Sabtu, 12 Juli 2008

JANGAN MERASA DIRI LEBIH MULIA DARI ORANG LAIN


JANGAN MERASA DIRI LEBIH MULIA DARI ORANG LAIN
Dikutip dari: Manaqib - PP.Suryalaya


Setiap orang yang beriman hendaknya jangan sampai suka memperlihatkan sikap tidak baik, merasa diri kita lebih mulia daripada orang lain. Ingin menghina pada orang lain. Ingin menghina kepada sesama, karena Allah telah berfirman : Wahai orang-orang yang beriman jangan suka menghina segolongan diantara kamu kepada golongan lainnya siapa tahu lebih baik yang dihina daripada yang menghina. Hal ini perlu mengapatkan perhatian kita sepenuhnya, sebab hal tersebut secara tidak sadar kita lakukan. Kadang-kadang dirasakan seperti becanda saja, padahal kalau tidak cepat bertobat, bisa menimbulkan dzolim. Artinya menjadi orang yang selalu merasa kegelapan. Gelap dalam arti pikiran dan perasaan. Masalah seperti ini dipandang penting dalah tarekat, sampai ada istilah Muroqobah. Itu gunanya untuk merasakan gerak-gerik kita. Mulai dari ucapan, kelakuan termasuk i'tikad. Jelas tentang hal ini jangan sampai disepelekan.

Seperti yang diterangkan dalam surat at-Taubat dalam al-Quran: Wa ammalladziina fii quluubiHim marodhun fazaadatHum rijsan ilaa rijsiHim wa maa tuuwaHum kaafirinn. Artinya : Orang-orang yang dalam hatinya berpenyakit, gerakan nafsu, ujub, riya, takabur, sombong, bohong, dzolim, khianat, jahat, dengki, benci dan seterusnya. Memang untuk menghina orang lain itu pekerjaan gampang tidak perlu repot-repot. Penyakit tersebut hampir tidak terasa, walaupun ia telah menyusup memasuki daerah perasaan kita. Tetapi kalau kita teliti dengan "kacamata rasa", baru kita menyadari bahwa perasaan kita sudah hampir ambruk. Sebab akibat lupa meneliti diri, bisa menimbulkan keinginan dalam hati untuk menghina orang lain. Padahal dirinya sendiri belum tentu benar. Pada dirinya sendiri banyak hal yang harus disingkirkan, yang pantas jadi ejekan, yang pantas ditiadakan, yang pantas dimusnahkan dan masih banyak kejelekan lainnya. Oleh karena itu sampai kita sempat melihat badan orang lain. Memang begitu lumrahnya, kotoran secuil pada badan orang lain kelihatan jelas, tapi badan sendiri sekujur tubuh penuh dengan kotoran yang menjijikan sama sekali tidak merasa. Lalau apa gunanya kita berdzikir? Kalau keadaan kita masih begitu juga. Padahal dzikir itu adalah sesuatu yang dapat menjadi garis pemisah antara yang baik dan yang jelek.

Dari ucapan saja sudah jelas, yaitu : Tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah Swt. Perintah ini benar-benar sudah jelas dengan ucapan yang nyata. Hasilnya hendaknya supaya berbekas pada amal, supaya tembus sampai i'tikad dengan benar-benar kokoh kuat, bisa memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Dzikir dengan lisan, yang tembus ke dalam hati, langsung tembus ke rasa akan memperlihatkan hasil kebaikan yang nyata pada diri kita. Jangan pura-pura sedang dihadapan umum seperti bersahabat tidak memperlihatkan rasa benci tapi dibelakangnya sebaliknya. Jangan sampai begitu. Singkirkan sifat seperti itu. Untuk apa kita amalkan dzikir yang dua macam yaitu dzikir Jahar yang diucapkan dan dzikir khofi yang diingatkan. Kedua macam dzikir itu guna memberantas segala macam kesalahan. dari kesalahan besar, sedang dan kecil. Dari kesalahan yang terdengar sampai yang tidak kedengaran. Oleh karena itu harus bisa menjelmakan menjadi satu pendirian yang benar-benar Shaleh sehingga bisa menghindarkan diri dari amal yang tidak diridhoi Allah Swt.

SEMUA MILIK ALLAH

Semua yang ada di bumi ini, akan binasa. Dan yang tetap abadi hanyalah Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Termasuk kita manusia akan hancur binasa. Jadi mengapa merasa ingin memiliki. Semuanya milik Allah. Apalagi kalau milik Allah tersebut kita gunakan untuk hal-hal yang tidak baik seperti menghina orang lain sehingga timbul perselisihan, perkelahian sehingga membuat orang tidak senang. Oleh karena itu, kita harus pasrah dan terbuka. Yakinkan bahwa diri kita tidak punya apa-apa. Tidak pernah mengadakan apa-apa. Tidak pernah membantu apa-apa. Tidak pernah menambah apa-apa. Kita tidak kaya, buka miskin. Tidak pintar bukan bodoh. Semua pemberian Allah. Kita tidak punya dan tidak memiliki sesuatu. Coba bayangkan, kalau dalam hati kita ada sedikit saja rasa memiliki, apalagi sampai tidak terasa terucapkan, itu sama saja artinya dengan mengambil hak Allah.

Kita harus terus berpegang teguh kepada Allah yang Maha Kuasa. Agar mendapat perlindungan sepenuhnya dari-Nya. Penuh pertolongan Allah, penuh dengan petunjuk Allah, penuh dengan hidayah Allah, penuh dengan kasih Allah. Tapi sebaliknya, apabila AKU yang merasa, aku yang punya, itu artinya mengambil wewenang Allah. Akibatnya kita akan dipenuhi kebingungan, kesusahan. Meskipun kaya, pintar tapi hatinya penuh dengan kebingungan. Sebagai sorang mu'min, selamanya harus merasa gembira. Kenapa tidak? Seumur hidup merasa dipelihara oleh Allah. Jika tidak memiliki perasaan tersebut maka perasaan kita akan bingung dan susah selamanya. Semoga Allah mengampuni kita semua.

Bagi kita yang sedang belajar tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya, mari intropeksi diri. Tingkatkan amal ibadah kita sehingga kita menjadi hamba-Nya. Koreksi diri, sehingga bisa memisahkan yang baik dan yang buruk. Tumbuhkan rasa saling menghormati, menyayangi, tolong menolong supaya kita berada dalam ridhonya. Tidak ada jalan lain kecuali dengan menggunakan dzikir sebagai alatnya. Fainna dzikro saeful mu'miniin. Sesungguhnya dzikir itu pedangnya orang-orang yang beriman. Dzikir itu untuk membasmi, menyingkirkan segala godaan syetan, bujukan nafsu yang datangnya dari luar dan dalam. Setelah kita memiliki senjatanya, tinggal digunakan dengan sebaik-baiknya. insya Allah terbuka pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. amin ya robbal 'alamiin.

