Assalammu'alaikum wr.wb
"Berpegang teguhlah kamu pada tali Alloh.Dia adalah satu satunya PenolongMu. Dia adalah Penolong dan pelindung yang paling baik (Al Hajj (22):78)
Dewasa ini dalam bergaul hanya status pangkat,jabatan dan harta saja yang menjadi tolak ukur sebagian manusia jaman sekarang. nilai -nilai kejujuran,prestasi, maupun reputasi baik adalah nomor sekian. Orang cenderung mimelih teman yang kaya,mengenakkan, membuat jabatan terjamin..sebenarnya dia lupa bahwa hanya pada tali Alloh lah segalanya bergantung, hanya padanya kita bergantung..bergantung pada manusia ujung2nya akan membikin kecewa ,coba aja terapkan..
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani berpesan 'Takutlah pada Alloh dan percayakan seluruh kebutuhanmu pada Alloh' jangan mengharap dan menginginkan sesuatu kecuali diri Nya. Bersandarlah pada Alloh,bukan kepada yang lain."
Perlu diingat bahwa jika kita terus bergantung kepada seseorang maka semakin lelahlah orang tersebut menghadapi kita ini suatu kenyataan psikologis yang tak terbantahkan. Hanya sedikit orang yang bisa memikul beban orang lain.
Jadi teman yang baik adalah yang shaleh dan selalu mengingatkan pada kebaikan..tidak hanya teman dimeja makan,teman bercanda,teman dikala kita menjabat,teman mencari uang, teman teman waktu seegalanya satu kepentingan...kepentingan hilang pertemanan hilang itu suatu ketidak jujuran sebenarnya..
Iri hati dan dengki akan menjadi suatu hal yang dapat merusak hubungan dan hindari berpersepsi,semua kita pikir yang baik untuk semua.
Mulailah kita hindari teman yang tidak baik yang dapat menjerumuskan diri, orang pelit, orang menang sendiri..kita tanamkan kebaikan tetapi kita juga harus waspada akal bulus mereka yang dapat merugikan kita, daripada nanti kecewa dan kecewa
Sabtu, 09 Mei 2009
Teman dalam kesenangan
Senin, 13 April 2009
Law of Spiritual Attraction

Judul: Law of Spiritual Attraction: Prinsip Sukses Beyond LOA
Penulis: Priatno H. Martokoesoemo
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: I, Agustus 2008
Tebal: 355 halaman
Peresensi: Tatik Chusniyati*
Setiap orang pasti ingin hidup sukses. Tapi tidak semua orang dengan gampang memperoleh kesuksesan dalam kehidupannya. Dengan prinsip Law of Spiritual Attraction (LoSA), Priatno H. Martokoesoemo berusaha mengurai secara panjang lebar sebuah benang merah yang dapat menarik kehendak Tuhan untuk mewujudkannya.
Tuhan sebagai penguasa hati, turut menggerakkan pikiran dan hati manusia untuk mencapai kesuksesan. Inilah maksud dari pesan Nabi Muhammad bahwa kehendak Tuhan bergantung pada apa yang manusia pikirkan dan cita-citakan. Betapa kita semua menginginkan jalan menuju kesuksesan, lahir dan batin.
Dalam Law of Spiritual Attraction ini sengaja dirancang berbagai teknik untuk melatih hati dan pikiran dalam menggali kesuksesan. Dengan menyimak buku ini pembaca akan mengetahui tips menggapai keberhasilan di setiap lini kehidupan. Dan dengan izin Tuhan, efek domino dalam perubahan kehidupan akan segera dimulai.
Dengan metode LoSA Anda akan mulai melihat bahwa Anda dapat mentransformasikan pikiran Anda pada kesuksesan dalam setiap fase kehidupan Anda.” Karena itu, jika pikiran Anda mempunyai impian untuk sukses, Anda akan secara cepat mencapai tujuan yang penting bagi Anda (hlm.19).
Yang menarik, Priatno sejak awal konsisten menyatakan bahwa bagian terpenting dalam menetapkan tujuan sejatinya didorong oleh tekad hati dan iman, sehingga menimbulkan rasa senang yang menghasilkan daya pengggerak untuk maju. Contoh yang bagus dalam hal ini adalah sang miliuner Donald Trump. Dia selalu menekankan seseorang untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan dan dapat menikmatinya.
