasaan kita menjual aset strategis kepada pihak asing, bukankah itu berarti kita telah kehilangan ketegasan sikap membela kedaulatan bangsa dan negara? Terakhir bergulir pula berita Krakatau Steel (KS), juga mau dijual ke asing. Tetapi, karena ada perlawanan dari dalam dan bantuan pers dan tokoh-tokoh masyarakat, kabarnya KS tidak jadi dijual. Coba banyangkan KS sebagai industri baja strategis bagi pertahanan negara, lalu dikuasai asing, bukankah dengan cara latah itu kita telah menggadaikan kedaulatan kita? Mengapa kita dengan mudah saja 'menadahkan tangan' kepada asing agar mau membeli aset yang sebenarnya mampu kita kelola sendiri?

Dalam situasi bangsa yang sedang kehilangan rujukan budaya ini, saya mengimbau semua komponen bangsa yang masih siuman untuk berteriak lebih keras dan lantang lagi tetapi santun untuk mengingatkan pihak pemerintah dan DPR agar berhati-hati membuat keputusan penting. Salah-salah tingkah, akibat buruknya akan ditanggung oleh anak cucu kita di kemudian hari. Jangan-jangan yang tersisa buat mereka nanti hanyalah ampas Republik yang telah sangat merana dan telah kehilangan segala-galanya. Kritik seorang seniman santun Saini patut benar direnungkan.

Republika, 1 Juli 2008

Rabu, 28 Januari 2009

Inspirasi


SEMANGAT BERBAGI BUKAN MENGGEROGOTI

Renungan : Eko Bayu Aji
Sudah sekian lama kita dikenal sebagai negara muslim terbesar di dunia, ada teman yang nakal mengartikan besar jumlah orangnya aja bukan besar karya dan perannya. Apa itu benar??

Kita teliti lagi bahwa peran kita di dunia Muslim belum banyak didengar seperti negara kaya di Arabia sana atau di timur tengah sana, kita masih repot berbenah. Jadi contoh model Demokrasi, Ekonomi Kerakyatan, atau Hak Azasi, penegakan Hukum, dan lain - lain. Semua itu ada harganya gak gratis, kita harus juga acungi apresiasi bagi perjuangan ide-ide mereka. Tapi mana ide yang membuat kita tegak, bangga, dan harga diri sejajar dengan teman sepermainan waktu kecil seperti Singapura, Thailand, Vietnam, Australia, serba kita harus berbenah gak ada kata menyerah. Apalagi mau jadi model negara muslim dunia masih perlu waktu,kita terlalu lama dan terlalu banyak santai, malas, menggantungkan orang lain, kesukuan,pilih2 teman, ayo hilangkan perbedaan. Kita Sama makhluk Tuhan yang ada di dunia ini wajib bagi umat muslim khususnya berbuat kebaikan pada siapa saja kita jadikan ini model peradaban manusia Indonesia.

Semangat menggerogoti ada dimana mana, ga usah bilang korupsi uang dulu... liat kita telah membuang banyak waktu untuk saling menyalahkan, santai,malas belajar, dan tidak mau mentransfer teknologi negara lain akhirnya yang kaya yang 'berkuasa' dan yang miskin yang 'tidak berkuasa' setelah yang 'tidak berkuasa' memerintah juga mental belum di up grade berulang terus lupa lupa..apa yang harus diprioritaskan kelupaan. Jadi Sarjana lupa tugasnya,jadi Magister mana karyanya, jadi Profesor mana karya nyatanya buat masyarakat? atau ada yang buntu ini? gimana solusinya? apa dengan debat di TV,koran,radio? Rakyat butuh kerja,anak perlu sekolah, orang sakit butuh obat, negara butuh dana buat rakyat, orang pintar butuh fasilitas untuk penelitian, semua punya kebutuhan..jadi ayo minimal jangan jadi penyebab kebuntuan karena "Visi menjadi manusia Bermanfaat" itu nasehat Nabi SAW yang mudah diucapkan tapi perlu kesabaran dan kekuatan untuk menjalankan.

