Jumat, 11 Juli 2008

KIAT SHEDEKAH


Thursday, September 20, 2007
Kiat Bersedekah
at 9:31 PM
Nasib manusia di dunia satu dan lain berbeda-beda, ada yang dianugerahi kelonggaran dalam hidupnya, dan ada yang dicoba dengan hidup serba kekurangan. Seyogyanya yang dianugerahi rizki berkecukupan mensyukuri nikmatnya, antara lain dengan menyedekahkan hartanya kepada orang yang berhak. Adapun bagi orang yang dicoba dengan hidup serba kekurangan seyogyanya bersa¬bar dan tetap bekerja keras. Meski demikian kedua¬nya diberi peluang yang sama untuk selalu menguta¬makan orang lain (itsar) sehingga orang miskinpun dianjurkan menyedekahkan hartanya kepada orang lain yang lebih membutuhkan.


Agama Islam menga¬jarkan adab bersedekah sebagai berikut:

1. Sedekah hendaknya diniatkan semata-mata karena Allah SWT (ikhlas).

2. Barang yang disedekahkan hendaknya sesuatu yang berkualitas dan dia sendiri menyukainya (bukan membuang karena sudah tidak suka).

3. Bersedekah secara rahasia itu lebih baik di¬banding sedekah secara terang-terangan.

4. Sedekah diutamakan untuk keluarga/kerabat terlebih dahulu, baru orang lain. Utamakan orang yang paling membutuhkan dan yang paling dekat jaraknya, jarak kekerabatannya dan atau jarak fisiknya.

5. Memilih waktu yang baik dan atau tepat ketika memberikannya, agar pahalanya lebih banyak (misalnya bulan Ramadlan) atau daya gunanya lebih besar (misalnya diberikan tepat ketika sedang dibutuhkan).

6. Rahasia keberhasilan bersedekah sama seperti rahasia keberhasilan bercocok tanam; yaitu (a) mengetahui ilmu cocok tanam, (b) memilih bibit unggul, (c) tanahnya subur, dan (d) dijaga dari hama. Dalam hal bersedekah, orang harus (a) tahu ilmu beramal, yaitu ikhlas, (b) yang dise¬dekahkan berupa harta bermutu dan halal, (c) diberikan kepada orang yang hidup sederhana, bukan pemboros atau penjudi, dan (d) men¬jauhkan diri dari mengungkit-ungkit, apa lagi menyakiti hati orang yang diberi (bi al manni wa al adza).
posted by : Mubarok institute

SAHABAT SEJATI


Sahabat Sejati
at 11:35 PM
Manusia adalah makhluk sosial dimana ia akan menjadi apa dan siapa tergantung dengan apa dan siapa ia bergaul. Secara fitri manusia membutuhkan orang lain; sebagai teman, sebagai partner, sebagai pesaing dan bahkan sebagai lawan. Sahabat sejati adalah orang yang selalu berfikir dan berkehendak baik terhadap sahabatnya. Ia akan memberi dukungan jika ia merasa bahwa dukungannya itu akan mem­bawa kebaikan sahabatnya. Sebaliknya jika sahabat­nya keliru jalan, ia akan berkata tidak! meski pahit diucapkan dan pahit di dengar.

Sahabat yang mate­rialistis biasanya rajin apel dalam keadaan suka, tetapi ia segera menjauh jika sahabatnya dalam kesulitan, ia sahabat hanya dalam suka, tidak dalam duka. Sahabat yang sekerabat biasanya angin-anginan, terkadang mesra, tetapi suatu ketika bisa menjadi musuh, bahkan musuh yang sukar didamaikan. Sahabat sekerabat adalah sahabat sehidup, tetapi belum tentu semati. Hanya sahabat sejati yang biasanya jarang hadir dalam keadaan suka, tetapi justru hadir mem­bela ketika dalam duka. Sahabat sejati adalah sahabat yang terikat oleh nilai-nilai kebajikan, ikhlas dan ibadah. Ketika kita sudah matipun sahabat sejati tetap menjaga nama baik kita, mendoaakan kita. Dialah sahabat sehidup semati, sahabat di dunia dan sahabat di akhirat.
posted by : Mubarok institute

Attitude


MALU
Update : 25 / September / 2005
Edisi 13 Th. 2-2005M/1426H
الحيـــاء الحياء: حلة جمال, وحلية كمال, يحترم في عيون الناس صاحبه, ويزداد قدره, ويعظّم جانبه, وإذا رأى مايكره غضّ بصره عنه. وكلما رأى خيرا قبله وتلقاه. يمتنع عن البغي والعدوان, ويحذر الفسوق والعصيان, يخاطب الناس كأنه منهم في خجل, ويتجنب محارم الله عزّ وجلّ. فمن لبس ثوب الحياء إستوجب من الخلق الثناء, ومالت إليه القلوب, ونال كل أمر محبوب. ومن قلّ حياؤه قلت أحباؤه.