Adalah Bill Gates, setelah menjadi salah satu miliuner terkaya, dia tetap bekerja karena sangat mencintai apa yang dia lakukan. Steve Jobs, pendiri Apple Computers dan Pixar Entertainment, bersedia bekerja tanpa dibayar saat dia diangkat sebagai CEO Apple. Mereka adalah orang-orang yang merasa bahagia dan menikmati pekerjaannya untuk mendapat “kenikmatan” yang lebih. Itulah contoh prestasi yang diraih dengan perasaan senang dalam proses menjalaninya.
Lalu, pernahkah Anda mengalami bekerja hingga lupa makan dan tidur karena Anda begitu menyenangi pekerjaan yang sedang Anda hadapi? Tetapi, berkat kesenangan Anda terhadap suatu pekerjaan, akhirnya Anda sukses menyelesaikannya dengan mudah. Mudah di sini diartikan bukan sebab pekerjaannya yang mudah, melainkan karena perasaan senang yang membuat pekerjaan menjadi mudah.
Nah prinsip LoSA dalam buku ini terfokus pada pencapaian yang menyenangkan dan menenangkan. Banyak orang yang berhasil melewati proses suatu pekerjaan dengan stres, ketakutan, dan kelelahan. Namun setelah mendapatkan semuanya, mereka malah merasa tidak puas. Dengan metode LoSA diharapkan dapat membangun pencapaian dengan mudah karena semua dilakukan secara otomatis dan ikhlas sehingga bisa menarik segala keinginan dengan ridha dan bantuan Sang Penggerak.
Buku ini bukan saja menyediakan wawasan nan melimpah-ruah dari bacaan, tradisi agama dan ajaran moral, studi psikologi dan perilaku terbaru, bahkan melengkapinya dengan kisah, ucapan, kasus faktual, bahkan tes yang langsung bisa dipraktikkan. Teknik dan metodenya sangat mudah diaplikasikan dan bisa langsung dirasakan manfaatnya dalam mengubah mindset, perasaan, dan sikap seseorang terhadap situasi dan kondisi yang dialaminya.
Saya melihat konsep pemikiran Priatno dalam buku ini bisa dikembangkan lebih jauh ke hal-hal yang aplikatif dan berguna bagi banyak orang. Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini layak diapresiasi sebagai bekal sangat berharga guna meniti tangga kesuksesan lahir dan batin, dengan visi dan misi spiritual yang jernih.
*)Pengajar Ma’had Abdurrahaman bin ‘Auf Universitas Muhammadiyah Malang.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009
Jumat, 03 April 2009
KEHANCURAN EKONOMI ULAH KITA

Friday, 03 April 2009 08:53
Pemimpin dunia berusaha mengatasi problem yang dihadapi oleh ekonomi ribawi. Padahal ekonomi ribawi dijamin kehancurannya Allah
Oleh: Muhaimin Iqbal *
Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). QS 42:30
Hari ini para pemimpin dunia yang tergabung dalam G-20 dijadwalkan bertemu di London untuk mencari solusi atas krisis finansial global yang sudah berlangsung sejak tahun lalu.
Beda dengan pertemuan-pertemuan petinggi negara yang biasanya dihiasi banyak senyum dan tawa; pertemuan kali ini nampaknya akan cukup tegang karena sedari awal sudah ada dua kubu yang bertentangan.
Kubu Amerika, Inggris dan negara-negara pendukungnya memandang stimulus ekonomi-lah solusi dari krisis ini. Sementara Perancis dan Jerman berpendapat bahwa pengetatan regulasi finansial harus menjadi prioritas yang utama.
Diluar forum para pemimpin dunia tersebut bertemu, sejak kemarin demonstrasi hebat terjadi di London. Lebih dari 4000 demonstran yang sudah mulai mengarah pada anarki ini mengusung tema anti kapitalisme, karena menurut mereka kapitalisme inilah yang telah menimbulkan kesengsaraan yang mereka kini derita.