Semangant berbagi juga diukur dari seberapa derma kita atau sedekah kita pada kaum yang kurang 'beruntung'.. sebenarnya banyak potensi otak manusia Indonesia yang unggul dan cerdas2. Cuman mental atau akses perlu kita buka lebar dan semua secara bersama-sama bekerja sama jangan salahkan negara aja kalo susah tapi kelakuan kitalah yang bikin tumpukan tabungan kesulitan semua orang...

Jangan-jangan penulis juga bagian dari kemalasan???atau agen kemalasan??
Cuma dari diri sendiri saya cuma bisa menghimbau sudah kah saya baik??
Penulis melanjutkan minum seteguk kopi hangat sambil berucap " Segala Puji Bagi MU" Hamba berserah dan berusaha"

Semoga kita terus maju dan jadi pencerah sekitar kita. Amien

MENCINTAI ORANG LAIN



Mencintai orang lain
By Republika Newsroom
Rabu, 28 Januari 2009 pukul 10:57:00


Jauhilah yang haram, niscaya kamu menjadi ahli ibadah. Relalah dengan rezeki Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi yang terkaya. Berperilakulah yang baik kepada tetanggamu, niscaya kamu termasuk orang mukmin. Cintailah orang lain pada hal-hal yang kamu cintai untuk dirimu, niscaya kamu tergolong muslim. Nabi Muhammad SAW

Kyai Alhamdulillah (begitulah julukan beliau) di dusun sunyi di kota Rembang, Jawa Tengah, di tengah pesantrennya, begitu dahsyat mencintai orang lain. Beliau menurunkan peraturan: siapa pun yang bertamu di rumahnya, dilarang keras untuk pulang sebelum makan terlebih dulu. Maka, tamu-tamu yang datang itu, biar pun berjumlah lima belas orang, semuanya dijamu dengan hidangan yang setaraf dengan suguhan orang kota. Subhanallah. Begitu tekun ia mempraktekkan sunnah Rasul, bahkan dengan daya tafsir yang begitu indah. Tiga hal yang elok telah beliau tunjukkan: mencintai orang lain, kedermawanan, dan kearifan.

Bertolak belakang dengan gejolak masyarakat yang berangkat ke arah sebaliknya, sang Kyai telah menjungkirbalikkan sisi gelap norma-norma yang telah menghantui kehidupan. Inilah zaman di mana di negeri kita pemujaan kepada materi sudah mencapai taraf yang tak dapat dibayangkan oleh akal sehat. Sudah tidak penting lagi apakah kekayaan yang didapat itu penuh bergelimang dengan keringat, airmata, dan darah orang lain. Sudah tak peduli kerakusan itu dapat menggoyahkan keutuhan berbangsa dan bernegara. Lalu muncul sang Kyai, dan banyak lagi kyai yang lain yang berteberan di dusun-dusun, yang diam, tekun, dan menjalankan syariah agama dengan kesungguhan seorang cendekiawan.

Mencintai orang lain, mendahulukan kepentingan orang lain, tanpa pamrih, tanpa sogokan, merupakan ''binatang langka'' untuk kurun waktu yang sedang kita hidupi sekarang ini. Di pusat-pusat pemerintahan, orang seperti Pak Kyai ini seharusnya memegang tampuk pimpinan, pengambil kebijakan dan keputusan bagi kepentingan orang banyak, tanpa pandang bulu. Memang, hal itu butuh keyakinan, keberanian, dan belas kasih, tanpa mengharap imbalan jasa. - ah

