Jumat, 07 Januari 2011

Ayat Penjagaan (Alloh SWT)



Jumat, 23 Januari 2009
Syeikh Mustafa Haqqani: Ayat Khirzi Penangkal Sihir dan Jin





Pada 29 Desember lalu, di zawiyah Hasbi, ba'da Maghrib, sh Mustafa memberikan pesan kepada kita semua mengenai pentingnya melazimkan ayatul hirz di zawiyah-zawiyah maupun di pribadi kita masing-masing. Apa manfaat dari ayatul hirz? Berikut salinan dari pesan yang disampaikan oleh Sh Mustafa:

Dulu ketika saya di Malaysia, saya begitu tercekam. Negara Islam tapi koq banyakan pemecahan masalah hubungan antar pribadi dengan sihir. Saya jadi agak.. punya catatan "...lho koq?".

Astaghfirullah al adzim, hari-hari ini di kultur kita, ternyata sihir, lebih dari yang pernah aku saksikan di Malaysia.

Oleh karena itu, saya terangsang untuk meng-introduce ayatul hirz (Ayat-ayat Penangkal - red). Kata Rasulullah “barang siapa setelah maghrib membaca al-fatihah berikut 11 ayat dari surat al-baqarah”; tetapi beliau tidak mengatakan begitu: "berikut alif lam mim sampai muflihun, ayat kursi dan 2 ayat sesudahnya, dan 3 ayat yang terakhir…". --Barangkali ini juga kebijakan yang diambil oleh kalangan tradisional, maka bahagian yang vital dari surat al-baqarah ini di introduce dalam kesehariannya. Ternyata sekarang kita lihat gunanya. Sebab itu di maghrib, di subuh, seyogyanya kita sisipkan (ayatul hirz – red)--. Sebab kata Rasul: “…dijamin aman dari aneka macam kejahatan manusia, jin dan setan sampai waktu subuh”. Berarti habis subuh harus dibaca lagi.

Saya banyak menjumpai kasus, telah mengadu kepada saya, merupakan fenomena interaktif tetapi pakai jinni power. Jadi barangkali lebih baik secara conditional di zawiyah-zawiyah kita atau di setiap pribadi kita, lazimkanlah ayatul hizr. Sehingga, karena itu, tadi, sesudah tahlil 10x, yang itu memang di-seyogyakan di waktu maghrib,dengan fadzilah, insyaAllah dijamin mantab aqidah dan husnul khotimah. Jadi sayang kalau tidak kita integrasikan: disambung dengan ayatul hizr, baru tasbih.

Sebenarnya, prinsipnya, patokannya, solat sunah ba'diyah itu disegerakan, dalam tradisi Naqshbandi, untuk mengelakkan kocar-kacir. Sebab Allah sendiri yang mengatakan, [arab] "the only way to aproach Me", kata Allah, "adalah kalau orang doyan dengan perfection. Sudah yang wajib, dilakukan yang sunah". Mekanismenya [arab] "sehingga dia semakin mencintai Aku dan Aku berlipat ganda kecintaannya kepada dia".[arab]. "kalau dia mencintai Aku, Aku jadi kuping dia, jadi mulut dia, jadi mata dia, jadi tangan dia, jadi kaki dia. apa yang tergerak di hati, Aku ya-kan. Barangsiapa kurangajar terhadap orang semacam itu, Aku sendiri yang mempermaklumkan perang!" (terhadap orang yang kurang ajar kepada orang semacam itu). Ini background; reference-nya.

Kenapa, semua solat kita yang 5 itu ada qobliyahnya? Kecuali subuh & ashar ada pula ba'diyahnya? Itu dibikin amat ketat. Artinya, mudah-mudahan tidak dengan karena kita menyisipkan ayatul hirz, solat sunahnya keteteran. Jadi setelah itu tetap untuk dilangsungkan amalan harian, yang di transformasikan dari Rasulullah melalui Sayyidina Abu Bakr dan yang terakhir kita terima dari sh Nazim. Jadi itu tetap untuk di-tradisikan. Itu belum selesai sampai solat ba'diyah tapi (ayatul hirz – red) ditaruh sesudah doa penutup solat.
Merenunglah kalian, wahai orang yang dikedalaman hatinya ada fungsi yang bergetar, yang hidup!

Adapun Ayat Khirzi adalah sbb :

Surah Al Fatehah

Surah Al Baqarah ayat 1 s.d 5

Ayat Kursi

Surah Al Baqarah ayat 256 s.d 257

Surah Al Baqarah ayat 284 s.d 286

Surah Al A'raaf ayat 54 s.d 56

Surah Al Isro' ayat 110 s.d 111

Surah As Shaffaat ayat 1 s.d 11

Surah Ar Rahman ayat 33 s.d 35

Surah Al Hasyr ayat 22 s.d 24

Surah Al Jin ayat 1 s.d 4

Wassalam,
Disarikan dari mailist : muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com
Diposkan oleh Energi Enlightment di 01.01 0 komentar
Self Healing ala Nabi SAW
(Di intisarikan oleh Jokotry dari hasil shohbet-Untaian Mutiara Hikmah Syaikh Mustafa)


Setiap orang dapat melakukan pengobatan sendiri dalam kondisi normal. Guru kami Syech Mustafa pernah mengajarkan cara Rosululullah dalam melakukan pengobatan, yaitu dengan mengusapkan tangan kanan kebagian yang sakit sebanyak tujuh kali, sambil mengucapkan doa berikut ini :

اَعُوْذُ بِعِزَّ ةِ اللهِ وَ قُدْر تِهِ وَ سُلْطَا نِهِ مِنْ شَرِّ مَا اَجِدُ وَاُخَدِرْ

A’udzu bi izzatillaahi wa qudratihi wa shulthanihi min syarri maa ajidu wa ukhodir. (Aku berlindung kepada keagungan Allah, kekuasaanNya dan kemuliaanNya dari rasa sakit yang aku rasakan dan sembuhkanlah ya Allah).

Catatan : Kalau untuk diri sendiri (AJIDU), Untuk orang lain perempuan (AJIDU diganti TAJIDU), kalau untuk orang lain laki-laki (AJIDU diganti YAJIDU).

Catatan :
Doa tersebut instruksi Nabi Muhammad ketika menjenguk Sayyidina Utsman yang sedang sakit. Nabi mengatakan kepada Utsman, untuk membaca doa tersebut diatas dan mengusapkan tangan kanannya sebanyak tujuh kali. Sayyidina Utsman melakukannya, dan akhirnya Allah berkenan menyembuhkan penyakitnya.