Di kala dunia lagi sibuk mengatasi krisis ini, kita di Indonesia lagi berpesta pora menghabiskan dana yang nggak kehitung jumlahnya. Setelah pesta ‘demokrasi’ ini selesai minggu depan, jumlah yang kecewa akan berpuluh kali lipat dari yang bergembira.
Mengapa ?, karena setiap kursi yang diperebutkan mereka harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan kandidat lainnya. Padahal masing-masing kandidat telah menguras harta kekayaannya untuk kursi yang mereka perebutkan tersebut. Maka tepatlah langkah antisipatif yang dilakukan oleh rumah sakit- rumah sakit jiwa (RSJ) di berbagai daerah yang berbenah dan bersiap kebanjiran tamu dari para mantan calon anggota legislative ini.
Dua masalah yang berbeda ini saya gabung dalam satu tulisan karena diantara keduanya ada benang merah persamaannya. Yaitu mereka menciptakan musibah bagi diri (atau bangsa) mereka sendiri seperti ayat yang saya kutip di awal tulisan ini.
Para pemimpin dunia berusaha mengatasi problem yang dihadapi oleh ekonomi kapitalisme ribawi – padahal ekonomi yang ribawi ini sudah dijanjikan kehancurannya oleh Allah Ta’ala pencipta kita semua. (QS 2 : 276 & 279)
Para caleg yang sangat ingin (tetap) menjadi anggota legislative dengan mengeluarkan seluruh sumber daya yang dimilikinya, mudah-mudahan mereka sadar tentang apa tugas mereka setelah benar-benar terpilih.
Tugas utama anggota legislative adalah membuat undang-undang atau membuat hukum; padahal muslim yang membaca Al-Quran dan mengerti maknanya tentu tahu bahwa kalau kita berhukum kepada hukum selain hukum Allah – maka menurut Al-Quran kita dihukumi sebagai kafir (QS 5 :44) , dhalim (QS 5:45) dan fasik (QS 5:47). Kalau yang berhukum (yang menggunakan) saja dihukumi seperti ini, lantas apa hukumnya bagi orang yang membuat hukum diluar hukum Allah tersebut ?, lantas apa pula hukumnya bagi orang yang membantu (memilih) mereka untuk menjadi pembuat hukum selain hukum Allah ?. Biarlah pertanyaan ini jadi renungan kita masing-masing menjelang hari pemilihan minggu depan.
Nasihat kecil saya barangkali berguna bagi sebagian besar calon (karena sebagian besarnya tentu tidak akan kepilih); bersyukurlah Anda bila nanti tidak kepilih. Bisa jadi Allah Ta’ala sedang sayang kepada Anda sehingga Anda diselamatkan olehNya, bisa jadi pula kalau Anda kepilih malah membuat musibah untuk diri dan bangsa Anda sendiri. Buatlah kecewa RSJ-RSJ yang telah siap menerima Anda, karena Anda tidak kunjung datang, karena Anda bukannya stress malah bersyukur dan berbahagia dengan tidak menjadi anggota legislative. Berterima kasih pulalah Anda pada saudara-saudara Anda yang tidak memilih Anda, karena dengan demikian mereka telah ikut berpartisipasi menyelamatkan Anda dengan ijin Allah. Wallahu A’lam. [www.hidayatullah.com]
Penulis Direktur Gerai Dinar. Tulisan ini adalah hasil kerjasama www.geraidinar.com dan www.hidayatullah.com
Foto: GI
Rabu, 18 Maret 2009
TOBAT

Atas segala Kesalahan dan Dosa kita, Penulis dengan rendah hati mengajak diri sendiri dan para Pembaca sekalian untuk bertobat dan Hanya dengan mohon Rahmat Nya lah kita berharap atas ampunan terhadap dosa kita....amien:
1. Anjuran untuk bertobat dan bergembira dengannya
*
Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.:
Ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sungguh Allah akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya yang beriman daripada seseorang yang berada di tanah tandus yang berbahaya bersama hewan tunggangan yang membawa bekal makanan dan minumannya. Lalu dia tidur kemudian ketika bangun didapati hewan tunggangannya tersebut telah menghilang. Dia pun segera mencarinya sampai merasa dahaga kemudian dia berkata dalam hatinya: Sebaiknya saya kembali ke tempat semula dan tidur di sana sampai saya mati. Lalu dia tidur dengan menyandarkan kepalanya di atas lengan sampai mati. Tetapi ketika ia terbangun didapatinya hewan tunggangannya telah berada di sisinya bersama bekal makanan dan minuman. Allah lebih senang dengan tobat seorang hamba mukmin, daripada orang semacam ini yang menemukan kembali hewan tunggangan dan bekalnya. (Shahih Muslim No.4929)