Jumat, 02 Januari 2009

TENANG ..Pasti..Ada solusinya


Tenang....., Pasti ada solusinya..."
oleh: Nurcahyo

Tenang dan Iman adalah rahmat
Setiap manusia yang hidup didunia, tidak pernah bisa menghindar dari sesuatu yang kita sebut sebagai masalah/problema/persoalan. Karena setiap mahluk yang berpikir, akan selalu merasa ada yang harus diprioritaskan untuk disikapi. Karenanya itu, keimanan sangat diperlukan dalam diri individu. Jika saja umat manusia tidak diberi iman (keyakinan) oleh Allah Swt, akan banyak sekali orang yang bunuh diri sebelum menghadapi persoalannya, akan banyak sekali orang orang yang berbenturan, akan kacau dunia ini tanpanya.. Iman.. yang secara fitrah dimiliki oleh setiap insan.
Individu yang memelihara imannya dengan baik, insyaAllah akan memiliki sikap tenang yang baik, akan terlihat secara lahir (perilaku) dan terasa didalam batin. Seperti halnya Rasululloh Saw, seorang manusia yang diberi rahmat ketenangan batin yang kuat oleh Allah Swt, karenanya itu jika kita ingat kembali kisah kisah Rasulullah Saw dan para sahabatnya, jelas sekali diterangkan bahwa para sahabat Rasul merasa tenang jika berada didekat beliau. Ternyata sikap tenang itu dapat memvibrasikan ketenangan pula kepada lingkungan sekitar. Karena orang yang tenang, yakin bahwa setiap persoalan yang menghadangnya, Allah Swt senantiasa menuntunnya.
Akan tetapi, ketika manusia sudah buntu dengan jalan pikirannya, sudah kusut dengan perasaannya, bagaimana mencari solusi untuk menghadapi permasalahannya, hanya ada 2 pilihan yang dapat dilakukan, yaitu ingat kepada Allah swt dan berusaha mendekatkan diri padaNya atau memilih jalan yang tidak diridhoi oleh Allah Swt dan terjebak dalam lingkaran setan... (Na’udzubillah..).
‘Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya..’ (QS_2 : 286), Bahwa Allah Swt melimpahkan rahmat kepada seluruh mahluk diseluruh alam raya ini, termasuk perasaan tenang dan solusi (petunjuk). Subhanallah.. Begitu luasnya rahmat Allah Swt pada kita. Jika saja setiap individu meyakini ayat ini, insyaAllah.. kita tidak akan mendapati banyak orang yang membunuh dirinya sendiri atau bahkan orang lain, tidak akan banyak orang yang terkena stress karena keadaan ekonomi. Ketika penulis mendengar ada seorang ibu yang membunuh kedua anaknya yang masih balita karena kondisi ekonomi keluarganya yang terpuruk, Astaghfirullah.. Tambah lagi pembelajaran kehidupan bagi penulis, agar kita senantiasa mendoakan ibu itu dan juga Negara Indonesia agar perekonomian bangsa kita kembali stabil. Dan kita sebagai ummat muslim, disarankan untuk saling membantu, padahal jika merujuk kembali kepada konsep sedekah dalam islam seperti halnya infak dan zakat mal, tentunya kecemburuan sosial ekonomi, kemiskinan, kebodohan tidak akan se-merajalela sekarang ini.

Saling mengingatkan untuk kebenaran dan kesabaran
Bumi kita saat ini sudah semakin tidak stabil, tidak seimbang disebabkan oleh keberadaan insan yang cenderung menyikapi permasalahannya dengan menyakiti mahluk/individu lain. Bahkan alam pun terkena dampak perilaku ke-tidakseimbang-an ini, mulai dari penebangan hutan yang berlebihan, eksplorasi sumber daya alam yang tidak sesuai aturan. Mungkin, tanpa disadari, kitapun sering melakukan hal ini, walaupun baru kecil kecilan, tidak terkecuali penulis. Memang bukan suatu kesalahan jika kita memanfaatkan mahluk ataupun alam sebagai salah satu alternative solusi hidup yang positif, asal tidak dengan kadar yang berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan akan merusak keseimbangan. Indikasi perilaku tidak seimbang adalah ketika keinginan keinginan pribadi individu ataupun organisasi cenderung menghalalkan segala cara, cenderung tidak memikirkan kepentingan orang lain, cenderung menyakiti lingkungan sekitar, oleh karena itu, jika kita kaitkan dengan salah satu ayat Al-Qur’an dalam QS. Al-Ashr bahwa setiap muslim seharusnya bisa saling mengingatkan tentang berbuat kebenaran dan berbuat sabar. Sangat damai jika kemasan ‘mengingatkan’ yang disampaikan-pun sesuai tuntunan islam, yaitu dengan bahasa santun dan perilaku yang menenangkan.