Disarikan dari mailist : muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com
Diposkan oleh Energi Enlightment di 00.56 0 komentar
Maqam Basyariyyah (Kemanusiaan) Nabi SAW

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Khutbat al-Jumu'ah, 24 Oktober, 1997

Masjid at-Tawhiid, Mountain View, California

Bismillaah ir-Rahman ir-Rahiim

was-shalaat was-salaam ala Sayiddina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

akan Saya baca terjemahan bahasa Inggrisnya. Dalam Surat al-Kahfi ayat 107, yang berbunyi, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal." 108, "Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya." 109, "Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).’" Dalam ayat 110 berbunyi, "Katakanlah: ’Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Ilah (Tuhan) kamu itu adalah Ilah (Tuhan) Yang Esa’". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhan-nya."

Dalam ayat-ayat ini, kita melihat bahwa Allah SWT telah berjanji bahwa barangsiapa berbuat baik, Ia pun akan memberikan pada mereka surga-surga. Mereka yang beriman, yang menerima Islam, yang tidak hanya menerimanya tanpa melakukan amal (perbuatan baik), karena kalian pun bisa menjadi Muslim tanpa amal—tetapi di sini Ia menekankan bahwa, "Wahai Muslim, Wahai Mu'min, kalian harus melakukan amal kebajikan." Dan Ia menekankan akan pentingnya melakukan perbuatan baik. Tidak hanya, "Aku percaya, aku seorang Muslim, dan aku berbuat kejahatan. Aku melakukan salatku tetapi aku berbuat kejahatan.” Tidak. Allah SWT menempatkan amal kebajikan bersama Iman, dus amal kebajikan adalah sejajar bersama Iman.

Kalian bisa saja beriman, kalian bisa mengatakan, “La Ilaaha Ill-Allah Muhammadun RasulAllah”, tetapi mungkin kalian tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik. Persyaratannya adalah bahwa kalian harus menjadi seorang yang beriman dan kalian harus berbuat kebajikan. Siapa yang berbuat kebajikan, mereka akan memperoleh Surga Firdaus. Mereka akan tinggal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak akan berada di tempat lain. Allah SWT akan membalas mereka atas Iman mereka dan atas amal mereka.

Tanpa amal, kalian tak akan memperoleh Surga Firdaus. Allah SWT mungkin akan mengirim kalian ke tempat lain. Tapi, dengan amal kebajikan, kalian akan mendapatkan Jannat al-Firdaus.Muslim harus bekerja keras untuk melakukan amal kebajikan—dan tidak sekedar memikirkannya, “Aku datang dan salat, dan aku percaya bahwa Allah SWT adalah Pencipta kita dan Sayyidina Muhammad SAW adalah Utusan-Nya,” melainkan “Aku harus bekerja keras untuk kebaikan masyarakat, untuk kebaikan ummat Muslim. Maka aku akan meraih Jannat al-Firdaus.”

Kita semua, alhamdulillah, adalah orang-orang yang beriman. Jika kita tidak beriman tentu kita tidak akan datang ke sini. Jadi, kita harus beriman pada Pesan dari Allah SWT. Apa yang Allah SWT telah turunkan bagi kita melalui Sayyidina Muhammad SAW, kita harus menerimanya. Kita tak boleh mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Kita harus mengambil seluruhnya bersama-sama dan berusaha untuk maju, atau pencapaian kita akan Surga tidak akan lengkap. Kita mungkin hanya akan memperoleh derajat yang lebih rendah dalam surga.

Dan kita tidak menginginkan hal itu. Setiap orang menginginkan lebih karena Allah SWT begitu Pemurah. Allah SWT adalah Sang Maha Pemurah Yang Mutlak. Kita ingin untuk berbuat lebih untuk mencapai lebih.Dan Allah SWT melanjutkan, “Katakanlah!”—“Qul Ya Muhammad SAW!” Hanya bagi Allah SWT-lah untuk mengatakan, “Katakan wahai Muhammad SAW! Jika seluruh lautan menjadi tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Tuhanku, lautan itu akan habis, habis seluruhnya, tinta akan habis, pena-pun akan patah dan habis, sekalipun jika kita tambahkan lautan atas lautan atas lautan, seluruh lautan dan samudra itu akan habis, tetapi Kalimat-Kalimat Allah SWT itu tak akan pernah habis.” Ayat itu dimulai dengan, “Wahai Muhammad SAW, katakan pada mereka...,“ karena Sayyidina Muhammad SAW telah mengetahui, hal itu bukanlah bagi beliau, tapi bagi kita untuk mengetahuinya. Karena beliau yang telah diundang untuk Isra' dan Mi'raj, mengetahui pentingnya, mengetahui Tawhid Allah SWT (Keesaan Allah SWT), mengetahui Keagungan Allah SWT. Allah SWT berfirman pada beliau, “Qul!” Katakan pada siapa? Katakan pada mereka, pada Ummah, pada hamba-hamba Allah SWT, pada seluruh manusia. Di sinilah kita harus melihat bahwa ada suatu perbedaan antara status Muhammad SAW dengan status dari seluruh manusia. Allah SWT berfirman pada beliau, “Qul Ya Muhammad SAW”—“Katakan pada mereka Wahai Muhammad SAW, karena engkau sudah tahu. Aku telah memanggilmu ke Hadirat-Ku karena dirimu adalah intan permata yang paling berharga dalam alam semesta ini. Engkau mengetahui Keagungan-Ku. Maka, katakanlah pada mereka apa yang kau tahu tentang Diri-Ku. Katakan pada mereka bahwa sekali pun seandainya lautan dan samudra adalah tinta...”

Beginilah pikiran kita bekerja, dengan imajinasi dan perumpamaan. Karena itulah Allah SWT memberikan pada kita suatu contoh dalam Quran Suci agar kita mengerti, perumpaan akan “samudra dan lautan sebagai tinta, untuk menulis Kalimat-kalimat Allah SWT.” Kemudian bayangkanlah bahwa lautan itu akan habis, sedangkan Kalimat-Kalimat Allah SWT tak akan pernah habis. Bahkan jika seandainya kalian menambahkan lagi samudra lalu lautan lalu samudra lalu lautan...” Jadi, artinya pengetahuan kita adalah apa? Pengetahuan kita bukan apa-apa, tidak ada apa-apanya. Seluruh ilmu dan pengetahuan yang kita banggakan hari ini, komputer, teknologi, rekayasa (engineering), fisika, kedokteran, semua nihil, bukan apa-apa, dibandingkan dengan Kalimat-Kalimat Allah SWT, dibandingkan dengan Ilmu dan Pengetahuan Allah SWT, dibandingkan dengan Ilmu dan Pengetahuan Nabi Muhammad SAW. Jika seluruh rekayasa dan teknologi ini, dan juga ilmu kedokteran ini, bukan apa-apa, itu berarti pengetahuan Sayyidina Muhammad SAW, yang telah Allah SWT berikan padanya, dapat melakukan mu'jizat dan keajaiban. Ilmu dan pengetahuan itu dapat mengubah apa pun di alam semesta ini. Pengetahuan dan Ilmu dari al-Quran Suci yang dapat kita pahami, dapat mengubah seluruh alam semesta ini. Di manakah pengetahuan itu? Di manakah ilmu dan sains itu? Karena Allah SWT telah melukiskan dalam al-Quran Suci bahwa pengetahuan iptek kita itu bukan apa-apa, maka ia tidak memiliki nilai apa pun.