Malu adalah sifat yang baik dan perilaku yang sempurna,yang mulya dalam pandangan manusia bagi pemiliknya,dan menambah kedudukannya, dan diagungkan oleh sekitarnya, dan jika melihat sesuatu yang ia benci, maka ia akan memalingkan penglihatannya,.dan ketika ia melihat sesuatu yang baik maka ia akan memandangnya dan menemuinya, ia senantiasa mencegah dari keburukan dan permusuhan,dan menghindari dari kefasikan dan kemaksiatan,dan jika dirinya dibicarakan oleh manusia maka seolah olah ia merasa malu. Dan selalu terhindar dari larangan larangan Allah ta’ala, maka barang siapa yang mengenakan malu, niscaya ia akan dipuji para mahluk,dan damailah hatinya,dan akan menarik segala yang dicintai,dan barang siapa sedikit sifat malunya maka sedikit pula yang mencintainya.

BERBAKTI PADA IBU BAPAK


Hikmah Berbakti Pada Orang Tua
Update : 16 / Februari / 2006
Edisi 19 Th. 2-2005M/1426H
Suatu hari Nabi Sulaiman as. melakukan perjalanan dengan terbang di udara mengendarai angin yang memang telah patuh pada beliau as. Nabi Sulaiman melayang-layang diatas lautan yang luas. Pada saat Nabi Sulaiman as. mengarahkan pandangannya ke dasar laut yang dalam, disitu terdapat suatu benda yang memantulkan cahaya dan sinarnya naik sampai ke permukaan laut. Nabi Sulaiman as. menyuruh angin untuk berhenti agar beliau bisa lebih seksama mengamati benda tersebut. Saat itu Nabi Sulaiman as. memerintahkan beberapa jin untuk mengambil benda tersebut yang tidak lain adalah sebuah kubah yang sangat indah yang terbuat dari batu zamrud.
Nabi Sulaiman as. sangat heran dan kagum atas keberadaan benda tersebut. Hal ini bukan hanya dikarenakan atas keindahan dan sinarnya yang memancar, tetapi di dalam kubah tersebut terdapat sesuatu yang tersembunyi. Nabi Sulaiman as. Lalu berdo’a, memohon kepada Allah Swt. agar diperlihatkan sesuatu yang ada dalam kubah tersebut. Seketika itu do’a Nabi Sulaiman as. dikabulkan oleh Allah Swt, kubah tersebut mulai terbuka secara perlahan-lahan, dan mulailah terlihat seorang pemuda yang sedang bersujud pada Allah Swt.
Nabi Sulaiman as. lalu bertanya pada pemuda yang terdapat dalam kubah tersebut. Nabi Sulaiman, “Assalamu’alaikum, ki sanak apakah kamu itu manusia malaikat atau jin ? Pemuda, “Aku adalah manusia biasa”. Nabi Sulaiman, “Kalau kamu manusia biasa, mengapa kamu bisa hidup ditempat seperti ini dan apa sebabnya kamu mendapat karomah dan kemuliaan yang sangat mulia ini dari Allah ? Pemuda, “Aku tidak tahu, tetapi sewaktu aku hidup di dunia aku sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuaku. Dahulu aku mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta. Keadaan ibuku sangat lemah, kemanapun aku pergi aku selalu menggendongnya dan aku selalu melayani apapun yang menjadi kebutuhannnya. Suatu hari ibuku berdo’a, “Ya Allah, apabila aku meninggal mendahului anakku nanti, berikanlah kemulyaan padanya, karena aku sangat menyayangi dan mencintainya. Tempatkanlah ia tidak di langit dan tidak di bumi”.
Pada suatu hari, setelah ibuku meninggal, aku berjalan-jalan di tepi laut untuk melihat pemandangan sambil melihat-lihat kekuasaan Allah. Saat itu aku di kejutkan oleh suatu benda yang bercahaya dari dalam laut. Lama-kelamaan benda tersebut naik ke permukaaan dan mulai menepi menghampiriku. Benda yang tidak lain adalah sebuah kubah putih dengan cahaya nya yang berkilauan itu mulai terbuka pintunya dan aku pun masuk ke dalamnya dan saat itulah pintunya tertutup dengan sendirinya. Setelah itu aku tidak tahu apakah aku berada di bumi atau di langit, dan Allah telah mencukupi segala kebutuhanku di dalamnya.
Nabi Sulaiman, “Bagaimana Allah memberikan rizki padamu”? Pemuda, “Ketika aku merasakan lapar maka dinding kubah ini mengeluarkan pohon yang berbuah yang buahnya tiada pernah aku temui di dunia dan di sebelahnya memancarkan air yang putih jernih lebih jernih dari air dunia dan rasanya lebih manis dari madu dan setelah aku merasa kenyang maka pohon serta mata air tadi kembali masuk dalam dinding kubah”. Nabi Sulaiman, “Bagaimana kamu mengetahui malam dan siang?” Pemuda, “Jika dinding kubah ini bersinar maka itu bertanda siang hari, dan jika sinarnya hilang maka itu bertanda malam hari”.
Melihat kejadian yang luar biasa itu, Nabi Sulaiman as. memuja dan mengagungkan nama Allah dan berdo’a agar kubah tersebut tertutup kembali dan memerintahkan pada jin untuk mengembalikan kubah tersebut ke asalnya yaitu di dasar laut yang dalam. (An Nawaadir)