Kisah Nabi Musa dan doanya
Sebuah kisah yang diambil dari QS_20 ayat 25-28, ketika Nabi Musa AS menghadapi Fir’aun dan para pengikutnya untuk menyerukan Tauhid dan berbuat Keadilan, Nabi Musa AS yakin dan bertawakal pada Allah Swt agar beliau dijauhkan dari rasa takut dan gugup.. beliau berdo’a. ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, lepaskanlah halangan dari lidahku, agar mereka dapat memahami ucapanku’. Tenang.. doa ini membuat dia tenang.. kedekatannya kepada Allah SWT membuat hati, pikiran dan perilakunya sangat tenang, karena dia sangat yakin bahwa Allah dengan ke-Maha Besarannya akan membimbing dan mempermudah jalannya menuju situasi yang lebih baik dari kemungkinan kemungkinan buruk yang diduga.



Tenang memunculkan potensi
Sikap tenang dapat memunculkan potensi yang dimiliki oleh setiap individu, petunjuk dari Allah Swt pun akan lebih mudah hadir. Ada cerita menarik, ketika seseorang diuji dengan proses ketenangan yang berkaitan dengan potensi intuisi yang dimilikinya. Adalah seorang mahasiswa salah satu universitas terkemuka di yogyakarta yang baru saja selesai mengenyam pendidikan Sarjana Hukumnya di daerah itu. Orang tua kandungnya bertempat tinggal di Jakarta. Mahasiswa itupun harus memilih tempat apakah di Yogya ataukah di Jakarta untuk meneruskan studi masternya. Singkat cerita, akhirnya dia berencana untuk meneruskannya di yogya saja, karena sudah kadung cinta dengan daerah istimewa ini. Dalam perjalanannya di yogyakarta, tiba tiba hati kecilnya menggerakkannya harus kembali ke Jakarta, dan dia tidak mengerti mengapa demikian (tidak sesuai rencana). Dalam setiap langkah hidupnya dia selalu merasa ada yang membimbingnya. Intuisi / instingnya mengarahkan dia harus ke Jakarta. Dengan sikap tenang dan perasaan yakin, dia tidak memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah sampai di Jakarta. Beberapa minggu kemudian setelah sampai Jakarta, dia bertemu dan diajak oleh temannya untuk menemaninya mendaftar ujian PNS, diapun disarankan oleh temannya untuk mendaftarkan diri juga. Lucunya, sebenarnya dia tidak ingin menjadi PNS, karena menghargai temannya akhirnya dia ikutan. Tetapi tidak pernah diduga sebelumnya, akhirnya dia lolos seleksi.. Alhamdulillah.. dan master hukumnya-pun diteruskan dengan biaya dari kantornya. Subhanallah.. Padahal dia tidak pernah mengetahui apa yang akan didapatkannya dengan mengambil sikap demikian.. Wallahu ‘alam.. Ternyata Allah Swt lebih mengetahui yang terbaik buat dia. Sikap tenang merupakan tahapan awal dalam mencapai solusi permasalahan.

Tips menyikapi permasalahan dengan 5T :
I. Tenang

* Allah sangat dekat dengan hambanya yang tenang
* Dengan tenang, pikiran akan lebih jernih dan akan lebih mudah untuk memanajemen emosi
* Menarik nafas dalam dalam ketika marah dapat membantu mencairkan ego

Tips menenangkan diri dengan relaksasi spontan :
a. Posisi duduk dikursi
b. Punggung tidak bersandar kekursi, sikap duduk tidak perlu di tegak tegakkan atau dibungkuk bungkukkan, rileks saja
c. Telapak kaki menyentuh lantai (alas kaki lebih baik dibuka)
d. Kedua tangan diletakkan diatas paha
e. Cari posisi yang menurut anda paling nyaman dengan cara menggerakan sedikit dari bagian bagian tubuh anda
f. Pejamkan mata, fokuskan pikiran anda pada dada anda
g. Sambil menarik nafas melalui hidung, kerutkan telapak kaki, pantat, telapak tangan, dan wajah anda sampai optimal (note : ketika menarik nafas, bayangkan kecemasan anda)
h. Tanpa menahan nafas, langsung keluarkan nafas melalui mulut dengan spontan dan cepat.. kaki, tangan, pantat, wajah kembali keposisi semula
i. Kendurkan seluruh otot bagian tubuh anda
j. Ulangi tahapan ini dari ‘e’ sampai dengan ‘i’
k. Lakukan sampai 3x
Islam menganjurkan kepada kita, disaat memiliki problema, dekatilah Dzat yang Maha Pemberi Petunjuk dengan membaca dan mengamalkan Asmaul Husna atau mengkaji AlQur’an.. InsyaAllah jalan menuju kebahagiaan akan terbuka lapang.