Ayat itu bermakna, “Katakan pada mereka, Ya Muhammad SAW, tentang apa yang kau ketahui tentang Diri-Ku. Tentang Ilmu-Ku dan katakan pada mereka bahwa pengetahuan yang telah Kami berikan pada mereka tak berarti apa-apa dibandingkan Ilmu-Ku. Bahkan seandainya samudra dan lautan ditambahkan atas samudra dan lautan lalu ditambahkan atas samudra dan lautan, Kalimat-Kalimat-Ku, Ilmu-Ku tak akan pernah habis!” Jadi, kita sangatlah kecil, tak berarti apa-apa. Jadi, ilmu yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada kita melalui Quran Suci dapat melakukan kekuatan-kekuatan yang ajaib (mu'jizat). Di manakah ilmu itu? Kita harus mencari ilmu itu, kita harus melakukan riset dan penelitian atasnya. Bukan hanya riset untuk sains, bukan hanya riset untuk teknologi saja, karena sains teknologi tak bernilai apa-apa (dibandingkan ilmu dari Quran Suci).

Sains dan teknologi biasa tak akan mampu membawa kalian ke surga, tapi ilmu Allah SWT-lah yang akan membawa kalian ke surga. Dan karena ilmu manusia jika dibandingkan dengan ilmu Allah SWT adalah tak ada artinya, kita pun mesti menyadari betapa kurang dan lemahnya diri kita. Dan karena itu pulalah kita lalai dan bodoh akan ilmu dan pengetahuan tadi. Karena itulah mengapa Nabi SAW berkata kepada kita, dalam lanjutan ayat tadi, “Wahai Muslim, wahai manusia, Ilmu Allah SWT tak pernah habis. Bahkan setelah samudra di atas samudra...”

Apa yang difirmankan Allah SWT setelah itu? Ia berfirman, “Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti dirimu, tapi telah diwahyukan kepadaku." Apakah maknanya di sini? Banyak orang sekarang berkata, “Ah, Muhammad SAW tidaklah seperti kami, tapi ia lebih baik daripada kami karena telah diwahyukan padanya.” Tetapi, ini bukanlah makna dari ayat tersebut. Ayat tersebut bermakna, “Aku adalah seorang manusia yang telah mengerti Kemuliaan dan Keagungan Allah SWT, dan tak seorang pun dapat memperoleh pengetahuan ini.” Seberapa pun tingginya maqam dan kedudukan yang mungkin kita raih, kita tetaplah memilik batasan-batasan. Makna dari, “Aku adalah seorang manusia seperti dirimu,” BUKANLAH “Aku adalah suatu badan, suatu tubuh fisik sehingga engkau tidaklah lebih baik dariku dan aku tidaklah lebih baik darimu kecuali bahwa aku menerima wahyu.” Bukan! Maknanya yang benar adalah, “Wahai Muslim, sekalipun dengan apa yang telah Allah SWT berikan padaku, akan keagungan dan kenabian (nubuwwah) dan wahyu, tetaplah aku tidak akan mampu mengetahui seluruh ilmu Allah SWT, tetaplah seluruh karunia itu memiliki batasannya, bahkan bagiku.” Ayat itu tidaklah bermakna bahwa kalian dapat meminimalkan peran dari Sayyidina Muhammad SAW, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama baru kontemporer Islam. Tidak!

Mayoritas Ulama dalam Islam menekankan pentingnya ayat ini, di mana Sayyidina Muhammad SAW tengah menunjukkan pada orang-orang, “Bahkan dengan kebesaranku, bahkan dengan kekuatan yang Allah SWT telah karuniakan padaku, bahkan dengan Isra' dan Mi'raj, bahkan dengan wahyu, tetaplah aku terbatas dalam mengetahui Ilmu Allah SWT. Tetapi kalian pun terbatas dalam mengetahui pengetahuanku.” Sayyidina Muhammad SAW tengah menekankan, “Kalian terbatas dibandingkan pengetahuanku dan aku pun terbatas dibandingkan Ilmu dan Pengetahuan Allah SWT.” Wahai Muslim, Allah SWT tidak menerima syiriik (sekutu) apa pun. Dan itulah mengapa Sayyidina Muhammad SAW bersabda dalam ayat ini, “Aku hanyalah seorang manusia,” ini bermakna, “Aku tidaklah mensekutukan diriku sendiri dengan Allah SWT. Karena itulah ilmuku tidaklah sama. Dan, sebagai Nabi Muhammad SAW, Penutup para Rasul, tak seorang pun dapat meraih tingkatanku. Kalian harus mengetahui batasan kalian, dan aku pun mengetahui batasanku terhadap Tuhanku.”

Zuhair ibn Jandab RA, salah seorang Sahabat, berkata, “Apakah yang menjadi alasan turunnya ayat yang mengatakan, "Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan-nya." Ayat itu turun untuk menunjukkan perbedaan di antara kita dan Nabi SAW; dan antara Nabi SAW dengan Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, aku adalah seorang manusia seperti dirimu, tapi telah diwahyukan padaku,” bermakna, “Aku mengetahui batasanku, dan engkau pun mengetahui batasanmu, tetapi telah diwahyukan padaku bahwa jika seseorang ingin untuk melakukan amal, ingin untuk berada di Hadirat Tuhannya, namun karena dia tak mampu meraih pengetahuan Tuhannya, ia pun terbatas, maka hendaklah ia melakukan amal kebajikan, amal salih untuk Akhiratnya.” “Siapa yang ingin berada di Hadirat Allah SWT di Akhirat, hendaklah ia melakukan amal kebaikan. Dan hendaklah ia tidak menyekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Allah SWT.”