KEHEBATAN KALIMAT LAA ILAAHA ILLALLAAH



KH. AYI BURHANUDIN


Sebagian dikutip dari www.suryalaya.org

"... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan" (QS. al-Maidah : 15). Nabi Muhammad diciptakan dari Nur keagungan Allah Swt. Dari Nur itulah kemudian tercipta seluruh makhluk. Kalimat ma'rifat yang sudah kita dapatkan juga merupakan bagian dari Nur Muhammad. Dzikir Jahar dan dzikir Khofi bisa menjadi cahaya penerang bagi kita dan menjadi api bagi syetan sehingga membakarnya.

Kalimat dzikir Laa ilahaa illallah mempunyai 19 nama diantaranya : Kalimat tauhid, Kalimat Ikhlas, Kalimat Ahsan, Kalimat da'watul haq, Kalimat thoyyibah, Kalimat 'Urwatul wutsqo, Kalimat tsamma'ul jannah (harga dan pembeli syurga), Kalimat taqwa, Kalimat Islam, Kalimat kedekatan dengan Tuhan, Kalimat kemenangan dst. Alhamdulillah kita sudah mendapatkannya.

Kehebatan Laa ilahaa illallah itu disebutkan : Tidak akan dibuka pintu langit (kesatu, kedua ... ketujuh) oleh Allah bagi orang yang berdo'a jika tidak melalui kalimat Laa ilahaa illallah. Artinya do'a tidak akan diijabah apabila kalimat Laa ilahaa illallah menyertainya. Kunci Pintu Surga adalah Laa ilahaa illallah. Alhamdulillah kita sudah mendapatkannya dan mudah-mudahan bisa membukanya. Sebaliknya kalimat Laa ilahaa illallah bisa menutup pintu neraka. Barokah dari langit dan bumi akan datang kepada orang yang banyak mengucapkan Laa ilahaa illallah. Kalimat Laa ilahaa illallah bisa membuka/mengeluarkan ruh manusia yang tidak bisa kembali kepada Allah ketika azalnya tiba. Hakikat Laa ilahaa illallah adalah dzikir Khofi. Dengan dzikir inilah kita belajar untuk bisa kembali kepada Allah. Dzikir Laa ilahaa illallah bisa menutup, mengendalikan nafsu jelek yaitu nafsu amarah dan lawwamah juga untuk mengunci pintu kemaksiatan.

Rahasia ayam jago


Rahasia Di Balik Ayam Jago
Dipublikasi pada Tuesday, 10 January 2006 oleh admin

Tahukah Anda?

M. Fauzi Musthofa (fauzi_m@sidogiri.net)

Ustad Sholeh (vokalis O.G. Al-ifroh) menyenandungkan suara emas yang dimiliki dengan iringan musik kesayangannya lewat syair-syair terbaik nan indah serta menyentuh lubuk hati penggemarnya, sekalipun kedengarannya sedikit bersenda gurau yaitu: bileh para' manjingah sobbu ajam lake' akukurunno', nikah tandanah settong paenga' dari Allah sopajah alakoh ebadah. Syair ini bukan sekedar syair penghibur lara dan letih setelah bekerja mencari nafkah, tapi merupakan aplikasi dari sebuah pernyataan ulama' yang diberi kemampuan untuk memahami dan mengungkap makna atau arti dari fenomena alam yang terjadi dan dikoleksi dalam kitab-kitab islam agar umat islam yang lain dapat mengetahui dan memahami pula.


Mengapa ayam jago itu bisa berkokok? apakah hanya ingin menyalurkan gairah seksualnya kepada sang betina? atau ada rahasia lain dibalik itu?

Kitab bujairimi ala al-khotib tepatnya di al-qoulu fi qodlo i al-fawaa iti mencoba memaparkan dengan gamblang akan hal itu. Konon sewaktu Nabi Adam diturunkan ke bumi dan mulai mengisi kehidupan di alam barunya, beliau kebingungan untuk melakukan sholat yang telah diperintahkan kepadanya. Hal itu dikarenakan beliau tidak tahu kapan waktu pelaksanaan tersebut. Tak lama kemudian beliau diberi sepasang ayam dari sorga. Satu ayam jago dan satunya ayam betina. Ayam jagonya berwarna putih yang kedua kakinya berwarna kuning, besar ayam itu seperti sapi besar, dan ayam tersebut selalu mengepakkan kedua sayapnya saat tiba waktu sholat dan berseru "Maha suci Allah yang dipuji semua makhluk, Wahai adam …! Kerjakanlah sholat, semoga kamu diberi rohmat oleh Allah". Mendengar seruan tersebut beliau langsung bangkit dan berwudlu' lalu sholat sesuai dengan apa yang menjadi ajarannya.

Imam Wahib berkata : Allah mempunyai seekor ayang jago yang bila ia bertasbih, maka malaikat berseru "dimana para pendengar seruan itu, orang yang ruku', orang yang sujud, pemohon ampunan, dan peng-Esa Allah …?." Seruan itu didengar pertama kali oleh malaikat yang berbentuk ayang jago berbulu putih. Malaikat tersebut berada dibawah pintu rahmat dan kedua kakinya menancap di dasar bumi serta kedua sayapnya memenuhi jagat raya. Malaikat yang mendengar seruan tersebut sepontan mengepakkan kedua sayapnya dan bertasbih mensucikan Allah, dan pada saat itu pula ayam-ayam di bumi juga ikut bertasbih seperti yang disuarakan malaikat itu, dan syetanpun lari tunggang langgang meninggalkan segala tipu muslihat yang telah direncanakan untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran tanpa menghiraukan korban yang sudah ada dalam genggamannya.