*
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sungguh Allah akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kamu sekalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapan. Lalu segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap dalam keadaan sangat gembira: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu. Dia salah mengucapkan karena terlampau merasa gembira. (Shahih Muslim No.4932)
2. Tentang besarnya kasih sayang Allah Taala yang senantiasa mendahului murka-Nya
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Tatkala Allah menciptakan makhluk, Allah telah menuliskan dalam kitab catatan-Nya yang berada di sisi-Nya di atas arsy bahwa sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan murka-Ku. (Shahih Muslim No.4939)
*
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Allah telah menjadikan kasih sayang-Nya terbagi dalam seratus bagian. Dia menahan sembilan puluh sembilan bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian ke bumi. Dari satu bagian itulah para makhluk saling kasih-mengasihi sehingga seekor induk binatang mengangkat cakarnya dari anaknya karena takut melukainya. (Shahih Muslim No.4942)
*
Hadis riwayat Umar bin Khathab ra.:
Bahwa ia datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa beberapa orang tawanan. Di antara para tawanan itu terlihat seorang wanita sedang mencari-cari, lalu jika ia mendapatkan seorang bayi di antara tawanan dia langsung mengambil bayi itu lalu mendekapkannya ke perut untuk disusui. Lalu Rasulullah saw. berkata kepada kami: Bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api? Kami menjawab: Tidak, demi Allah, sedangkan dia mampu untuk tidak melemparnya. Rasulullah saw. bersabda: Sungguh Allah lebih mengasihi hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya. (Shahih Muslim No.4947)
*
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Terdapat seorang lelaki yang belum pernah melakukan satu kebajikan pun berkata kepada keluarganya apabila dia mati, maka hendaklah mereka membakar jenazahnya lalu menebarkan setengah dari abunya ke daratan dan yang setengah lagi ke lautan. Demi Allah! Jika sekiranya Allah kuasa atasnya, tentu Dia akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang pun di dunia ini. Kemudian ketika orang itu meninggal mereka segera melaksanakan apa yang diperintahkan. Lalu Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu jenazahnya yang ditebarkan kepadanya, dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan abu jenazahnya yang ditebarkan kepadanya. Kemudian Allah berfirman: Mengapa kamu melakukan ini? Orang itu menjawab: Karena takut kepada-Mu wahai Tuhanku padahal Engkau sendiri lebih mengetahui. Lalu Allah mengampuni orang tersebut. (Shahih Muslim No.4949)
*
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Dari Nabi saw. bahwa seorang lelaki di antara umat sebelum kalian telah Allah karuniakan harta kekayaan dan anak keturunan, lalu ia berpesan kepada anak-anaknya: Kamu sekalian harus melakukan apa yang aku perintahkan kalau tidak maka aku akan mengalihkan harta warisanku kepada orang lain. Jika aku telah meninggal nanti, maka bakarlah jenazahku. Sejauh pengetahuanku orang itu juga berkata: Kemudian tumbuklah sampai halus (abu sisa pembakaran itu) lalu tebarkanlah ke arah hembusan angin karena aku sama sekali tidak menyimpan satu kebajikan pun di sisi Allah padahal Allah berkuasa untuk menyiksaku. Lalu orang itu mengambil perjanjian dengan mereka. Demi Tuhan, mereka pun melaksanakan perintah itu. Allah bertanya kepada orang itu: Apa yang membuatmu berbuat demikian? Orang itu menjawab: Rasa takut terhadap-Mu. Jadi, alasan perbuatannya itu tiada lain hanyalah karena takut kepada Allah. (Shahih Muslim No.4952)