Mengapakah ayat tersebut turun? Ayat itu bukanlah tentang syirik dalam menyembah seseorang bersama Allah SWT, ayat itu tidaklah bermakna demikian, sebagaimana mereka mengatakannya saat ini. Mereka melabeli mu'min dan muslim dengan menggunakan ayat-ayat Quran yang Allah SWT turunkan berkenaan dengan orang-orang Kafir, Yahudi, dan Kristen, mereka yang menyembah berhala, atau mensekutukan seseorang dengan Allah SWT. Ayat itu berkata, “Jangan sekutukan siapa pun.”Menurut Zuhair ibn Jandab RA, ia mendatangi Sayyidina Muhammad SAW dan berkata, “Ya RasulAllah SAW, terkadang aku melakukan sesuatu untuk Allah SWT, aku melakukan amal yang kulakukan untuk menyenangkan Tuhanku, dan aku akan melakukannya untuk ridha Allah SWT dan untuk cinta-Nya bagiku, tapi saat orang-orang tahu akan amal itu, aku akan senang jika orang-orang tahu akan apa yang telah kuperbuat.”

Kemudian Nabi SAW bersabda, “Ya Zuhair RA, jangan sekutukan siapa pun dalam ibadahmu.” Ini berarti jangan senang bahwa orang-orang tahu tentang apa yang telah kau perbuat, karena ini adalah kesyirikanmu. Kedudukanmu di hadapan Allah SWT seakan-akan dirimu bangga atas apa yang telah kau perbuat. Itu berarti kau ingin agar orang-orang menghormatimu dan mencintaimu karena engkau telah melakukan amal ini. Amal itu tidaklah murni bagi Allah SWT. Kini, kita menyaksikan orang-orang senang—saat mereka melakukan sesuatu, mereka ingin setiap orang tahu. Saat mereka melakukan pengumpulan dana, mereka ingin setiap orang untuk tahu berapa banyak yang telah mereka sumbangkan untuk masjid, atau untuk hal-hal Islami lainnya.

Kenapa? Karena mereka akan menjadi terkenal dalam masyarakat dan orang-orang akan menyebut mereka, “Oh, mereka adalah orang-orang yang amat baik.” Itu adalah syirik-mu atas amalmu di hadapan Allah SWT bersama seseorang lainnya. Kalian tak perlu itu. Itu tidaklah haram, tetapi itu tidaklah sempurna.

Dan beberapa 'ulama berkata, ada dua macam amal. Ada `amal al-mubtadi`iin dan `amal al-kamiliin, amal para pemula, dan amal orang-orang yang sempurna. Ini berarti bahwa mereka yang dalam Islamnya, berusaha untuk maju, senang untuk menunjukkan bahwa mereka tengah melakukan sesuatu. Mereka yang telah mencapai maqam kesempurnaan, suatu maqam dari tazkiyyatun-nafs, pensucian diri tak akan peduli apakah orang lain tahu atau tidak atas apa yang telah mereka perbuat, karena mereka melakukannya untuk Allah SWT. Wahai Muslim, amal kita mestilah hanya untuk Allah SWT, dan amal kita mestilah tersembunyi. Tak seorang pun mesti tahu apa yang telah kita lakukan. Maka, saat itulah, kita tak akan mengizinkan ego kita untuk bermain dengan kita.

Hal yang paling berbahaya, sebagaimana disabdakan Nabi SAW, “Hal yang paling kutakutkan bagi ummatku adalah syirik tersembunyi, yaitu penyekutuan tersembunyi dalam amalan-amalan ummatku, bahwa mereka akan bangga di hadapan masyarakat, dan berkata, ‘Kami telah melakukan ini.’” Itu adalah di mana kalian menempatkan diri kalian di hadapan Allah SWT. Kalian mesti menyembunyikan diri kalian. Jika kalian memberikan sesuatu dengan tangan kanan kalian, tangan kiri kalian tak boleh tahu. Saat kalian menulis cek, tak seorang pun boleh tahu kecuali dirimu sendiri. Wahai Muslim, Allah SWT adalah Maha Penyayang terhadap diri kita, dan Dia mengirimkan bagi kita, dalam Islam, begitu banyak kebahagiaan, begitu banyak keagungan, dan begitu banyak cinta, hingga jika kita benar-benar mengikuti jalan dari Sayyidina Muhammad SAW, kita akan beroleh kebahagiaan dan kita akan melihat bahwa anak-anak kita pun tak akan hilang tersesat, karena Allah SWT tak suka menjadi seorang tiran bagi hamba-hamba-Nya. Allah SWT adalah Maha Pemurah terhadap hamba-hamba-Nya. Jika kita baik, kita pun akan melihat kebaikan. Jika kita melakukan suatu kesalahan, kita pun akan melihat sesuatu sepertinya. Wahai Muslim, sucikan hatimu, dan sucikan hatimu, dan bukalah dirimu sendiri pada cinta Allah SWT. Allah SWT berfirman, "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." Semoga Allah SWT menaruh kita dalam rahmat itu.

Wa min Allah at tawfiq

©As-Sunnah Foundation of America (http://www.sunnah.org)

Kamis, 04 November 2010

MENCARI KEHIDUPAN DUNIA DAN AKHIRAT


MENCARI KEHIDUPAN DUNIA DAN AKHIRAT
Kuliah Subuh : KH. Drs. Sandisi
Sumber:www.suryalaya.co.id

Artinya : Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. [al-Jumu'ah (62) : 10]. Berkaitan dengan ayat ini, Pangersa Abah mendapati dua kekhawatiran. Kekhawatiran pertama; Setelah seseorang mendapatkan talqin dzikir, dia "asyik" dengan dzikirnya kemudian melupakan kehidupannya di dunia, melupakan tugas dan kewajibannya sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai warga masyarakat, melupakan kehadirannya sebagai manusia di muka bumi ini. Kekhawatiran yang kedua adalah sebaliknya, dia tidak mengamalkan dzikir yang telah diajarkan. Oleh karena itu, mari kita menyeimbangkan antara keduanya; bekerja di dunia dan beramal untuk akhirat. Seperti dalam sebuat hadits dikatakan: Tidak termasuk kebaikan, jika kita mencari kebaikan di dunia tapi melupakan akhirat atau sebaliknya.