Versi lain mengatakan bahwa semua makhluk Allah mendengar seruan ayam tersebut dan ikut bertasbih kacuali jin dan manusi. Bila kiamat sudah dekat, maka ayam itu tidak mengepakkan sayapnya dan tidak bertasbih lagi, hal itupun juga diketahui semua makhluk kalau kiamat sudah dekat, tapi jin dan manusialah yang tidak pernah tahu akan hal itu karena mereka hanya sibuk dengan urusannya sendiri demi kepentingan sesaat. Dan tasbih ayam tersebutt berupa subbhaana al-maliki al-quddus, robbuna al-rohman, laa ilaha illa ghairuhu. Seruan itupun tidak asing lagi dikalangan ulama' , sebab mereka tahu dan yakin bahwa apa yang disampaikan para shohabat itu betul dan terjadi, karena mereka adalah orang-orang pilihan dan pembela rosulullah, bahkan mereka disamakan dengan bintang gemintang yang dapat menunjukkan orang yang sedang kebingungan tidak tahu arah kemana dia akan melangkah.

Dengan cerita diatas ternyata ayam jago tidak hanya sekedar hewan yang dipelihara dan dikonsumsi dagingnya serta didengar suara merdunya ketika menjelang tengah malam, hingga kesunyiannya hilang terisi dengan suara khas si ayam jago. Tapi dibalik semua itu ayam jago mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki hewan-hewan lain.

Orang yang sedang dirundung kesusahan atau sedang sakit, apabila membaca tasbih yang dikumandangkan ayam jago, yaitu subhaana al-subbuuhu al-qudduus al-rohmaanu al-maliki al-dayyaani alladzi laa ilaaha illa hua, maka segala yang ia cita-citakan akan terkabulakan dan dicapainya, begitulah pernyataan imam jalalu al-din al-suyuthi. Disamping itu pula syetan tidak akan masuk kedalam rumah yang didalamnya terdapat ayam jago berbulu putih, demikian komentar yang disampaikan oleh sepupu Rosulullah yang dido'akan menjadi orang yang alim tentang al-Qur an, Ibnu Abbas ra, bahkan ayam jago juga tergolong jenis burung yang paling desenangi oleh Allah.

Maka dari itu perbanyaklah kita ingat dan mensucikan Allah Tuhan pencipta diri kita sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada-Nya atas segala nikmat yang diberkan kepada kita, karena hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah segala macam kesusahan dan kemelaratan akan musnah dan sirna tak lagi menyelimuti diri kita hamba yang tidak tahu diri dan tak pandai balas budi.

Ternyata Akhirat Tidak Kekal?


Ternyata Akhirat Tidak Kekal: Kesalahan Tafsir

Ahmad Fauzan Amin (fida@sidogiri.net)

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Sa'id al-Khudri. Dia berkata: Rasulullah pernah bersabda: Ketika penduduk surga masuk ke surga dan penduduk neraka masuk ke neraka mereka didatangkan dengan mati yang menyerupai kambing putih. Kemudian kambing itu ditempatkan tepat di antara surga dan neraka. Lalu mereka ditanya, "Wahai penduduk surga! Tahukah kalian, apa ini? Kemudian mereka melihat kambing itu, lalu berkata: "Iya, ini adalah mati." Begitu pula dengan penduduk neraka. Mereka ditanyakan dengan pertanyaan yang sama. Kemudian Nabi bersabda: Lalu kambing (yang tak lain adalah mati) itu diperintah untuk disembelih. Maka disembelihlah kambing itu. Kemudian dikatakan kepada mereka: "Wahai penduduk surga (kalian ada di surga) abadi, tanpa kematian." Begitu pula dengan penduduk neraka.

Hadits di atas adalah satu dari sekian banyak hadits yang menjelaskan tentang keabadian darain (surga dan neraka). Abu Isa al-Turmudzi dari Abu Sa'id al-Khudri mengatakan hadits ini adalah hadits hasan dan shahih. Hadits sama dengan beda redaksi juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah.

Imam al-Thabari mengatakan hadits-hadits ini adalah nash tentang keabadian surga dan neraka, tanpa batas waktu dan tetap kekal (lihat, Al-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta, Al-Qurthubi vol. II/435-438).

Syekh Mulla Qari ketika memberi syarh untuk al-Fiqhul Akbar-nya Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa surga dan neraka kekal adanya, karena firman Allah khalidina fiha abadan (baca, Syarh Kitab al-Fiqhul Akbar hal. 318).

Lebih tegas lagi, Abu Bakar ibn Faraj al-Qurthubi mengatakan, barangsiapa yang mengatakan bahwa surga dan neraka tidak kekal maka orang itu tidak menerima hal yang sangat rasional sekali, tidak sesuai dengan hadits Nabi dan menyalahi ijma (konsensus) ulama terdahulu.

Jadi, mayoritas ulama memang berpendapat bahwa alam akhirat adalah kekal adanya. Bahkan, QS Hud:106-107 yang berarti, “(Orang-orang yang celaka itu) akan kekal di neraka selama langit dan bumi” tidak pernah memberi vonis akan kekalnya akhirat. Justru ayat ini adalah legitimasi bahwa akhirat kekal.

Juga pendapat yang disampaikan oleh Sayyid Quthb bahwa redaksi madamatis samawatu wal ardl adalah redaksi untuk mengungkapkan kekekalan dan keabadian. Buktinya adalah redaksi ‘atha’an ghaira majdzudz. Redaksi ini disampaikan bertujuan untuk memberikan legitimasi kepada orang-orang yang beruntung bahwa nikmat yang Allah berikan kepada mereka adalah nikmat yang tak terputus alias abadi. Bahkan, sususan ‘atha’an ghaira majdzudz ini ada untuk menghapus dugaan adanya batas waktu bagi alam akhirat dengan adanya susunan illa ma sya’a rabbuka (lihat, Fath al-Qadir, Sayyid Quthb, IV/1929).



Kalangan Kontra Konsensus Ulama

Jangankan Ahlussunnah wal Jamaah, Muktazilah pun meyakini bahwa surga dan neraka kekal dan abadi adanya. Hanya Jahmiah saja yang tidak sependapat. Jahmiah mengatakan bahwa surga dan neraka suatu ketika akan rusak juga. Neraka suatu saat akan kekosongan penghuni.

Hanya saja, Jahmiah ini tetap ngeyel untuk mempertahankan hujjah lemahnya sehingga terjadi polemik berkepanjangan yang memaksa sejarah untuk mencatat kerasnya perdebatan ini.