II. Tekun
Menekuni niat awal (istiqamah).
Mencapai konsisten memang tidak mudah, selama manusia hidup didunia, kita diberikan kesempatan seluas luasnya oleh Allah Swt untuk menabung pahala didunia bakal bekal di akhirat.
Bioritme setiap orang mengalami fluktuatif setiap waktunya, karenanya itu kita sering merasakan mood nyaman dan tidak nyaman, adalah manusiawi jika diliputi hal demikian. Konsisten adalah bentuk dari sikap disiplin dan kedisiplinan merupakan salah satu bentuk dari sikap tanggung jawab. Sebagai khalifah yang mengemban amanah Allah Swt, ada baiknya kita melakukan sikap ini. Ketika mood sedang turun, sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk recharge jiwa dengan mengikuti pengajian, silaturahmi untuk saling mengingatkan hal hal positif, membaca buku tentang ajaran islam, mengkaji Al-Qur’an, terus meng-update wawasan dan pengetahuan tentang pedoman pedoman hidup cara islam.

III. Teliti
Teliti terhadap perbaikan diri sendiri. Berikan kesempatan pada diri kita untuk mengevaluasi diri, kelemahan apa yang harus diperbaiki, apa yang membuat orang lain kecewa pada kita sebagai insan yang tidak sempurna. Kita sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tetapi bukan berarti tidak memperbaiki diri, sebagai hamba Allah yang ingin menempati tempat yang mulia, proses perbaikan diri ini mutlak diperlukan, tetapi bukan berarti pula kita harus selalu mengikuti isi kepala orang lain (keinginan). Teliti adalah sikap memeriksa untuk mendapatkan hasil terbaik. Setiap individu berhak memberikan pandangan kepada kita, tetapi sebagai mahluk yang dikaruniai kemampuan untuk berpikir, kita juga diberikan kesempatan untuk memilih pandangan mana yang sesuai dengan kemampuan kita, yang sekiranya tidak akan banyak orang yang akan kecewa dengan hasil dari keputusan kita yang pada akhirnya menjadikan ‘itu’ sebagai solusi untuk mensejahterakan orang banyak.

IV. Tanggulangi

* Hadapi permasalahan anda dengan berpikir positif dan yakin bahwa anda diberi kemampuan oleh Allah Swt untuk dapat menyelesaikannya
* Hadapi persoalan anda dengan orang dan waktu yang tepat. Orang yang tepat adalah pihak yang terkait dengan persoalan yang anda hadapi. Waktu yang tepat adalah suatu masa dimana anda sudah sampai pada tahapan tenang, tekun dan teliti.
* Jangan menunda dan menghindari persoalan, karena persoalan tidak akan pernah selesai sampai anda menyelesaikannya.

V. Tawakal

* Yakin bahwa Allah Swt menuntun jalan hidup kita
* Menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt
* Merupakan tahapan inti dari seluruh tahapan, manusia menjalankan proses dan berusaha dengan totalitas, Allah Swt-lah yang menentukan yang terbaik untuk hambanya.

UMUR KITA BUAT APA?

Umur Kita Buat Apa?
kh.wafiudin

Di sebuah siang, selesai shalat dzuhur penulis buka-buka Al-Qur’an. Tiba-tiba mata penulis tertuju pada sebuah ayat dalam surat Al-Anbiya (21). Ayat pertama dalam surat itu sangat menarik perhatian penulis. Berulang-ulang ayat itu penulis baca.

"Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)." (QS Al Anbiya’: 1
)

Bahwa semakin dekat kepada manusia, saat-saat perhitungan untuk mereka, tapikarena bodohnya, karena lalainya, mereka lalu mengabaikan semua itu. Hal ini mengandung makna perjalanan waktu terus berputar. Waktu makin dekat dan akan datang saatnya kita menghadapi perhitungan-perhitungan atas segala perbuatan di dunia, namun kita sering lalai. Karena bodohnya kita atau karena sibuknya kita.