3. Diterimanya tobat dari segala dosa, meskipun dosa dan tobat diperbuat berulang kali
Hadis riwayat Abu Hurairah ra:
Dari Nabi saw. tentang yang beliau riwayatkan dari Tuhannya, beliau bersabda: Seorang hamba melakukan satu perbuatan dosa lalu berdoa: "Ya Allah, ampunilah dosaku". Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau akan menghukum karena dosa itu. Kemudian orang itu mengulangi perbuatan dosa, lalu berdoa lagi: Wahai Tuhan-ku, ampunilah dosaku. Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menyiksa karena dosa itu. Kemudian orang itu melakukan dosa lagi, lalu berdoa: Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku. Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukum karena dosa itu serta berbuatlah sesukamu, karena Aku benar-benar telah mengampunimu. Abdul A`la berkata: Aku tidak mengetahui apakah Allah berfirman "berbuatlah sesukamu" pada yang ketiga kali atau keempat kali. (Shahih Muslim No.4953)
4. Tentang kecemburuan Allah Taala dan larangan perbuatan keji
Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah maka oleh karena itulah Dia memuji Zat-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah maka karena itu Allah mengharamkan perbuatan keji. (Shahih Muslim No.4955)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang yang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah, yaitu jika orang mukmin melakukan apa yang diharamkan. (Shahih Muslim No.4959)
5. Firman Allah Taala: Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus dosa perbuatan-perbuatan buruk
*
Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.:
Bahwa seorang lelaki telah mencium seorang perempuan, lalu orang datang menemui Nabi saw. untuk menceritakan hal itu kepada beliau. Maka turunlah ayat: Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus dosa perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mau ingat. Lelaki itu bertanya: Apakah ayat ini untukku, wahai Rasulullah? Rasulullah saw. bersabda: Untuk siapa saja di antara umatku yang melakukan hal itu. (Shahih Muslim No.4963)
*
Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:
Seorang lelaki datang menemui Nabi saw. lalu berkata: Ya Rasulullah! Aku telah melanggar hukum hudud, maka laksanakanlah hukuman itu atas diriku! Kemudian tibalah waktu salat dan ia pun ikut salat bersama Rasulullah saw. Setelah menyelesaikan salat, orang itu berkata lagi: Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melanggar hukum hudud, maka laksanakanlah hukuman Allah itu atas diriku! Rasulullah saw. bertanya: Apakah engkau ikut melaksanakan salat bersama kami? Orang itu menjawab: Ya! Rasulullah saw. bersabda: Kamu telah diampuni. (Shahih Muslim No.4965
Tanggung Jawab Intelektual & Spiritual

Dari: Majalah ESQ
Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al Mudatsir: 38).
Ketika Umar bin Abdul Azis mendapat promosi, dari jabatan gubernur Madinah menjadi khalifah, ia menangis dan pingsan. Ia menyatakan bahwa beban kewajiban seberat ribuan gunung telah diletakkan ke pundaknya. Padahal, untuk mengurus diri sendiri pun, ia merasa belum mampu. Sekarang, ia diberi amanah mengurus umat.
Setelah Umar bin Abdul Azis ra dilantik menjadi khalifah, ia pergi ke musolanya dan menangis tersedu-sedu. Ketika ditanya penyebabnya, ia mengatakan sedang memikul amanat umat, dan ia menangisi orang-orang yang menjadi amanatnya. Yaitu, kaum fakir miskin yang lemah dan lapar, ibnu sabil yang terlantar, orang-orang yang dizalimi dan dipaksa menerimanya, orang-orang yang banyak anaknya dan berat beban hidupnya. “Aku merasa bertanggungjawab atas beban mereka. Karena itu, aku menangisi diriku sendiri karena beratnya amanat atas diriku,” ujarnya.
Konon, semasa ia menjabat sebagai khalifah, tak satu pun makhluk di negerinya menderita kelaparan. Tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Lebih mengagumkan lagi, penjara tak ada penghuninya.