Pada ayat di atas, kita diperintahkan untuk shalat. Alhamdulillah, selain shalat secara lahir yang telah di atur oleh ilmu fiqih, kita juga telah diberi tahu tentang shalat secara bathin. Shalat secara lahir ditentukan waktunya; Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya serta shalat sunat lainnya. Sedangkan shalat bathin, tidak ditentukan waktunya. Kapan saja, dimana saja, sedang apa saja, baik dalam keadaan suci ataupun berhadats. Shalat bathin yaitu selalu Ingat Allah di dalam hati (dzikir Khofi) harus terus dilaksanakan. Banyak hadits yang menyinggung masalah shalat ini. Shalat adalah tiangnya agama ... Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab ... dan lain-lain.

Setelah shalat, kita diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi, ke barat, ke timur, ke utara ke selatan, kemana saja. Carilah karunia yang telah diberikan Allah. Menurut Imam al-Ghozali carilah karunia itu diartikan dengan mencari ilmu. Karena Nabi Muhammad Saw. bersabda: Barang siapa yang menghedaki dunia pakailah ilmu, barang siapa yang menghendaki akhirat pakailah ilmu. Barang siapa yang menghendaki kedua-duanya pakailah ilmu. Pangersa Abah selalu berharap, untuk terus belajar, terus menuntut ilmu, menambah pengetahuan, menambah pengalaman. Coba bandingkan Dua orang Tukang Batu. Yang satu hanyalah seorang tukang batu biasa. Dan yang satu lagi Tukang Batu Luar biasa yaitu seorang dokter yang bertugas mengambil batu ginjal dengan menjalankan operasi. Si Tukang Batu biasa, kerja seharian, mungkin hanya mendapatkan uang beberapa puluhan ribu rupiah saja, tapi seorang tukang batu luar biasa, hanya beberapa menit atau jam, bisa mendapatkan uang yang jauh berbeda. Begitu juga dengan ibadah. Apalah artinya ibadah siang malam tanpa dibarengi dengan ilmu.

Salah satu ilmu yang telah diberikan oleh Pangersa Abah adalah dzikir Khofi. Setiap pekerjaan baik yang kita laksanakan, apabila diiringi dengan ingat kepada Allah, maka dia akan bernilai ibadah, meskipun hanya berolah raga, mengikuti rapat, jalan-jalan dengan keluarga, nonton TV dan sebagainya. Tanpa diiringi dengan ingatan kepada Allah, meskipun shalat di depan Ka'bah, tiadalah artinya. "Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepuk tangan... [al-Anfal (8) : 35]

Oleh karena itu, marilah kita tunaikan shalat, laksanakan tugas sehari-hari disertai dengan dzikrullah (selalu ingat kepada Allah di dalam hati).

Senin, 23 Agustus 2010

IBNU TAYMIAH PENGIKUT SYEIKH ABDUL QODIR JAILANI

IBNU TAYMIAH PENGIKUT SYEIKH ABDUL QODIR JAILANI
Oleh : Dr. Afif Muhammad
sumber: Manaqib-sitius PP Suryalaya-Tasik Malaya

Biasanya orang yang mengkritik sesuatu, dianggap sebagai orang yang anti terhadap sesuatu yang dikritiknya itu. Misalnya Imam al-Ghazali sewaktu beliau mengkritik filsafat, beliau dianggap sebagai orang yang anti terhadap filsafat. Tidak hanya itu, bahkan beliau dianggap sebagai “Pembantai filsafat” (Pembunuh Ayam Bertelur Emas).
Hal serupa diatas juga dialami oleh Ibnu Taymiyah ketika beliau mengkritik tasawuf. Ketika itu beliau dianggap sebagai ulama yang anti terhadap tasawuf oleh banyak kalangan. Bahkan sampai sekarang pun masih ada kalangan yang beranggapan demikian. Anggapan atau lebih tepatnya tuduhan demikian merupakan sesuatu hal yang tidak berdasar.
Padahal berdasarkan pada penellitian, Ibnu Taimiyah ketika itu hanya mengkritik istilah tasawuf saja, bukan terhadap kehidupan tasawuf. Menurut Ibnu Taimiyah, tasawuf merupakan istilah yang tidak mempunyai akar sama sekali baik di dalam al-Qur’an maupun Hadits. Kalau tasawuf itu diartikan sebagai kejernihan hati, maka mestinya dipakai istilah sofa-yasfu-sofwan, bukan tashowufan. Dan kalau diartikan sebagai barisan yang rapat, maka istilah yang digunakan adalah sofa-ya suffu-soffan, bukan tashowuufan. Begitu juga bila diartikan bulu domba, maka yang ada adalah istilah suffan, bukannya tashowuffan. Dengan demikian menurut Ibnu Taimiyah, istilah tasawuf hanya mengada-ada saja. Dan menyarankan untuk menggunakan istlah yang laon saja. Adapun terhadap praktek kehidupan bertasawuf itu sendiri beliau tidak melarangnya.
Salah satu bukti Ibnu Taimiyah tidak melarang praktek tasawuf adalah beliau menulis sebuah kitab yang merupakan sarah ,dari kitab “Futuhul Ghaib”, karya Syeikh Abdul Qodir Jaelani Q.S. dalam tradisi ilmiyah (menulis) di jaman klasik dibedakan antara membantah, mengkritik, dan menjelaskan (sarah). Tulisan yang bersifat membantah merupakan penolakan atau penentangan terhadap pandangan-pandangan yang dibantahnya. Artinya penulis yang membuat bantahan mengambil posisi “berlawanan” dengan penulis yang dibantahnya.

Sedangkan tulisan yang mengkritik merupakan tulisan yang hanya meluruskan dan memberikan saran terhadap tulisan-tulisan atau dari seorang “kawan”. Adapun sarah atau penjelasan merupakan tulisan yang bermakna menjelaskan pandangan-pandangan atau karya-karya dari orang yang dihormati dan memiliki pandangan yang sama dengan orang yang membuat sarah tersebut.
Bisa saja sarah itu berupa penjelasan dari murid terhadap pandangan-pandangan gurunya.

BENTENGI DIRI DENGAN LAA ILAAHA ILLALLAH

BENTENGI DIRI DENGAN LAA ILAAHA ILLALLAH

Godaan Iblis terhadap Nabi Adam As. patut kita jadikan contoh, betapa dahsyatnya godaan dan bujukan Iblis tersebut sehingga Adam dan Hawa harus turun ke bumi bersama dengan Iblis menjadi musuh untuk selamanya. Apa yang kurang dari Nabi Adam As.? Pangkatnya Nabi dan Rasul pertama, jabatannya Kholifatul fil ardh, Wakil Allah di muka bumi, ilmunya tinggi, sehingga para Malaikatpun bersujud kepadanya untuk memenuhi perintah Allah kecuali salah seorang diantaranya yang menganggap dirinya lebih baik dari Adam. Kekayaannya, Adam dipersilahkan menikmati semua yang ada di "surga" kecuali popon khuldi. Tetapi ... karena bujuk rayu Iblis yang begitu kuat, akhirnya Adam dan Hawa melanggar perintah Allah. Lihatlah diri kita, pangkat apa yang kita punya, jabatan apa yang kita miliki, kekayaan dan ilmu apa yang kita simpan? Iblis tetap akan menggoda kita, dan kita dipastikan akan terbujuk, tergelincir, tergoda sehingga melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya atau sebaliknya tidak mau melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.