KIAT HIDUP


Sederhana dan Berlebihan
20 Juni 2008 18:03:07
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Sikap sederhana, ternyata tidak sederhana. Sikap hidup sederhana tidak sesederhana menasehatkannya. Buktinya, meskipun dari dulu dikampanyekan, belum terlihat ada pendukungnya, kecuali dari kalangan mereka yang memang kesederhanaan sudah menjadi keniscayaan mereka


Sikap sederhana, sedang atau bersahaja adalah sikap tengah yang sangat dianjurkan oleh Islam. Kebalikannya adalah sikap berlebih-lebihan. Berlebih-lebihan dalam hal apa saja dikecam tidak hanya oleh agama.

Mulai dari makan dan minum, Allah melarang kita berlebih-lebihan. “Yaa banii Aadama khudzuu ziinatakum ‘inda kulli masjidin wakuluu wasyrabuu walaa tusrifuu, innahu laa yuhibbul musrifiin” (QS. al-A’raf 6: 31), “Wahai anak-cucu Adam, pakailah busana indahmu di setiap masjid (ketika akan shalat, thawaf, atau ibadah-ibadah yang lain); makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai mereka yang berlebih-lebihan.” Bahkan, bersedekah pun kita tidak boleh berlebih-lebihan (Baca QS. 6: 141)

Dalam surah al-Isra ayat 29, secara metaforik yang indah, Allah memberi pedoman sikap tengah-tengah yang tidak berlebihan di dalam menyikapi harta, tidak bakhil dan tidak boros. Firman-Nya:“Walaa taj’al yadaaka maghluulatan ilaa ‘unuqika walaa tabsuth-haa kullal basthi fataq’udaa maluuman mahsuuraa.” (Dan janganlah jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan terlalu membebernya, nanti kamu dicela dan menyesal).

Kita tidak boleh bakhil, berlebih-lebihan menyayangi harta dan tidak boleh tabdziir, berlebih-lebihan dalam mentasarufkan sesuatu. Tabdziir yang dilarang dan pelakunya disebut sebagai ‘kawan-kawannya para setan’ (QS. 17: 27), biasanya hanya diartikan sebagai berlebih-lebihan mentasarufkan uang atau menghambur-hamburkan uang. Sehingga, sering kali kita saksikan banyak dari kalangan kaum Muslim yang dalam hal uang tidak tabdziir, tapi tanpa sadar suka menghambur-hamburkan air ketika berwudhu, misalnya. Atau, menghambur-hamburkan energi listrik, setiap hari. (Boleh jadi, karena santernya isu krisis energi di dunia saja yang mulai menyadarkan kita akan perlunya bersikap tidak berlebih-lebihan dalam hal ini).

Dalam beragama pun, kita tidak boleh berlebih-lebihan, melampaui batas. Dalam surah al-Maidah ayat 87, Allah berfirman kepada kaum beriman: “Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallaLlahu lakum walaa ta’taduu, innallaha laa yuhibbul mu’tadiin” (Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai mereka yang melampaui batas).