Jahmiah pimpinan Jahm bin Shafwan ini tidak mau menerima pendapat yang mengatakan akhirat kekal. Tidak rasional sekali bila ada suatu hal yang tak berakhir, sebagaimana juga tidak masuk di akal sesuatu yang tanpa awal. Sebab inilah Jahmiah menafikan sifat bagi Allah Swt. Sebab ini juga mereka dinamakan mu’atthilah (lihat, Maktabatuna, edisi 02)

Selain Jahmiah memang ada pendapat yang dinisbatkan kepada shahabat; Ibn Jarir meriwayatkan dari al-Sya’bi, dia mengatakan, “Jahanam adalah neraka tercepat umur dan rusaknya.” Ishaq ibn Rahawaih dari Abu Hurairah, dia mengatakan: “Akan datang suatu hari dimana Jahanam tidak akan berpenghuni.” Lalu Abu Hurairah membaca QS Hud:106. Selain itu, Lain dari itu masih ada riwayat dari Ibn Mas’ud dan Ibn al-Mundzir.

Hanya saja dari semua atsar pendapat yang mengatakan bahwa alam akhirat tidak kekal oleh Ibn al-Jauzi dikategorikan sebagai atsar yang maudlu’ (dibuat-buat). Dalam Ruh al-Ma’ani, Mahmud al-Alusi mengutip perkataan Ibn al-Jauzi ini (lihat, Ruh al-Ma’ani, Mahmud al-Alusi, vol. VI/142-146). Sayyid Quthb mengatakan memang ada hadits yang terdapat dalam Mu’jam al-Thabrani al-Kabir yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Shadiy ibn ‘Ajlan al-bahili, namun sanad yang ada dha’if (Fath al-Bari 668-672). Bahkan, Imam Jalalaluddin mengatakan bahwa pendapat-pendapat ini adalah pendapat yang bathil (Tafsir al-Shawi:II/229).



Muara Tafsir

Sekian banyak ulama sepakat bahwa alam akhirat kekal adanya. Berkesimpulan bahwa akhirat tidak kekal dengan memahami ayat al-Qur’an secara eksoteris (dzahiriah) saja oleh Imam Ahmad al-Shawi al-Maliki dikategorikan kafir.

Sebab itulah kalangan ulama mentakwil QS Hud:106-107 dengan tetap bermuara pada satu kesimpulan bahwa alam akhirat kekal adanya.

Al-Thabari menulis dalam tafsirnya bahwa QS Hud:106-107 mamiliki dua puluh takwil yang semuanya bermuara pada kesimpulan bahwa alam akhirat kekal dan abadi. Begitu juga paradigma ‘tidak kekal’ yang timbul dari kalimat illa ma sya’a rabbuka. Bahwa yang masuk ke dalam masyi’atillah adalah kalangan mukmin muwahhid (orang-orang yang beriman dan mengesakan Allah) yang durhaka. Maksudnya, mukmin muwahhid ini keberadaannya tidak akan kekal di dalam neraka, karena setelah disiksa mereka akan dipindah ke surga dengan kehendak Allah Swt. Sedangkan kafirin akan tetap sebagai penghuni abadi neraka. Bahkan, dalam hal ini al-Thabari dan Sayyid Quthb menjelaskan panjang lebar.


Jadi, yang menjadi perdebatan dikalangan ulama bukan tentang kekekalan alam akhirat, namun perbedaan pendapat bermuara pada topik masuk dan keluarnya penduduk ‘dua desa’ itu dari neraka dan surga dan yang menjadi fokus perbedaan adalah mukmin muwahhid yang durhaka. Allahu a’lam.

Jumat, 11 Juli 2008

Ajengan Gaos


KEMBALINYA AHLI DZIKIR LAA ILLAHA ILLOLLOH...

Maqamrasul
PULANGNYA AHLI LAA ILAAHA ILLALLAH
Oleh : KH. M. Abdul Gaos SM.


Sejak tahun 1972 sampai sekarang tidak pernah ada Ikhwan TQN PP. Suryalaya di Cisirri yang mati. Tetapi mereka meninggal pada saatnya. Seperti kemarin aki Fakhrurozi setiap setelah Shalat Isya biasanya makan dan ngobrol. Ketika sudah sampai waktunya, ujung dari hidupnya tidak mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Malah dia berkata “Saya mau tidur niat ibadah”. Terus melanjutkan “Ilaahi anta maksuudi,…” demikian bahasanya, lalu dia meninggal. Begitu juga yang terjadi kepada saudara saya (sifat adik). Dia mengatakan, “Mau tiduran”. Tidak mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Biasanyakan kalau tiduran tidak langsung meninggal.

Berbeda lagi dengan wak Empud leuwihalang berkata : “Jemput Aang (Gaos) agar jadi saksi kalau Ua mau pulang”. Maka setelah saya berada di depannya wak Empud berkata : “Aang menjadi saksi, saya mau pulang”. Tidak perlu mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Dikarenakan sudah sejak 1972 ditalqin berarti sudah pulang sejak tahun itu juga. Masih juga seorang Ikhwan yang bernama H. Komar dari Banjar yang sudah 60 tahun mengadakan Manaqiban. Pangersa Abah selalu bertanya siapa penerusnya ? Terakhir ketika saya manaqib di rumahnya, ada berita dari rumah sakit Bandung bahwa keadaannya alhamdulillah ada kemajuan. Sewaktu saya menuju ke Suryalaya di tanya oleh Pangersa Abah : “Dari mana ?”. Jawabannya : “Dari Banjar”. Lalu Pangersa Abah bertanya lagi : “Bagaimana keadaannya dan siapa penerusnya?”. Jadi Beliau sudah mengetahui akan kemana.
Setelah itu datang H. Kuswa membawa air untuk H.Komar yang katanya sudah dibawa ke rumah. Maka Pangersa Abah menyuruh : “Aos lihat ke sana untuk mewakili Abah dan katakan kepada keluarganya supaya jangan menarik-narik serta mendorong-dorongnya. Dia sudah mempunyai tempat di sana”. Adapun yang maksud menarik-narik dan mendorong-dorong adalah selang yang disambung ke pernapasannya. Maka begitu ditarik selang tadi, langsung H. Komar pulang.

Termasuk yang terjadi pula pada orang tua, yaitu Bapak. Pangersa Abah berkata : ”Bapakmu itu sudah leluasa (logor) kalaupun pulang sudah ada tempat dan kalaupun masih dibutuhkan terserah”. Takkala Ucu (A Ucu) ke Suryalaya sewaktu bapak mau “pulang”, Pangersa Abah berkata : “Sampaikan selamat (wilujeung)”. Maka “pulanglah”. Kalau ibu berbeda lagi ceritanya. Sama seperti yang lain pada akhir ucapannya bukan Laa Ilaaha Illallah. Ibu berkata “ingin pulang”. Disangka saya ingin pulang dari Panumbangan ke Ciomas. Setelah di sanapun berkata seperti itu juga. Saya berkata : “Mih, tunggu dulu, saya mau mengaji ke sampai hari Sabtu”. Setelah selesai hari Sabtu, saya minta pamit lagi untuk mengaji di Cijantung, ketika minta pamit Beliau tidak menjawab. Begitu memakai kaos kaki ada yang memanggil saya untuk menemui ibu. Lalu ibu berkata: “Cep ! Emih pulang sekarang saja, dido’akan sekali”. Lalu beliau “pulang”.