Sejak menjadi khalifah, di dalam hati ia berjanji tidak akan mengecewakan amanah yang diembannya. Itulah bentuk tanggungjawab Umar bin Abdul Azis sebagai seorang pemimpin.
Pemimpin terpilih adalah individu yang mampu bertanggungjawab secara penuh terhadap kesejahteraan dan kepapaan atau maju-mundur kehidupan rakyatnya. Untuk melaksanakan tanggungjawab terhadap rakyat, pemimpin terpilih harus mampu merespon setiap keluhan rakyat dan sekaligus memberikan solusi.
Perlunya para pemimpin memiliki rasa tanggungjawab yang menyeluruh terhadap bawahannya, sebenarnya, bisa kita pedomani dari kata-kata Umar bin Khattab ra. “Seandainya ada keledai yang jatuh dari atas gunung di kawasan Irak sehingga patah kakinya, pasti Allah swt meminta pertangungjawabanku karena tidak membuat jalan untuk dilintasi keledai tersebut. Kalau kambing tersasar sehingga hilang di pinggiran Sungai Efrat, maka Umar akan bertanggungjawab pada hari akhirat.”
Begitu juga Ali bin Abi Talib ra ketika melihat Umar bin Khattab ra sedang berlari. Ali bertanya, “Kenapa kamu lari wahai Umar?” Umar pun menjawab, “Aku lari karena ingin mengejar unta sedekah yang telah lepas dari tambatannya.”
Rasa tanggungjawab yang tinggi Umar bin Khatab terhadap kekhalifan mendorongnya hampir saban hari mengecek sendiri situasi warganya. Ia meninjau dari rumah ke rumah, baik secara secara formal maupun tidak.
Karena keterbatasan Umar bin Khatab untuk mengelilingi seluruh wilayah kepemimpinannya, sedangkan ia perlu mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka bila musim haji tiba, ia selalu mengumpulkan rakyatnya untuk membuat pengaduan-pengaduan. Di samping itu, ia juga telah mendirikan sebuah Biro Pengaduan untuk mengetahui semua keluhan dan keperluan rakyatnya.
Bahkan, di akhir hayatnya, Umar bin Khatab berkata: “Sekiranya aku dapat hidup lebih lama lagi, maka akan kukelilingi semua wilayah rakyatku sehingga aku dapat melihat dengan mata kepalaku sendiri keadaan mereka. Aku tahu mereka mempunyai berbagai keperluan yang tidak dapat terpenuhi tanpa kehadiranku.”
Lain Umar bin Khattab, lain pula kisah Utsman bin Affan. Sejalan dengan perluasan wilayah Islam, mulai timbul perbedaan pendapat mengenai qiraah (bacaan) Al-Qur’an. Hal ini segera ditanggapi oleh Khalifah Utsman bin Affan untuk menuliskan Al-Qur’an ke dalam satu mushaf. Penulisan itu disesuaikan dengan tulisan aslinya (hasil pengumpulan pada masa Abu Bakar ra).
Khalifah Utsman memberikan tanggungjawab penulisan Al-Qur’an itu kepada Zaid bin Tsabit dibantu Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash, dan Abdurrahman bin al Haris. Setelah terkumpul ke dalam satu mushaf, Utsman mengirimkan salinan Al-Qur’an tersebut ke beberapa kota besar, masing-masing satu kitab.
Setiap individu harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-An’am: 164, “Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”
Nilai tanggungjawab harus diajarkan kepada anak sejak usia dini. Di Provinsi Zhejiang China, ada seorang anak lelaki bernama Zhang Da. Dari 1,4 milyar penduduk China, ia dinyatakan sebagai salah satu dari 10 orang yang telah melakukan perbuatan luar biasa, pada Januari 2006.
Pada tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan suami sakit. Sejak hari itu, Zhang Da hidup dengan seorang ayah yang tak bisa bekerja, tak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi itu memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat.
Zhang Da memulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai ke sekolah, ia harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang, ia menemukan sejenis jamur, atau rumput, dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba itu semua, ia tahu mana yang masih bisa diterima oleh lidah dan perutnya, dan mana yang tidak bisa ia makan.
Setelah jam pulang sekolah, di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu itu digunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk ayahnya.