Banyak cara dilakukan oleh manusia untuk menjaga diri, keluarga, harta, jabatan, pangkat, kedudukan dan lain-lainnya. Seperti rumah tempat tinggal kita ditempeli dengan ayat-ayat Qur'an misalnya Ayat Kursi. Supaya tidak dibisa dimasuki maling, misalnya. Ayat Qur'an yang ditempel di dinding rumah kita, bisa jadi membuat syetan emoh masuk ke rumah kita. Tapi syetan itu pintar. Ketika rumah kita di tempeli ayat Qur'an, dia melihat yang punya rumahnya TIDAK DITEMPELI AYAT QUR'AN. Maka ... kitalah yang kemudian dimasuki syetan, Na'udzu billahi min dzaalik. Selanjutnya bisa ditebak, kita menjadi temannya. Parahnya lagi, tidak hanya syetan saya yang masuk ke dalam diri dan hati kita, tapi juga dunia dan segala isinya masuk ke dalam hati kita.

Mobil masuk ke hati, sehingga ketika mobil itu hilang atau dicuri, maka hati kita menjadi sakit. Keluarga di masukkan ke dalam hati, sehinga ketika salah seorang diantara mereka meninggalkan kita, hati kita menjadi sakit. Pangkat dan jabatan serta kedudukan, dimasukkan pula ke dalam hati, sehingga ketika hal tersebut tidak lagi ada pada diri kita, maka hati kita menjadi sakit dan seterusnya. Tetapi ... APAKAH kita pernah MERASA SAKIT ketika ALLAH HILANG DALAM HATI KITA? Kita seharusnya terus bersyukur karena telah bertemu dengan Pangersa Abah Anom yang telah menempelkan al-Qur'an ke dalam diri kita, ke dalam ruh kita, menempelkan Ismu dzat ke dalam hati kita. Bukan berarti tidak boleh mencari dunia, silahkan saja tapi jangan sampai dunia itu dimasukkan kedalam hati kita, cukup Allah saja yang ada di dalam hati ini.

Sekali lagi, mari kita bersyukur kepada Allah, karena melalui Pangersa Abah, kita diajarkan untuk selalu mengisi hati kita dengan dzikrullah, membetengi diri kita dengan kalimat Laa Ilaaha Illallah, menuntun kita untuk selalu beribadah, memberikan contoh kepada kita untuk hidup bahagia di dunia juga sejahtera di akhirat. Kalau begitu, apa yang sudah kita berikan untuk Suryalaya? Jangan hanya omong saja yang besar, retorika saja yang begitu menarik tapi kosong dari realitas. Mari kita buktikan pengabdian kita kepada Pangersa Abah Anom, kepada pesantren Suryalaya di mana saja kita berada dengan tenaga, harta, pikiran, dengan diri yang dilandasi keikhlasan. Amin ya robbal 'alamiin.

KERUGIAN ORANG YANG LUPA KEPADA ALLAH

KERUGIAN ORANG YANG LUPA KEPADA ALLAH

Wahai saudaraku, jauhilah maksiat, sebab terkadang ia menjadi penyebab tertutupnya rezeki bagimu. Jangan engkau melalaikan dzikir dan ketaatan, sebab adakalanya ia menjadi penyebab padamnya mata hati dan keterputusan dari Allah. Allah berfirman : "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri, rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" (QS. al-A'raf : 205). Ketahuilah, orang yang menggunakan kesehatan dan msa mudanya untuk bermaksiat kepada Allah, maka perumpamannya adalah seperti diwarisi ayahnya uang yang banyak, lalu ia belikan ular, kalajengking, serta berbagai binatang berbisa lainnya, lalu meletakkan semuanya di kamar tidur, makan yang satu mematuknya, yang lain menyengatnya, dan ada juga yang menggigitnya. Bukankah mereka membunuhnya?

Maka, perumpamaanmu adalah tak ubahnya seperti burung-burung pemangsa daging yang terbang berkeliling di atas bangkai-bangkai berserakan. Mereka mencarinya, dan begitu menemukannya mereka pun langsung turun dan menggayangnya dengan badannya yang besar dan sayapnya yang kuat, tinggi terbangnya dan tajam matanya. Tapi karena sasarannya berada di tempat sangat rendah, maka seringkali ia harus merosot turun ke bawah sehingga jatuh ke dalam kotoran-kotoran. Wahai saudaraku, jadilah engkau seperti lebah, kecil tubuhnya, pendek sayapnya, jarang terbangnya, tetapi semangatnya besar, jiwanya tinggi dan tidak hinggap kecuali pada bunga-bunga, hanya mengisap sari bunga nan wangi, mengeluarkan madu nan lezat dan hanya berbuat kebajikan. Jiwa-jiwa itu agung, maka untuk memenuhi kehendaknya tubuh-tubuh pun merasa senang.

Wahai saudaraku, lama sekali engkau berliku-liku di negeri ujian, diuji dengan musibah, didera dengan cambuk, agar engkau sadar dari kelupaanmu, bangun dari tidurmu, kembali kepada Tuhanmu, dan bebas dari dosamu. Tetapi, ujian itu tak akan berguna bagimu sedikitpun. Karena memang ujian itu sebenarnya bukan untuk orang yang sudah lupa (sepertimu), yang sedikitpun tak bisa menerima nasihat. Karena seorang wanita yang tak waraspun menyembelih anaknya di kamar sambil makan-makan dan tertawa, tidak menyadari apa yang sedang terjadi, tidak peduli dengan apa yang menimpanya.

Begitu juga engkau, engkau telah ditimpa berbagai musibah, seperti terlewatkannya bangun malam, tidak merasakan nikmatnya dzikir, hilang lezatnya bacaan al-Qur'an, meremehkan pemenuhan kewajiban, bebal dan tidak sedih, tidak menyesal, tetapi engkau malah banyak makan, tertawa, dan bersenang-senang. Semua itu terjadi karena kelalaian telah memadamkan hatimu, mematikan cahaya hatimu yang paling padam, merampas manisnya iman dari jiwamu, sehingga engkau tak lagi bisa membedakan antara yang berbahaya dan bermanfaat.