Rasulullah SAW. telah bersabda bahwa : “Bahwa bagi ahli Laa Ilaaha Illallah, tidak ada rasa takut ketika maut datang”. Karena malaikat Ijroil bukan mencabut tetapi menjemput. Di kubur pun tidak akan bertemu Munkar – Nakir dikarenakan sudah dibersihkan dari berbagai kemungkaran oleh kalimat Laa Ilaaha Illallah. Termasuk ketika di Mahsyar bagi ahli Laa Ilaaha Illallah tidak akan menemukan kesulitan dan kekhawatiran. Mereka menemukan kebahagiaan dan kesenangan, seperti yang dijanjikan Allah SWT.

KEKUATAN KATA-KATA


Kekuatan dari Kata-Kata yang Baik/ Mahdzab dalam Islam
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
dalam Mercy Oceans (Book Two)


Di masa Nabi Nuh as ada seorang raksasa yang bernama ‘Ooj bin Unq, dia begitu besar sehingga kepalanya mencapai langit. Setiap hari dia memakan semua roti dari seluruh toko roti di kota itu, tetapi dia tidak pernah merasa puas. Suatu hari Nabi Nuh as memintanya untuk membawakan kayu untuk membangun perahunya dan berjanji akan memberinya makanan sekembalinya nanti. Dia setuju dan segera mengumpulkan seluruh kayu di hutan dan membawanya dengan tangannya lalu mengantarkannya. Nabi Nuh as memberikan 3 bantal roti kepadanya. Hampir saja ‘Ooj tidak melihatnya. “‘Ooj, ucapkanlah BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM lalu makan.” Tetapi dia menolak.

Nabi Nuh as berkata lagi, “Wahai ‘Ooj apa yang tolak?” Dia menjawab, “Aku tidak mau mengucapkan BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM.” Kemudian Nabi Nuh as berkata, “Sekarang makan!” Dia memakannya dan merasa kenyang, tetapi dia merasa curiga, dia menuduh Nabi Nuh as melakukan sihir, lalu mengumpulkan semua kayu dan pergi. Dari beberapa potong kayu yang terjatuh, Nabi Nuh as membangun perahunya.

Nabi Nuh as adalah orang pertama yang memelihara anjing penjaga, karena begitu banyak orang yang menyakitinya. Mereka menggunakan perahunya sebagai toilet, sehingga Allah memberi mereka penyakit lepra. Mereka tidak dapat menemukan obat untuk mengobati penyakit itu. Suatu malam seorang penderita lepra datang untuk menggunakan toilet dan dia terpeleset dan jatuh ke dalamnya. Pagi harinya penyakitnya sembuh. Kemudian seluruh orang datang dan mengumpulkan dengan susah payah dan membersihkannya sampai tidak tertinggal noda. Jangan menyakiti seseorang. Allah mengetahui niat kita. Kisah mengenai Ooj merupakan kabar gembira. Kata-kata yang suci pasti mempunyai pengaruh terhadap seseorang.

AKHIR ZAMAN


Tanda-Tanda Kiamat
Salam Hanya Diucapkan kepada Orang yang Dikenal
Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani


Praktik yang sangat dianjurkan bagi orang Islam, laki-laki maupun perempuan, adalah memberi salam kepada sesama muslim, yang dikenal maupun yang tak dikenal, dengan ucapan, assalâmu‘alaikum” (keselamatan atasmu). Salah satu tanda akhir zaman adalah bahwa orang-orang Islam tidak akan memberi salam kepada orang Islam yang tidak dikenal. Mereka
hanya akan memberi salam kepada orang Islam yang mereka kenal.

Imâm Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: "Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah: salam hanya diucapkan kepada orang yang dikenal, aktivitas perdagangan meningkat sampai-sampai seorang istri akan membantu suaminya mencari nafkah, tali
silaturahim terputus, kesaksian palsu menjadi umum, kebenaran disembunyikan, dan peran alat tulis menjadi dominan".

Kini, kita bisa saksikan bahwa orang-orang Islam hanya memberi salam kepada orang-orang yang mereka kenal. Aturannya adalah, “Jika aku tidak mengenalmu, aku tidak akan memberi salam kepadamu.” Hal ini di antaranya karena orang-orang Islam sudah sangat sulit
dikenali, karena secara lahiriah orang-orang Islam sudah tak bisa mengenali satu sama lain. Terutama diwilayah-wilayah berpenduduk muslim minoritas, mereka sebaiknya mengenakan busana Islam yang mudah dikenali sehingga mereka dapat saling mengenal dan memberi
salam.

Di Dunia Islam, terutama di kota Mekah dan Madinah, laki-laki muslim minimal menggunakan tutup kepala. Namun, di luar kedua kota suci itu, laki-laki tidak lagi mengenakan tutup kepala. Sementara para muslimah sering kali menutup kepala mereka dengan jilbab dalam
kesehariannya. Perempuan-perempuan tersebut dapat dikenali dan menerima salam dari perempuan muslimah lainnya. Laki-laki muslim juga dianjurkan mengenakan penutup kepala untuk menunjukkan identitas diri sehingga bisa dikenali dan diberi salam oleh muslim
lainnya. Dengan begitu Allah akan senang.

"Apabila kamu dihormati dengan sebuah penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (Q 4:86) Namun, di negara-negara yang seluruh penduduknya muslim, masyarakatnya tidak saling mengucap salam. Itu karena sudah tidak ada lagi kesatuan dan kehangatan di antara mereka. Di negara-negara Islam, kita menyaksikan ratusan orang lalu lalang di jalan, namun tak satu pun yang mengucap assalâmu’alaikum. Setiap orang sibuk dengan kehidupannya sendiri. Persahabatan tidak lagi didasarkan pada ikatan-ikatan keagamaan, tetapi lebih pada kepentingan pribadi dan duniawi.