Manusia adalah mahluk serba bisa, bisa bertindak apa saja. Manusia bisa menggali gunung yang di dalamnya banyak tanah, pasir dan bebatuan, tidak hanya yang kecil bahkan yang besar-besar. Manusia mampu menyelam ke dalam lautan yang sangat dalam sekalipun. Manusia mampu menjelajah ruang angkasa. Manusia mampu menciptakan kabel yang sangat tipis namun bisa dilalui oleh informasi yang sangat banyak, dengan fiber optik manusia bisa membuat jaringan komunikasi, mendekatkan jarak yang saling berjauhan di dunia, dengan teknologi internet.

Nah, segala macam kehebatan sainsdan teknologi itu memperkokoh keyakinan pada diri kita bahwa manusiadapat melakukan segala-galanya. Kemudian muncul sebuah pertanyaan dalam benak penulis,kalau memang manusia bisa mengatasi semua masalahnya, suatu saat nanti,maka keyakinan akan keberadaan Tuhan bisa saja semakin hari semakin tipis.Kemudian manusia semakin punya harapan bahwa kehidupan itu bisa lebih dinikmati dengan semakin panjang karena segala-galanya bisa diciptakan. Kesan-kesan seperti itu muncul manakala kita menyadari keberadaan yang kolektif bersama manusia lain. Ketika kita sadar, kita hidup bersama manusia lain. Saling memberi, saling memberikan manfaat, saling memberikan sumbangan-sumbangan, maka seakan-akan muncul kekuatan itu, kepercayaan diri.

Tetapi seringkali kita lupa bahwa kita juga makhluk individual yang Allah mematikan manusia dengan konsep-konsep yang tidak kolektif. Setiap manusia menghadap Allah secara individu. Hubungan manusia dengan Allah bersifat individual yang tercermin pada Surat Al Baqarah ayat 286:

"…Lahaa Maa Kasabat Wa ‘alayhaa mak tasabat…" artinya: …seseorang mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…

Termasuk di dalamnya peristiwa kematian. Ia bersifat individual dan tidak bisa dicegah secara kolektif. Biasanya apabila manusia menghadapi kematiannya, ia akan sangat egois. Perhatikan kisah-kisah kapal laut yang karam, pada beberapa peristiwa kecelakaan kapal laut, para penumpangnya lebih menyelamatkan dirinya sendiri, meski di sampingnya ada anggota keluarga terdekat. Seorang ayah, secara sadar atau tidak, melepas anaknya. Suami istri saling melepas pasangannya ketika diamuk gelombang dan disaat mulai tenggelam.

Perhatikan juga Al Qur’an Surat ‘Abasa (80) ayat 33-37:
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua) (33) pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya (34) dari ibu dan bapaknya (35) dari istri dan anak-anaknya (36) Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (37)”


Dengan kemajuan teknologi, manusia akhirnya berasumsi kiamat rasanya masih panjang, karena segala macam problem-problem alam, bencana-bencana alam, masih bisa diatasi oleh manusia secara kolektif. Tetapi lain halnya dengan kematian. Ia tidak bisa dihindari secara kolektif maupun individual. Ia kapan saja bisa datang, sehingga wajar orang bilang kematian adalah kiamat kecil.

Jika kita renungkan, semakin hari kiamat kecil semakin dekat dengan kita. Usia kita, meski secara urut baris selalu bertambah, tetapi ternyata semakin mendekati azal, sementara kita tidak sadar apa yang sudah kita perbuat dalam hidup ini.

Allah Swt berfirman dalam surat Al Hasyr (59): 18
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…"

Lagi-lagi itu tadi; “Iqtaraba linnas” artinya telah semakin dekat bagi manusia saat-saat evaluasi untuk dirinya, saat-saat perhitungan untuk dirinya. Namun kebanyakan manusia terlena dalam kelalaiannya sehingga mengingkari keberadaan mati dan kiamat itu. Secara kolektif mungkin masih berpikiran kiamat ‘masih panjang’ tetapi secara individual tidak lama lagi kita akan mati. Apabila pada setiap pertambahan tahun terjadi pengurangan jatah kehidupan. Sedangkan Allah membatasi usia hingga umur 40 tahun, sekarang 39 tahun, maka sisa satu tahun lagi. Betapa singkat waktu tersisa bagi kita. Rugilah kita apabila hidup tidak diisi dengan iman dan amal shaleh.