Orang hidup pasti terperanjat ketika ditusuk jarum ataupun duri, sementara mayat tidak merasakan apa-apa meski disayat-sayat pedang atau gergaji. Maka, jika engkau tidak bersedih atas terlewatkannya dzikir dan ketaatan, tidak bersedih setelah maksiat, maka engkau adalah orang mati hati, tak bernurani, tidak dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan, antara kebahagian dan kesedihan, tidak mengenal mana yang bermanfaat dan yang membahayakan.

Karena itu wahai saudaraku, tangisilah dirimu, berupayalah untuk membangunkan dan menghidupkan hatimu, mendekatkan dirimu dengan guru (musryid), duduklah di majelis dzikir, ilmu dan hikmah. Sebab di situ ada wangi dari tiupan surga, engkau akan menemukannya setelah bubar dari mejelis, dalam jalan hidupmu, di kampus, di toko, di rumah, atau sambil bersua bersama keluarga. Janganlah engkau lewatkan majelis-majelis dzikir, ilmu dan hikmah. Janganlah engkau katakan tidak ada gunanya hadir di majelis kebaikan dan ketaatan, karena aku telah terjerumus ke dalam dosa-dosa, dan aku tak kuasa meninggalkannya.
Karena perkataan seperti itu adalah dari bisikan syetan yang terkutuk, yang rasukannya ke dalam jiwa dimaksudkan agar seorang mukmin terhalang dari kebaikan. Tetapi yang berburupun tetaplah wajib memanah. Jika engkau mendapatkan buruannya hari ini, maka hari esokpun masih ada, dan jangan engkau putus asa dari rahmat Allah. Allah berfirman : Katakanlah :" wahai hamba-hambaku yang melapaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. al-Zumar : 53)...

JANGAN MERASA DIRI LEBIH MULIA DARI ORANG LAIN

sumber: http://www.suryalaya.org/manakib-buletin-isi.php?ID=105
Setiap orang yang beriman hendaknya jangan sampai suka memperlihatkan sikap tidak baik, merasa diri kita lebih mulia daripada orang lain. Ingin menghina pada orang lain. Ingin menghina kepada sesama, karena Allah telah berfirman : Wahai orang-orang yang beriman jangan suka menghina segolongan diantara kamu kepada golongan lainnya siapa tahu lebih baik yang dihina daripada yang menghina. Hal ini perlu mengapatkan perhatian kita sepenuhnya, sebab hal tersebut secara tidak sadar kita lakukan. Kadang-kadang dirasakan seperti becanda saja, padahal kalau tidak cepat bertobat, bisa menimbulkan dzolim. Artinya menjadi orang yang selalu merasa kegelapan. Gelap dalam arti pikiran dan perasaan. Masalah seperti ini dipandang penting dalah tarekat, sampai ada istilah Muroqobah. Itu gunanya untuk merasakan gerak-gerik kita. Mulai dari ucapan, kelakuan termasuk i'tikad. Jelas tentang hal ini jangan sampai disepelekan.

Seperti yang diterangkan dalam surat at-Taubat dalam al-Quran: Wa ammalladziina fii quluubiHim marodhun fazaadatHum rijsan ilaa rijsiHim wa maa tuuwaHum kaafirinn. Artinya : Orang-orang yang dalam hatinya berpenyakit, gerakan nafsu, ujub, riya, takabur, sombong, bohong, dzolim, khianat, jahat, dengki, benci dan seterusnya. Memang untuk menghina orang lain itu pekerjaan gampang tidak perlu repot-repot. Penyakit tersebut hampir tidak terasa, walaupun ia telah menyusup memasuki daerah perasaan kita. Tetapi kalau kita teliti dengan "kacamata rasa", baru kita menyadari bahwa perasaan kita sudah hampir ambruk. Sebab akibat lupa meneliti diri, bisa menimbulkan keinginan dalam hati untuk menghina orang lain. Padahal dirinya sendiri belum tentu benar. Pada dirinya sendiri banyak hal yang harus disingkirkan, yang pantas jadi ejekan, yang pantas ditiadakan, yang pantas dimusnahkan dan masih banyak kejelekan lainnya. Oleh karena itu sampai kita sempat melihat badan orang lain. Memang begitu lumrahnya, kotoran secuil pada badan orang lain kelihatan jelas, tapi badan sendiri sekujur tubuh penuh dengan kotoran yang menjijikan sama sekali tidak merasa. Lalau apa gunanya kita berdzikir? Kalau keadaan kita masih begitu juga. Padahal dzikir itu adalah sesuatu yang dapat menjadi garis pemisah antara yang baik dan yang jelek.

Dari ucapan saja sudah jelas, yaitu : Tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah Swt. Perintah ini benar-benar sudah jelas dengan ucapan yang nyata. Hasilnya hendaknya supaya berbekas pada amal, supaya tembus sampai i'tikad dengan benar-benar kokoh kuat, bisa memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Dzikir dengan lisan, yang tembus ke dalam hati, langsung tembus ke rasa akan memperlihatkan hasil kebaikan yang nyata pada diri kita. Jangan pura-pura sedang dihadapan umum seperti bersahabat tidak memperlihatkan rasa benci tapi dibelakangnya sebaliknya. Jangan sampai begitu. Singkirkan sifat seperti itu. Untuk apa kita amalkan dzikir yang dua macam yaitu dzikir Jahar yang diucapkan dan dzikir khofi yang diingatkan. Kedua macam dzikir itu guna memberantas segala macam kesalahan. dari kesalahan besar, sedang dan kecil. Dari kesalahan yang terdengar sampai yang tidak kedengaran. Oleh karena itu harus bisa menjelmakan menjadi satu pendirian yang benar-benar Shaleh sehingga bisa menghindarkan diri dari amal yang tidak diridhoi Allah Swt.

SEMUA MILIK ALLAH

Semua yang ada di bumi ini, akan binasa. Dan yang tetap abadi hanyalah Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Termasuk kita manusia akan hancur binasa. Jadi mengapa merasa ingin memiliki. Semuanya milik Allah. Apalagi kalau milik Allah tersebut kita gunakan untuk hal-hal yang tidak baik seperti menghina orang lain sehingga timbul perselisihan, perkelahian sehingga membuat orang tidak senang. Oleh karena itu, kita harus pasrah dan terbuka. Yakinkan bahwa diri kita tidak punya apa-apa. Tidak pernah mengadakan apa-apa. Tidak pernah membantu apa-apa. Tidak pernah menambah apa-apa. Kita tidak kaya, buka miskin. Tidak pintar bukan bodoh. Semua pemberian Allah. Kita tidak punya dan tidak memiliki sesuatu. Coba bayangkan, kalau dalam hati kita ada sedikit saja rasa memiliki, apalagi sampai tidak terasa terucapkan, itu sama saja artinya dengan mengambil hak Allah.