Tanda akhir zaman yang diprediksi Nabi saw. ini merupakan akibat pergeseran prioritas manusia. ‘Abd Allâh ibn Mas‘ûd meriwayatkan hadis serupa bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya di antara tanda akhir zaman adalah bahwa ucapan salam hanya akan diberikan kepada orang yang dikenal". Dewasa ini, jika seseorang bertemu dengan orang yang tak dikenalnya, ia tidak akan memberi salam. Ini mencerminkan berkurangnya perhatian seseorang terhadap sesamanya. Meskipun ada teman atau saudara yang menderita, hampir tak seorangpun yang peduli. Semua orang cuma peduli pada urusannya sendiri. Pada masa lalu tidak seperti itu. Jika seseorang melihat seratus orang di jalan, ia akan memberi salam kepada setiap orang. Salah seorang yang diberi salam mungkin saja orang yang saleh, yang ucapan salamnya
diyakini bisa mendatangkan ampunan Allah untuk keduanya. Seorang sahabat Nabi, Ibn Uyaynah,
mengatakan, “Ampunan Allah turun berkat zikir orang-orang saleh (‘Inda dzikr al-shâlihîn tatanazzalu al-rahmah).”

Kini, praktik itu sudah hilang, dan kita tidak lagi saling memberi salam. Bahkan, jika kita mengenal seseorang, kita akan memalingkan wajah agar tidak bercakap-cakap dengannya. Terkadang, untuk kepentingan duniawi, kita tidak ingin menunjukkan bahwa kita mengenal orang itu. Orang-orang Islam tidak lagi saling bersahabat. Umat Islam tidak akan jaya jika mereka meninggalkan pesan-pesan Nabi saw. Tanda akhir zaman lainnya yang disebutkan dalam hadis tersebut adalah bahwa kegiatan perdagangan dan bisnis meningkat. Orang-orang akan berjuang keras mencukupi kebutuhan hidup sehingga mereka membuka berbagai jenis usaha atau perdagangan.

Sabda Nabi, “Seorang istri akan membantu suaminya dalam mencari nafkah,” menunjukkan bahwa pada akhir zaman pendapatan seorang suami tidak dapat mencukupi kebutuhan sebuah keluarga, sehingga seorang istri terpaksa harus membantu suaminya mencari uang. Pada masa lalu, suatu keluarga tidak perlu memiliki dua pos pemasukan keuangan. Kini, perempuan terjun ke berbagai bidang, termasuk membesarkan anak dan merawat keluarga, pendidikan, kesehatan, pertanian, dan aktivitas lainnya. Atas kehendak sendiri, banyak perempuan turut membantu suaminya dalam pekerjaannya.

Tetapi, pada masa lalu, seorang istri tidak perlu keluar rumah untuk mencari pekerjaan tambahan demi menutup pengeluaran belanja keluarga. Kini, karena ingin menghidupi keluarga, suami dan istri harus sama-sama bekerja. Di seluruh penjuru dunia, perempuan-perempuan terlibat dalam dunia kerja untuk menghasilkan uang bagi keluarga, karena sebuah
keluarga tidak akan bertahan hanya dengan pendapatan suami yang kurang. Seolah-olah Nabi saw. melihat langsung kondisi dewasa ini dari masa lalu yang jauh.

Terputusnya Tali Silaturahim

Hadis yang terkait dengan bab sebelumnya menyebutkan bahwa akan terjadi fenomena qath‘ al-arhâm, pemutusan tali kekerabatan. Hubungan yang akrab antara saudara sedarah, seperti antara ayah–ibu, saudara sekandung, paman–bibi, akan hilang. Kini, anak-anak memiliki
persoalan dengan kedua orang tua mereka, dan segera setelah dewasa, mereka pergi meninggalkan rumah. Orang tua tak lagi menemui anaknya, dan anak tak lagi mengunjungi orang tuanya.

Dalam hadis itu, “qath‘ al-arhâm” juga berarti “memutuskan sarana meneruskan keturunan”, yakni kesuburan dan melahirkan anak. Kini, alat-alat kontrasepsi sudah tersebar luas, praktik aborsi sudah menjadi fenomena umum, dan laki-laki maupun perempuan telah melakukan operasi pencegahan kesuburan. Keberlangsungan keturunan sengaja diputus. Orang sudah merusak ikatan keluarga yang sudah terbangun, dan tidak menghubungkan ikatan keluarga dengan generasi selanjutnya, dengan memotong ikatan keluarga masa lalu dan masa depan.

Dalam makna harfiahnya, qath‘ al-arhâm (memotong rahim) juga menunjukkan pemotongan rahim dalam arti sebenarnya, seperti yang telah terjadi dalam cara yang tak tercontohkan sebelumnya. Kelahiran bayi biasanya dilakukan melalui operasi caesar, dengan membedah bagian rahim untuk mengeluarkan bayi dari perut, sering kali dilakukan karena kesibukan jadwal dokter atau bahkan karena kesibukan sang ibu sendiri.

Histerektomi atau operasi pengangkatan rahim sudah lazim dilakukan. Pembedahan pada rahim semakin meningkat, termasuk operasi janin dalam rahim. Belakangan ini, di Arab Saudi, operasi pencangkokan rahim telah dilakukan untuk pertama kalinya. Nabi saw. sudah memprediksi semua aspek kehidupan dan teknologi modern sejak 1400 tahun yang silam dan
memprediksi bahwa pada akhir zaman “pemotongan rahim” menjadi hal yang lazim dilakukan.

Kesaksian Palsu

Nabi mengatakan dalam hadis terdahulu bahwa pada akhir zaman, kesaksian palsu (qawl al-zûr) akan menggejala. Kesaksian dusta bisa terjadi di pengadilan ketika seorang saksi disogok, dengan uang, iming-iming kedudukan, atau ampunan, asal memberikan kesaksian tertentu. Bahkan, seorang politisi bisa berkomplot untuk menjatuhkan politisi lainnya dengan menghadirkan para saksi yang memberikan kesaksian yang memberatkan lawan-lawan politiknya. Tidak ada negera yang luput dari praktik seperti itu di pengadilan, di mana kesaksian dapat dicari dengan uang. Jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu, dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (Q 22:30)

Allah menyebutkan kesaksian palsu dalam ayat ini segera setelah menyinggung penyembahan berhala untuk menekankan kegawatannya. Qawl al-zûr tidak terbatas hanya kepada pemberian kesaksian di pengadilan, tetapi secara umum mencakup upaya menyebarkan kebohongan dan menggiring orang lain agar mempercayainya sebagai kebenaran. Dalam skala yang lebih besar, itu mencakup juga berbagai bentuk propaganda dan pencucian otak, untuk tidak menyebut juga berbagai iklan, yang termasuk dalam kriteria qawl al-zûr. Dengan media-media global saat ini, seperti buku, majalah, televisi, dan film, segala pesan dusta dapat disebarluaskan sehingga yang putih tampak hitam dan yang hitam terlihat putih. Inilah penyebaran kebohongan dan pemberian kesaksian palsu, qawl al-zûr.