Dalam berjuang fii sabiilillah juga demikian. “Waqaatiluu fii sabiiliLlahi alladziina yuqaatiluunakum walaa ta’taduu, innaLlaha laa yuhibbul mu’tadiin.” (QS. 2: 190) “Dan perangilah-di jalan Allah-mereka yang memerangimu dan jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai mereka yang melampaui batas).

Demikianlah, apabila kita perhatikan firman-firman Allah dan sabda-sabda serta contoh tauladan Rasulullah SAW, jelas sekali bahwa sikap berlebih-lebihan dalam apa saja-termasuk dalam beribadah-sangat dilarang. Berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam banyak hal terbukti sering menimbulkan masalah. Menyukai dunia dan materi berlebihan telah terbukti menjerumuskan banyak kaum dalam bencana. Menyintai dan membenci orang berlebihan telah terbukti banyak menimbulkan problem kemasyarakatan.

Dari sisi lain, orang yang berlebihan, sulit dibayangkan bisa berlaku adil dan istiqamah. Dua hal yang menjadi kunci kebahagian dan kedamaian dunia akhirat.

Kamis, 10 Juli 2008

HARTA

Harta dalam Islam
Penulis : DR. KH. Miftah Faridl

KotaSantri.com : Dalam kehidupan dunia, kita dikelilingi oleh hal-hal atau benda-benda yang kita klaim sebagai milik kita. Keluarga, rumah, pekerjaan, panca indera, harta, ilmu pengetahuan, keahlian, dan lain sebagainya, semua kita sebut sebagai milik kita. Tapi benarkah itu semua milik kita? Sejak kapan semua itu menjadi milik kita?

Memang, berbagai perangkat keduniaan semisal surat-surat resmi bisa menjadi bukti bahwa keluarga, pekerjaan, tanah, dan sebagainya itu adalah milik kita, namun status kepemilikan kita adalah pemilik nisbi. Pemilik mutlak dari segala sesuatu hanyalah Allah SWT. Bahkan, diri kita yang lemah ini pun adalah milikNya.

Hal ini sering dilupakan oleh kita. Kita sering lupa bahwa kita bukanlah pemilik mutlak, sampai-sampai kita bersikap seolah-olah kitalah pemilik sepenuhnya segala hal yang kita anggap milik kita. Sehingga, kita memperlakukannya sesuai dengan selera dan nafsu duniawi kita, bukan disesuaikan dengan keinginan sang pemilik mutlak, yaitu Allah SWT.

Hal itu juga terjadi pada harta. Kita sering lupa bahwa ia hanyalah titipan dari Allah SWT. Di balik itu sebenarnya ada tanggung jawab, ada amanah, bahkan ada sebagian darinya milik orang lain yang harus kita salurkan kembali.

Kala pertama kali menyebarkan Islam di Makkah, salah satu misi Nabi Muhammad SAW adalah memberantas sikap ketergantungan kepada materi yang menjangkiti masyarakat Arab pada waktu itu. Mereka begitu terlena dalam pusaran materialisme hingga sikap dan pandangan hidup mereka senantiasa diwarnai cara pandang materialistis.

Itu menjadi salah satu sebab mengapa dakwah Rasulullah SAW tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Mereka tidak peduli kepada dakwah Rasulullah SAW bukan karena apa yang beliau sampaikan tidak masuk akal atau karena Rasulullah SAW adalah orang yang tidak bisa dipercaya, tetapi karena Rasulullah SAW bukan dari golongan kaya, dimana kala itu Klan Hasyim, keluarga Rasulullah, sedang menurun pamornya. Kaum kafir Makkah hanya ingin mendengarkan kata-kata dari mereka yang berharta. Jadi, begitu kuat pesona harta benda hingga ia mampu menutup cahaya Ilahi (hidayah).

Oleh karenanya, ada beberapa hal yang mesti dicamkan oleh umat Islam dalam menyikapi harta benda, yaitu :

Pertama, harta adalah anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Tidak semua orang mendapatkan kepercayaan dari Allah SWT untuk memikul tanggung jawab amanah harta benda. Karenanya, ia harus disyukuri, sebab jika mampu memikulnya, pahala yang amat besar menanti.