Hidup seperti itu dijalaninya selama lima tahun, tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Sejak umur 10 tahun, ia mulai melaksanakan tanggungjawab untuk merawat ayahnya. Menggendongnya ke toilet, menyeka dan memandikannya. Semua dikerjakannya dengan rasa tanggungjawab. Perhatian terhadap ayahnya begitu besar.
Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat, membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik mengatasi semua itu. Ia pun mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang dibelinya. Kemudian, ia belajar memberikan injeksi/suntikan. Setelah merasa mampu, ia nekat menyuntik ayahnya sendiri. Selang lima tahun, ia sudah terampil dan ahli menyuntik.
Zhang Da pantang menyerah dan mau bekerja keras. Itulah kisah seorang bocah ingusan yang memikul tanggungjawab besar dalam keluarga. Di situlah tanggungjawab mengambil peran besar. Karena, bentuk dari tanggungjawab adalah siap menerima kewajiban atau tugas.
Setiap pemimpin, di akhirat kelak akan ditanya oleh Allah swt tentang setiap orang di bawah kepemimpinannya. Tidak terkecuali pemimpin besar atau pemimpin kecil, pemimpin umum atau pemimpin khusus. Misalnya, pemimpin negara, daerah, kampung, tentara, politik, dakwah, pendidikan, pemuda, pemimpin rumah tangga dan lain-lain.
Setiap orang, apa pun profesinya, tidak boleh sembarangan menjalankan pekerjaan. Misalnya, seorang dokter yang tak memiliki kemampuan untuk melakukan prosedur tertentu, tidak boleh nekat melakukannya. Sebab, jika dilakukan, itu adalah bentuk pelanggaran tanggungjawab. Seharusnya, dia merujuk pasien ke dokter ahli yang dibutuhkan.
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadits: “Siapa yang melantik seseorang untuk memimpin sepuluh orang di antara kamu, sedangkan dalam kumpulan tadi masih ada orang yang lebih layak tetapi tidak kamu lantik,
sesungguhnya kamu telah mengkhianati Allah, Rasulnya, dan seluruh masyarakat Islam. Dan siapa yang mati dalam keadaan ia menipu rakyatnya, ia tidak akan dapat mencium bau surga.”
Achmad Faruq, yang sudah 20 tahun lebih bekerja di penerbangan, merasa harus bertanggungjawab lebih dari pekerjaannya sebagai pilot. Sebelum terbang, ia kerap terjun langsung melakukan pengecekan kondisi pesawat. Tindakan itu dirasanya tidak semata-mata untuk keselamatan para penumpang, tapi juga tanggungjawab spiritual kepada Allah. “Ini tak kalah penting, untuk mendekatkan diri pada Allah,” kata pilot yang kini bertugas di Lion Air itu.
Perintah seorang pimpinan, secara lisan maupun tulisan, tidak berarti melepaskan seorang bawahan dari tanggungjawab atas semua perbuatannya. Al-Qur’an mencela orang-orang yang melakukan dosa dengan alasan pimpinannya menyuruh berbuat dosa.
Allah berfirman: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul.’ Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar’.” (QS Al-Ahzab 66-67).
Allah membantah mereka dengan tegas: “Harapanmu itu sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu pada hari itu, karena kamu telah menganiaya dirimu sendiri. Sesungguhnya kamu bersekutu dalam adzab itu.” (QS Az-Zukhruf: 39).
Dari sini jelaslah bahwa pemimpin yang dzalim tidak akan bisa memaksa hati seseorang kendati mampu memaksa lahiriyahnya. Oleh sebab itu, rakyat atau bawahan pun harus bertanggungjawab terhadap akidahnya dan perbuatannya, kendati di sana ada perintah dan larangan dari pimpinan. KARYATI NIKEN SUGESTI
Jumat, 27 Februari 2009
Fenomena Ponari


Fenomena Wong Sakti (Ponari)
Saudara,
Sedikit mengenyitkan dahi dan berpikir ketika melihat masyarakat di daerah yang katanya gudangnya santri tiba-tiba gempar dengan batu sakti Ponari. Penulis heran, kenapa masyarakat begitu gampang di kejutkan 'batu ajaib' dik Ponari yang gak tau apa2 itu. Katanya bisa nyembuhkan penyakit dan lain-lain...