Kitmân syahâdat al-haqq berarti menyembunyikan kebenaran. Para politisi terkenal dengan kebiasaan mereka menyembunyikan kebenaran agar rakyat bisa dikendalikan dan kekuasaan bisa terus dipegang. Penyakit ini mulai menjangkiti orang kebanyakan yang dewasa ini mudah sekali berdusta dan menyembunyikan kebenaran. Dalam media global, kita sangat sering
menyaksikan bagaimana kebenaran ditutup-tutupi dan kepalsuan disebarluaskan oleh para pembawa berita. Hanya ada segelintir orang baik yang masih tetap jujur, entah mereka adalah wartawan yang meliput berita atau politisi yang mengemban urusan publik.

Penganiayaan Akan Merajalela
Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani

Dalam hadis berikut ini, Nabi saw. menggambarkan bahwa akan datang suatu masa ketika orang akan memiliki kekuasan yang begitu besar atas orang lain, dan akan menggunakan kekuasaannya untuk menyengsarakan orang lain. Abû Hurayrah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda,"Ya Abû Hurayrah, akan datang suatu masa sekiranya kamu hidup pada saat itu, kamu akan menyaksikan orang yang membawa sesuatu seperti ekor lembu jantan di tangannya. Mereka keluar pagi hari dengan diiringi murka Allah dan pulang pada malam hari dengan disertai laknat Allah".

Nabi mengatakan, “Kamu akan menyaksikan orang yang membawa sesuatu seperti ekor lembu jantan ditangannya,” maksudnya mereka akan membawa sesuatu dari kulit di tangan mereka, seperti cemeti. Mereka akan keluar pagi-pagi sekali untuk mencelakakan manusia sambil mendurhakai Allah, dan ia berada dalam kemurkaan-Nya. Mereka keluar pada pagi hari dengan
membawa cemeti di tangan mereka sambil membelakangi jalan Allah dan Nabi-Nya, mendurhakai Allah, dan menentang Nabi-Nya. Ketika mereka kembali pada malam hari (yarûhûna), Allah jijik kepada mereka. Orang itu sendiri mengaku beragama Islam.

Belasan abad yang lalu, Nabi saw. memberikan sebuah isyarat kepada Abû Hurayrah tentang orang-orang seperti itu yang akan datang tidak lama setelah masanya. Meskipun Nabi saw. tahu bahwa orang-orang itu akan muncul pada akhir zaman, bertahun-tahun setelah Abû Hurayrah meninggal, beliau menekankan bahwa akhir zaman tidak akan lama lagi. Sabda Nabi, “Sekiranya kamu masih hidup pada masa itu,” merupakan petunjuk bahwa sebenarnya akhir zaman itu sangat dekat. “Aku diutus menjelang kemunculan Hari Kiamat yang jaraknya seumpama dua jari ini.” Lebih jauh lagi, Nabi saw. menunjukkan perhatiannya kepada para sahabatnya dan semua orang Islam pada semua zaman, bahwa mereka harus mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, yang mungkin akan terjadi kapan saja. ‘Âlî berkata, Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.”

Orang-orang yang beriman harus selalu waspada dan ingat bahwa suatu saat mereka akan menghadapi Hari Pengadilan, karena tidak ada yang tahu kapan mereka akan dipanggil menghadap Penciptanya. Seperti yang difirmankan Allah: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q 31:34)

Secara umum, orang yang hidup pada zaman sekarang ini lalai bahwa mereka akan dipanggil untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Dengan tindakannya yang melanggar ajaran agamanya, manusia pada masa sekarang menjadi penindas dan melecehkan satu sama lain dengan perilaku buruk dan kekasaran mereka. Naluri manusia sebenarnya cenderung kepada kelembutan dan kesopanan, tetapi saat ini manusia hanya memiliki sedikit kasih sayang, cinta damai atau kelembutan. Contoh ideal dalam Islam adalah Nabi Muhammad saw. yang dilukiskan Allah: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(Q 8:4)

Nabi saw. merupakan contoh kerendahan hati dan kelembutan. Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam suatu urusan. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q 3:159)

Saat ini orang-orang Islam tidak mengikuti jalan Nabi, tetapi bersikap kasar dan keras hati. Betapa banyak manusia zaman modern yang bersikap kasar dan keras kepala, dan berbicara dengan nada pedas dan kasar. Orang-orang Islam mulai tidak suka kepada teman dan keluarganya sendiri, dan membuat orang-orang nonmuslim menjauhi Islam. Setan menggunakan kekasaran perilaku itu untuk memicu konflik dan bahkan sepasang teman akrab tiba-tiba memutuskan ikatan persahabatan mereka.

Penafsiran lain hadis ini, menurut Syalabî, adalah bahwa para pemimpin akan terlibat dalam penganiayaan yang merajalela dan pelanggaran hak asasi manusia untuk mempertahankan kedudukan mereka. Hal ini berlaku bagi semua tipe kepemimpinan, apakah raja, sultan, presiden, kepala suku, pemimpin masyarakat, pemimpin politik, pemimpin kelompok keagamaan, atau imam masjid. Orang-orang tersebut akan menjadi pemimpin tiran agar tetap memegang tampuk kepemimpinan. Bahkan, sekiranya kelompok itu hanya terdiri dari tiga orang, seorang pemimpin di antara mereka akan menekan dua orang lainnya. Semua orang yang memegang kendali pimpinan akan berusaha mempertahankan kedudukannya. Pemimpin semacam itu tidak merasa bersalah untuk berkomplot melawan pihak lain agar kekuasaannya bisa bertahan. Mereka akan menggunakan segala cara dan metode atau sistem untuk mempertahankan tampuk kekuasaannya.