Berbicara masalah waktu ada beberapa hal yang berhubungan dengan waktu, antara lain:

* Waktu adalah sesuatu yang unrenewable, sesuatu yang tidak bisa diperbaharui,
* Waktu adalah sesuatu yang unsubstituted, sesuatu yang tidak bisa diganti,
* Waktu adalah sesuatu yang unrecycled, sesuatu yang tidak
bisa diulang.

Untuk memahaminya kita ambil permisalan salah satu sumber daya alam kita, minyak bumi. Minyak merupakan sumber daya alam yang terpendam didalam bumi. Fosil-fosil yang ratusan ribu mungkin jutaan tahun terpendam di dalam bumi mendapat tekanan dan temperatur tinggi berubah menjadi minyak. Tetapi ketika minyak sudah disedot keluar dan dibakar, orang tidak bisa memperbaharui, tidak bisa menanam bibit minyak lagi, dia sumber daya alam yang unrenewable, yang tidak bisa diperbaharui. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, contoh pohon padi, setelah selesai dipanen, kita bisa cari bibitnya, benihnya. Lalu kita tanami kembali. Pohon padi adalah sesuatu yang newable, bisa diperbaharui. Sedangkan waktu tidak bisa diperbaharui kembali.

Tetapi walaupun minyak habis dan tidak bisa diperbaharui, dia masih bisa tersubstitusi artinya ada alternatif pengganti. Jika minyak habis masih ada energi batu bara, energi panas bumi, energi nuklir. Sedangkan yang namanya waktu bukan saja tidak ada alternatifnya, tetapi juga tidak ada pengganti (unsubstitusi). Jadi jika waktu telah habis/berlalu maka tidak ada apa-apa lagi.

Jika waktu bisa diulang (recycled) mungkin kita ingin jadi kanak-kanak lagi. Karena masa kanak-kanak itu masa-masa indah, masa-masa tanpa problema.

Terkadang waktu membuat manusia lupa diri bahwa dia sesungguhnya memiliki kelemahan. Kira-kira melalui cara apa kita bisa introspeksi terhadap diri kita, karena selama ini kadang kita tidak merasa kalau kita telah berbuat suatu kedzaliman atau kesalahan kepada pihak lain, mungkin ada langkah-langkah tertentu agar kita juga mengingat kembali kalau kita salah?

Masalahnya adalah apakah kita bisa melihat diri kita jika kita masih ada di dalam diri sendiri? Mari kita ambil sebuah ilustrasi. Mengapa dalam sebuah pertandingan sepakbola, di dalam stadion, penonton yang berada di tribun atas lebih pintar dari pemain yang ada di lapangan? Karena penonton yang ada di tribun atas berjarak dengan permainan, maka penonton bisa melihat seluruh permainan. Jarak pandang pemain hanyalah apa yang ada di depannya, sedangkan pendangan penonton di tribun atas lebih luas. Mereka bisa melihat kekosongan, kekurangan, kelebihan atau kesalahan pemain. Begitu juga dalam hidup, apakah kita bisa melakukan evaluasi jika kita masih terlibat dalam aktifitas kehidupan?

Kita cenderung baru bisa menghargai isteri kalau sedang jauh darinya. Jika isteri tak ada terpaksa harus masak sendiri, mencuci sendiri dan lain-lain. Para istri juga baru bisa menghargai suami jika sedang jauh dari suami. Jika suami pergi keluar kota, turun hujan lalu atap rumah bocor, banyak air tergenang di dalam rumah, lalu mulai berangan-angan, ”jika saja suamiku ada…, ah kan, lumayan bisa memperbaiki atap yang bocor.”

Jadi agar kita bisa mengevaluasi diri, lepaskan ego. Keluar dari kehidupan diri, keluar dari rutinitas. Untuk bisa melakukan observasi kita harus membuat jarak.