Apa ada yang keliru atau memang kehidupan masyarakat sudah terhimpit ekonominya sehingga apa aja dijual termasuk Keimanan, tapi kata orang ndeso dan kuto makan tuh iman kalo biaya berobat mahal dan ke dokter kantong kami sangat jauh sekali.Kita harus cari solusi berarti jangan salahkan "Para Ponari Mania" walaupun secara akhidah mereka Saudara kita yang perlu dibina dengan baik oleh semua pihak.
inilah aktual yang terjadi,rakyat mulai kehilangan akal sehatnya, akal agamanya,akal kalau anak sekecil itu apa bisa jadi wong sing sekti (hemmm.)Tugas kita harus mulai membimbing dengan halus dan tanpa menyinggung mereka bahwa ini fenomena tidak benar.
Belajar dari kasus Ponari seyogyanyalah mari kita mulai mengulurkan tangan membayar zakat, sedekah dan kita tujukan untuk masyarakat miskin yang butuh untuk biaya kesehatannya, sangatlah cuek kalo kita nge "lupa" bayar sedekah sungguh tega kita ini lihat kondisi masyarakat yang sudah mulai nekat asal bisa sembuh.(sebenarnya mereka akidahnya mulai sakit)
Hal-hal aneh dan nyleneh malah jadi pembenaran kalo orang itu sakti dan linuwih,wis pokoknya tok cer kata wong ndeso ataupun orang kuto. ini hal yang dapat merupakan test case bagi mahasisiwa, pelajar, santri, ulama,kyai,nyai untuk membina umat lahir batin karena inilah jihad yang ada.
Sudahkah kita punya peran serta dalam jihad (perjuangan )ini atau kah malah datang ke ponari minta sembuh (atau semakin sakit iman kita)?
Kepada semua pihak mari kita kembalikan ke jalan yang benar, mereka Saudara kita seiman seakidah jangan sampai terpeleset di rel yang jauh dari tuntunan Rasul SAW.
Fenomena Ponari
Fenomena Wong Sakti (Ponari)
Saudara,
Sedikit mengenyitkan dahi dan berpikir ketika melihat masyarakat di daerah yang katanya gudangnya santri tiba-tiba gempar dengan batu Ponari. Penulis heran, kenapa masyarakat begitu gampang di kejutkan 'batu ajaib' dik Ponari yang gak tau apa2 itu. Katanya bisa nyembuhkan penyakit dan lain-lain...
Apa ada yang keliru atau memang kehidupan masyarakat sudah terhimpit ekonominya sehingga apa aja dijual termasuk Keimanan, tapi kata orang ndeso makan tuh iman kalo biaya berobat mahal dan kedokter kantong kami sangat jauh sekali.Kita harus cari solusi berarti jangan salahkan "Para Ponari Mania" walaupun secara akhidah mereka Saudara kita yang perlu dibina dengan baik
inilah aktual yang terjadi,rakyat mulai kehilangan akal sehatnya, akal agamanya,akal kalau anak sekecil itu apa bisa jadi wong sing sekti (hemmm.)Tugas kita harus mulai membimbing dengan halus dan tanpa menyinggung mereka bahwa ini fenomena tidak benar.
Belajar dari kasus Ponari seyogyanyalah mari kita mulaimengulurkan tangan membayar zakat, sedekah dan kita tujukan untuk masyarakat miskin yang butuh untuk biaya kesehatannya, sangatlah cuek kalo kita nge "lupa" bayar sedekah sungguh tega kita ini lihat kondisi masyarakat yang sudah mulai nekat asal bisa sembuh.
Hal-hal aneh dan nyleneh malah jadi pembenaran kalo orang itu sakti dan linuwih,wis pokoknya tok cer kata wong ndeso ataupun orang kuto. ini hal yang dapat merupakan test case bagi mahasisiwa, pelajar, santri, ulama,kyai,nyai untuk membina umat lahir batin karena inilah jihad yang ada.
Sudahkah kita punya peran serta dalam jihad ini?