Kedua, harta adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap kondisi, entah baik atau pun buruk, yang kita alami sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT, dan mesti kita hadapi secara baik sesuai dengan keinginan yang memberi amanah. Harta benda yang dititipkan kepada kita juga demikian. Di balik harta melimpah, ada tanggung jawab dan amanah yang mesti ditunaikan. Harta yang tidak dinafkahkan di jalan Allah akan menjadi kotor, karena telah bercampur bagian halal yang merupakan hak pemiliknya dengan bagian haram yang merupakan hak kaum fakir, miskin, dan orang-orang yang kekurangan lainnya. Firman Allah SWT dalam surah at-Taubah (9) ayat 103, "ِAmbillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Ketiga, harta adalah ujian. Yang jadi ujian bukan hanya kemiskinan, tetapi kekayaan juga merupakan ujian. Persoalannya bukan pada kaya atau miskin, tetapi persoalannya adalah bagaimana menghadapinya. Kedua kondisi itu ada pada manusia, yang tujuannya dibalik itu cuma satu, yaitu Allah ingin mengetahui siapa yang terbaik amalannya. Bagi yang berharta, tentunya, ada kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan terhadap harta itu.

Keempat, harta adalah hiasan hidup yang harus diwaspadai. Allah SWT menciptakan bagi manusia banyak hiasan hidup. Keluarga, anak, dan harta benda adalah hiasan hidup. Dengannya, hidup menjadi indah. Namun, patut disadari bahwa pesona keindahan hidup itu sering menyilaukan hingga membutakan mata hati dan membuat manusia lupa kepadaNya, serta lupa kepada tujuan awal penciptaan hiasan itu. Semua itu sebenarnya merupakan titipan dan ujian. Allah SWT berfirman di dalam surah At-Taghabun (64) ayat 15, "Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allah-lah pahala yang besar."

Kelima, harta adalah bekal beribadah. Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Karenanya, segenap perangkat duniawi, baik yang materil maupun yang non materil, tercipta sebagai sarana yang bisa digunakan manusia untuk beribadah. Kekayaan adalah salah satu sarana ibadah. Ia bukan hanya menjadi ibadah kala dinafkahkan di jalan Allah, ia bahkan sudah bernilai ibadah kala manusia dengan ikhlas mencari nafkah untuk keluarganya dan selebihnya untuk kemaslahatan umat. Jika harta dipergunakan sebaik-baiknya, pahala yang amat besar menanti. Namun jika tidak, siksa Allah amatlah pedih.

Di atas terlihat bahwa Islam begitu menekankan harta benda sebagai kepemilikan yang tidak terpusat pada satu atau segolongan orang. Namun, itu tidak bisa dipahami bahwa Islam mengabaikan sama sekali hak individu untuk menikmati harta yang telah diusahakannya dengan susah payah. Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran, surah Al-Isra (17) ayat 29, "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya sehingga kamu menjadi tercela dan menyesal."

Demikianlah, semoga kita tergolong orang-orang yang pandai menyikapi harta benda sesuai dengan ketentuanNya. Aamiin. [Swadaya-032008]
Versi Cetak

TEKNOLOGI INFORMASI



Menguak Motif di Balik Kunjungan Bill Gates ke Indonesia
15/05/2008
Presiden Direktur Microsoft Windows Bill Gates, mengunjungi Indonesia pada 8 Mei lalu. Pemimpin perusahaan pengembang piranti lunak (software) yang dikenal dengan sistem jendela itu menjanjikan kepada pemerintah Indonesia untuk memberikan bantuan produk Microsoft secara gratis untuk kepentingan pendidikan.

Bantuan tersebut diberikan Gates dengan syarat bahwa pemerintah menyediakan komputer murah bagi lembaga-lembaga pendidikan yang akan menerimanya. Murah yang dimaksud untuk harga komputer tersebut adalah 200 dolar Amerika Serikat (AS) per unit komputer. Nilai tersebut kira-kira Rp 1.870.000 dengan asumsi kurs 1 dolar AS sama dengan Rp 9.350.

Bila dilihat harganya memang sangat murah. Besar kemungkinan bisa dijangkau. Tetapi, mari kita coba melihat dulu kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam negeri. Sungguh tidak memungkinkan untuk itu. Di satu sisi, masyarakat diwajibkan memikul beban hidup yang berat. Semakin berat pula akibat naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang juga diikuti naiknya harga-harga bahan pokok lainnya. Dengan demikian, sangat ironis apabila tawaran Gates disanggupi pemerintah. Apalagi pemerintah melakukan pengadaan komputer seharga 200 dolar AS per unit itu dalam jumlah ribuan.