Kita harus terus berpegang teguh kepada Allah yang Maha Kuasa. Agar mendapat perlindungan sepenuhnya dari-Nya. Penuh pertolongan Allah, penuh dengan petunjuk Allah, penuh dengan hidayah Allah, penuh dengan kasih Allah. Tapi sebaliknya, apabila AKU yang merasa, aku yang punya, itu artinya mengambil wewenang Allah. Akibatnya kita akan dipenuhi kebingungan, kesusahan. Meskipun kaya, pintar tapi hatinya penuh dengan kebingungan. Sebagai sorang mu'min, selamanya harus merasa gembira. Kenapa tidak? Seumur hidup merasa dipelihara oleh Allah. Jika tidak memiliki perasaan tersebut maka perasaan kita akan bingung dan susah selamanya. Semoga Allah mengampuni kita semua.

Bagi kita yang sedang belajar tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya, mari intropeksi diri. Tingkatkan amal ibadah kita sehingga kita menjadi hamba-Nya. Koreksi diri, sehingga bisa memisahkan yang baik dan yang buruk. Tumbuhkan rasa saling menghormati, menyayangi, tolong menolong supaya kita berada dalam ridhonya. Tidak ada jalan lain kecuali dengan menggunakan dzikir sebagai alatnya. Fainna dzikro saeful mu'miniin. Sesungguhnya dzikir itu pedangnya orang-orang yang beriman. Dzikir itu untuk membasmi, menyingkirkan segala godaan syetan, bujukan nafsu yang datangnya dari luar dan dalam. Setelah kita memiliki senjatanya, tinggal digunakan dengan sebaik-baiknya. insya Allah terbuka pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. amin ya robbal 'alamiin.

Selasa, 30 Maret 2010

Meninggalkan Kepercayaan Yang Salah

cuplikan : Buku Spiritual Thinking Priatno H Martokoesoemo - halaman 111-114

Jika seseorang mempercayai hal-hal yang salah dan batil, dia berpotensi menjadi gila. Dia gila dunia, gila harta, gila wanita, gila minuman,gila klenik dan lain2. Sebaliknya jika seseorang yakin bahwa Tiada Tuhan Selain Alloh,maka dia bukanlah orang gila karena dia mempercayai kebenaran.

Kepercayaan yang salah sering diekspresikan orang gila, bisa mengakibatkan kehancuran total. Sebaliknya kepercayaan yang benar akan menuju keselamatan karena izin Allah. Untuk itu kita perlu memilah-milah mana kepercayaan yang benar dan mana yang salah dalam diri kita.

Orang percaya dengan hal-hal yang benar tidak akan tertipu oleh dunia ini. Dia justru akan mengajak saudara-saudaranya untuk menyadari gebyar duniawi yang menipu.

Kebenaran Datang dari Allah

Selama bertahun-tahun, saya ingin menentukan apa yang benar dan apa yang salahsehingga saya selalu penuh emosi saat berdebat dengan orang lain. Namun saya lalu sadar bahwa saya masih mempunyai kepercayaan yang salah. Saya kadang-kadang mengira bisa menguasai kebenaran dan memperlihatkannya kepada orang lain. Tetapi dalam praktiknya ternyata tidak semudah yang saya duga. Saya yakin kebenaran itu datang dari allah dan hanya atas izinNya suatu kebenaran bisa menyebar kemana-mana.
Menurut hemat saya kepercayaan yang salah hanya membuat orang menderita,sakit hati,dan jauh dari Allah. Sementara, orang yang percaya kebenaran, hidupnya akan merasa cukup,penuh kehangatan, dan bahagia.
Jika ada seseorang yangpercaya bahwa hanya sukunyalah yang paling baik, maka dia mempercayai hal yang salah.Mengapa? Karena baik dan tidaknya seseorang bukan bergantung dari asal sukunya, melainkan dari amal perbuatannya. Orang yang berbuat baik bisa berasal dari suku mana saja,sebagaimana juga orang yang berbuat salah dan dosa. Suku adalah kumpulan orang.didalamnya pasti ada orang saleh (sekaligus penjahat seperti yang dimiliki suku lain. Sekali lagi,tidak ada suku yang paling baik.
Contoh lain tentang kepercayaan yanalah. Dulug sewaktu kecil, anda mungkin percaya bahwa ada monster di bawah tempat tidur. Tetapi seiring berjalannya waktu anda lalu tidak percaya dengan hal-hal yang jelas salah dan berbau takhayul.

Merujuk Ke Teks Suci

Dalam pelatihan Spiritual Thinking (ST) biasanya saya mencari kepercayaan fundamental yang salah, lalu mengubahnya dengan kepercayaan yang fleksibel dan benar. Proses mengubah kepercayaan sebetulnya sangat sederhana, tetapi kadang sulit dimengerti.
Salah satu hal yang membuat orang menjadi stres dan mengalami histeria adalah karena dia berpegang pada sesuatu yang salah,tetapi sangat mempercayainya. Bahkan seseorang terlalu eksterm pada kepercayaan yang salah bisa mengalami tekanan batin. Contohnya dia selalu percaya bahwa seseorang (Bisa Ayah,Istri,pacar, teman atau siapapun)adalah orang yang "suci dan sempurna" . Namun suatu hari ia melihat orang tersebut melakukan maksiat. Diapun mengalami stres dan tekanan batin karena tidak bisa menerima kenyataan yang dijumpainya.
Karena meyakini kepercayaan yang salah,maka seseorang kadang terpaksa melawan dirinya sendiri. Disatu sisi, alam bawah sadar mengatakan bahwa suatu hal dianggap benar,tetapi disisi lain alam sadar mengatakan salah. Tabrakan kepercayaan dalam diri manusiaadalah hal yang tidak menyenangkanserta bisa mengakibatkan kebingungan dan kemarahan.
Salah satu kiat yang paling mujarab untuk meninggalkan kepercayaan yang salah dan kadaluarsa adalah dengan merujuk pada teks suci yaitu Alquran dan hadis. Carilah kumpulan kepercayaan yang anda punyai, lalu gantilah dengan nilai-nilai yang tersurat di dalam alquran dan hadis. Dengan cara ini insya allah hidup anda akan damai, bahagia dan penuh makna.