Pemimpin semacam itu akan mengangkat orang untuk melindungi posisinya. Mereka ditunjuk untuk menyiksa orang lain, seperti yang digambarkan oleh Nabi saw., “Mereka keluar pagi hari dengan diiringi murka Allah dan pulang pada malam hari dengan disertai laknat Allah.” Bahwa mereka keluar dari rumah pagi hari dan kembali malam hari menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang suruhan. Nabi saw. mengatakan bahwa orang-orang tersebut akan membawa cemeti di tangan mereka, dan melakukan berbagai jenis penyiksaan terhadap manusia-manusia yang tak berdosa. Di berbagai penjara di seluruh penjuru dunia, banyak tahanan yang tak berdosa yang dicambuk dan disiksa. Ada banyak metode penyiksaan, mulai dari cemeti hewan hingga setrum listrik. Pada malam hari, para penyiksa itu pulang ke rumah, dan Allah sangat membenci mereka atas apa yang telah mereka lakukan sepanjang hari, seperti mencambuk, memukul, menyiksa, dan menjebloskan orang tanpa ampun ke dalam penjara.

Orang-orang Islam di mana pun mengalami kesulitan yang luar biasa akibat tindakan orang-orang ini. Para pemimpin tidak sudi membiarkan siapa pun hidup dengan damai, dan para muslim imigran melihat bagaimana orang-orang yang pulang ke negeri mereka dianiaya.
Para pemimpin itu takut pada orang-orang yang tidak mereka kenal, sehingga mereka memenjarakan orang tanpa pandang bulu. Karena ulah mereka, seorang muslim tidak bisa memanjangkan janggutnya di negeri-negeri Islam, dan jika seseorang mengenakan kopyah, ia akan diinterogasi. Bila seseorang salat lima waktu sehari, mereka akan ditanya apakah ia termasuk dalam kelompok tertentu. Di beberapa negara, ada orang yang membawa pemukul dari kayu atau karet yang akan memukul siapa pun yang mereka suka. Nabi saw. mengatakan bahwa orang-orang semacam itu akan membawa cambuk seperti ekor lembu jantan di tangan mereka untuk menyiksa orang, dan hal tersebut telah terjadi sekarang ini.

Kini, tidak ada tempat di muka bumi di mana berbagai bentuk penganiayaan itu tak terjadi. Empat belas abad yang lalu, Nabi saw. telah meramalkan kondisi memilukan yang begitu umum dan belum pernah terjadi sebelumnya ini.Meskipun Nabi saw. dibawa melihat-lihat penghuni neraka, ada dua kelompok penghuni neraka yang tidak diperlihatkan kepada Nabi saw. karena mereka adalah manusia paling buruk dan bertempat di dasar neraka. Allah dan Rasul-Nya sangat marah kepada orang-orang ini yang menyiksa orang lain sehingga mereka tidak dikunjungi Nabi saw. pada malam beliau naik ke langit (miraj).

Abû Hurayrah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, Ada dua jenis penduduk neraka yang tidak aku kunjungi. Yang pertama adalah mereka yang membawa cambuk seperti ekor lembu jantan yang dipakai untuk mencambuk orang. Hadis ini menjelaskan lebih jauh hadis sebelumnya yang menyebutkan bahwa orang-orang tersebut keluar pada pagi hari dan kembali pada malam hari setelah menghabiskan harinya dengan menyiksa orang lain. Perilaku keji semacam itu tidak diperkenankan dalam Islam karena tidak seorangpun punya otoritas untuk memukul dan menyiksa orang lain. Dalam hadis lainnya: ‘Urwah meriwayatkan dari ayahnya bahwa Hisyâm ibn Hakîm ibn Hizâm kebetulan berpapasan dengan beberapa orang di Syria yang telah disuruh berdiri di bawah panas matahari dengan kepala yang dilumuri minyak zaitun. Ia bertanya, Ada apa ini?” Seseorang menjawab, “Mereka sedang dihukum karena tidak membayar kharaj (pajak negara).” Lalu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah berkata, Allah akan menghukum orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia.’”

Nabi saw. memperlihatkan bahwa Allah akan menuntut balas atas nama semua orang yang disiksa, baik muslim maupun nonmuslim. Hadis ini memperlihatkan bahwa Nabi saw., sebagaimana yang dilukiskan Allah, adalah: Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk
menjadi rahmat bagi semesta alam. (Q 21:107) Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Q 34:28)

Orang-orang tidak boleh menghukum dan menyiksa sesama, karena Allah semata yang berhak menghukum. Manusia bisa memutuskan apakah sesuatu benar atau salah, tetapi mereka tidak dapat menjatuhkan hukuman menurut pendapat dan nafsu mereka sendiri. Ada persyaratan rumit, bahkan sering kali sulit dicapai, yang harus dipenuhi sebelum seseorang dijatuhi hukuman atas dasar hukum Islam (syariat), tetapi dewasa ini tidak seorangpun yang mau menerapkannya. Pembahasan ini tidak dimaksudkan sebagai komentar politik terhadap pemerintahan mana pun, tetapi untuk memperlihatkan bahwa peristiwa yang diprediksi Nabi saw. akan terjadi pada akhir zaman ternyata kini telah terjadi.

Nabi Muhammad saw. menjelaskan penyiksaan yang akan terjadi pada akhir zaman. Orang-orang Islam harus mengambil pelajaran dari peringatan beliau. Orang-orang Islam sedang mengalami penyiksaan di negeri mereka sendiri dan dijebloskan ke dalam penjara, dan sering kali tidak pernah dibebaskan. Orang-orang selalu dirundung ketakutan, cemas kalau-kalau ada orang datang dengan tiba-tiba untuk menyiksa mereka. Berkat kasih sayang Allah, orang-orang Islam di beberapa negara hidup dengan damai dan tidak mengalami kesulitan seperti yang dilukiskan tadi.

Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian. (Q 4:59) Orang-orang awam bukanlah presiden atau raja, dan harus mengikuti aturan dan hukum di negara tempat tinggal mereka. Orang Islam tidak diperkenankan mencampuri urusan orang lain. Kewajiban orang Islam adalah menjaga rumah, keluarga, lingkungan dan tidak boleh mengganggu ketenteraman masyarakat. Orang Islam harus mempersiapkan diri menjadi orang saleh, yang Tuhan senang dan rida dengannya.

Nabi saw. bersabda, “Barang siapa mengetahui batasnya, ia harus berhenti di sana.” Orang Islam harus mengetahui batas-batasnya, mengetahui kewajibannya, dan tidak bertindak melebihi batas kemampuannya, yang akan menimbulkan masalah bagi masyarakatnya. Orang Islam tidak boleh campur tangan ketika mereka tidak punya izin atau otoritas untuk terlibat dalam urusan orang lain, jika tidak, dia akan menimbulkan masalah bagi semua orang Islam lainnya