Menurut penulis, hal yang terpenting bagi kita adalah mencoba mencermati dan menelisik tujuan sebenarnya dari seorang Gates yang termasuk dalam daftar orang terkaya nomor 3 di dunia itu. Indonesia, diakui atau tidak, adalah salah satu negara yang masuk dalam kategori ‘surga’ pembajakan, dan produk-produk Microsoft adalah salah satu korbannya.

Melihat kenyataan tersebut, Gates sebagai pucuk pimpinan sebuah perusahaan piranti lunak di dunia itu tidak bisa tinggal diam. Dalam sudut pandang Gates sebagai seorang pebisnis, Indonesia dinilainya sebagai negara berkembang yang memiliki potensi besar untuk lahan tumbuhnya teknologi. Hal penting lainnya adalah kian diminatinya dagangan Gates di Indonesia.

Cara terbaik mengurangi pembajakan piranti lunak adalah dengan membiarkannya dibajak untuk beberapa kurun waktu tertentu, lalu memberikannya secara gratis kepada sasaran yang tepat, yaitu para siswa yang masih dalam tahap pertumbuhan dan pengenalan terhadap penggunaan aplikasi komputer. Sebab, apabila pada masa tersebut seorang siswa sudah terbiasa menggunakan suatu software propetiary (piranti lunak berbayar), maka ia akan mengalami kendala apabila akan menggunakan piranti lunak lain yang non-propetiary, misal, open source (berlisensi umum). Sebaliknya, yang tercipta adalah akibat ketergantungan. Sehingga dengan terpaksa siswa tersebut kelak harus membeli software propetiary apabila akan menggunakan komputernya.

Kita kembali kepada kewajiban pemerintah untuk menyediakan komputer murah seharga 200 dolar AS per unitnya. Harga itu, kemungkinan kecil pasar yang dibidik dapat membeli seperangkat komputer baru. Nilai tersebut adalah harga rata-rata komputer bekas, lalu bagaimana kelanjutannya?

Sekadar perkiraan, berikut penulis ilustrasikan perbedaan budaya penggunaan komputer di negeri ini dengan di negara tempat tinggal Gates. Di Indonesia, sebuah unit komputer akan tetap digunakan terus bahkan setelah 5 tahun selama masih dapat berfungsi dengan baik. Pemiliknya tidak terlalu memusingkan perkembangan piranti lunak yang semakin pesat. Selama kompatibilitas (baca: kecocokan) masih dapat ditoleransi, maka lebih baik mengalokasikan dana untuk kebutuhan pokok kehidupannya. Sedangkan di negara-negara maju, umur pakai sebuah unit komputer rata-rata tidak lebih dari 3 tahun. Setelah melewati masa itu, maka pemiliknya akan mengganti dengan unit komputer baru yang sudah dapat dipastikan lebih cepat, lebih baik, lebih hemat energi dan lebih berteknologi baru sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja.

Lalu, bagaimana dengan nasib komputer bekasnya? Tentu saja komputer itu akan dijual murah atau bahkan dibuang dengan tujuan untuk didaur ulang. Nah, komputer-komputer bekas dari negara maju itulah yang sebagian beredar di Indonesia. Dikhawatirkan dengan patokan harga 'murah' senilai 200 dolar AS tersebut, bila pemerintah menerima tawarannya, maka harus melakukan impor komputer bekas (refurbished) tersebut dari negara maju, seperti AS.

Tawaran Gates kepada pemerintah untuk membantu pendidikan di negeri ini ada baiknya, sebab pemerintah sendiri masih mengalami kesulitan untuk melakukannya. Namun, lebih bijak lagi agar lebih berhati-hati menerima sebuah tawaran dengan tidak melupakan bahwa bagaimana pun Gates seorang pebisnis. Misinya, berdagang dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pelanggan tetapnya. Akan lebih baik bila pemerintah dapat lebih mengkaji kembali persyaratan yang diajukan Gates. Jangan sampai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa justru berbalik menjadi pembodohan dengan membiarkan generasi muda terdoktrin program-program temuan kaum kapitalis sehingga cakrawala berpikirnya menjadi sempit.

Karena di satu sisi, pemerintah juga sedang mengembangkan suatu program berbasis open source yang relatif murah dan bahkan gratis yang bernama Indonesia Goes Open Source (IGOS). Peranti lunak itu berbasis Linux dan IGOS merupakan salah satu karya putra-putri terbaik bangsa ini. (Ardyan Novanto Arnowo)

« Kembali ke arsip Teknologi Informasi | Print